|
Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
|





Ahad, 8 September 2013 pukul 19:00 WIB
Penulis : Syaifoel Hardy
Lebaran kemarin, konsumsi makanan dan aneka kebutuhan lainnya melonjak tajam. Otomatis diikuti oleh jumlah sampah yang melimpah. Sementara sang petugas pengangkut sampah, utamanya di kota, banyak yang mudik. Minimal, kalaupun mereka tinggal juga di kota, sedang libur. Sangat kurang fair apabila di hari Raya Fitri ini sang petugas tidak diberikan waktu untuk menikmati Lebaran.
Alhasil, banyak tong sampah yang penuh, hingga kantong-kantong plastik yang berisi sampah harus rela tidak diletakkan pada tempatnya.
Di kampung, kami sudah sepakat untuk memberikan hadiah Lebaran. Setiap keluarga (rumah) iuran, kemudian dikumpulkan dan diberikan dalam bentuk uang, diberikan Pak Tukang Pengangkut Sampah ini, sebagai Tunjangan Hari Raya (THR).
Mungkin sekali beberapa keluarga lain menyediakan THR secara terpisah, termasuk saya. Rasanya, suasana di akhir bulan Suci Ramadhan ini, pada saat Lebaran, dirasakan oleh mereka tukang angkut sampah, benar-benar memberikan berkah, karena tidak setiap bulan mendapatkan rejeki yang sama.
Yang saya amati, bukan hanya orang-orang yang menggeluti sampah ini, yang dipandang rendah oleh masyarakat. ‘Profesi’ yang dianggap sebagai ladang kerja, yang tidak membutuhkan pendidikan dan keterampilan khusus.
Saya melihat di sektor keamanan sebagai contoh lainnya.
Petugas keamanan (Satpam) di lingkungan kami, juga mendapatkan rejeki serupa. Kami memang iuran setiap bulan, juga pada saat Lebaran tiba, buat mereka. Ada dua orang Satpam di kompleks perumahan tempat kami tinggal.
Satu lagi, lainnya, pedagang kecil. Adalah Mbok Mi, seorang nenek tua di Pasar Singosari - Malang. Nenek yang satu ini adalah satu di antara puluhan perempuan usia tua berdagang di tengah pasar pusat Singosari. Mbok Mi hanya berjualan Lontong. Pedagang kelas kecil semacam beliau bisa kita bayangkan seberapa besar keuntungan per harinya.
Sehari sebelum Lebaran, seorang perempuan menemuinya, memberikan ‘Paket Lebaran’ buatnya. Sebagai ungkapan ‘perhatian’ kepada beliau di usia tuanya. Tidak banyak jumlahnya. Namun, barangkali rejeki yang sedikit ini sempat memberikan rasa bahagia kepadanya. Tanpa menunggu dagangannya habis, beliau segera ‘menutup’ kemudian pulang.
Mbok Mi menjajakan Lontong di atas selembar plastik berukuran sekitar 2 x 1,5 meter.
Tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana di sebuah desa sekitar 10 km dari pusat kota Singosari. Puteri semata wayangnya sudah berumah tangga dan tinggal terpisah. Suaminya sudah lama meninggal. Jadilah Mbok Mi tinggal sendiri di rumah.
Meski demikian, daya juang menghadapi kehidupan ini, tetap tinggi. Hal ini ditunjukkanya dengan cara berusaha membuka usaha dagang, sekedar jualan Lontong.
Ketiga ‘profesional’ yang saya sebut di atas : tukang pengangkut sampah, Satpam, dan penjual Lontong eceran, jika boleh saya katakan pendapatannya minim. Sangat mungkin sekali mereka tidak mengenyam pendidikan tingkat menengah, meskipun ada seorang tetangga yang membuka gerobak yang berijazah sarjana.
Ajaibnya, tanpa mengantongi ijazah dan hanya bermodalkan keterampilan sederhana serta bekerja di level rendah, orang-orang seperti mereka bisa memiliki rumah. Terlepas dari apapun bentuk bangunan dan ukuran rumah mereka.
Rumah Mbok Mi beralaskan tanah, persis sama dengan milik seorang sahabat saya. Yang penting bersih dan terawat. Dan, yang tidak kalah pentingnya lagi adalah mensyukuri nikmat. Kata terakhir inilah yang menjadi kunci, agar kita hidup tidak sarat dengan keluhan dan kekecewaan menerima kenyataan hidup.
Yang ingin saya garis bawahi dari cerita singkat di atas lewat aktivitas tiga orang ‘profesional’ tersebut adalah, bahwa sejatinya untuk menjadi ‘orang’ dalam hidup ini tidak harus pinter-pinter banget.
Jika hanya ingin punya uang dan rumah saja, dengan berpredikat hanya sebagai tukang pengangkut sampah saja, bisa. Dengan cukup menjaga perumahan di kampung-kampungpun, penghasilan dan rumah juga sanggup terbeli. Dan, dengan jualan lontong, juga hidup bisa tercukupi.
Kalau soal kebutuhan hidup sekunder, itu relatif. Ada orang-orang yang dalam kesehariannya tidak butuh televisi. Ada yang tidak perlu komputer. Ada yang menganggap HP hanya bikin pusing kepala. Ada yang menyebut internet sebagai kegiatan orang yang kurang kerjaan.
Jadi, apa yang bagi sementara orang sebagai suatu kebutuhan, bagi orang lain mungkin tidak. Bagi sementara orang merupakan tuntutan hasrat hidup, bagi lainnya justru penghambat kelancaran hidup. Tegantung persepsi, dari sudut pandang mana kita melihatnya.
Oleh karenanya, kita harus bijak dalam mendesain sebuah kerangka perencanaan masa depan kehidupan ini. Bila tujuan hidup cuma ingin membangun rumah dan punya uang, apa harus sekolah sampai tingkat tinggi?
Pendidikan memang penting, tetapi apa harus mengantongi sebuah pasca sarjana jika pada akhirnya disimpan dalam almari?
Jika tujuan hidup menjadi petani, apabila hanya dengan berijazah SMK Pertanian sudah cukup, mengapa harus bersusah-payah mengejar IPB? Apabila menjadi penulis bisa ditempuh lewat jalur kursus, mengapa mesti mengejar S2 Sastra? Apabila ingin membuka salon bisa diterobos pendidikan informal, mengapa orangtua mesti ngotot anaknya kuliah dengan biaya berjuta Rupiah?
Kecuali jika cita-cita kita menjadi dosen, manajer, atau supervisor di lembaga atau institusi di mana tuntutan minimal pendidikan selevel sarjana merupakan keharusan, tidak ada pilihan lain. Harus sekolah setinggi-tingginya.
Toh, pada akhirnya, tujuan utama hidup ini adalah ingin masuk surga?
Mindset seperti inilah yang perlu kita pelajari bersama. Oleh orangtua, juga generasi muda. Agar jangan sampai perolehan hasil pendidikan tidak ada relevansinya dengan cita-cita yang kita idamkan.
Pembaca…
Saya sangat sedih, saat dalam sebuah perjalanan di tengah kota Tulungagung beberapa waktu lalu, di tengah malam, melihat jajaran anak-anak muda, sibuk dan ramai, dibarengi musik, memadati sebuah rumah terbuka. Ketika mendekat, mereka asyik bermain Computer Games. Padahal jam sudah menunjukkan angka sebelas malam.
Saya tidak mengerti, apakah ini kemauan mereka atau tidak ada kontrol dari orangtuanya?
Semoga kisah Mbok Mi, Tukang Angkut Sampah, dan Satpam di atas bisa dijadikan hikmah, bahwa proses meraih tujuan hidup itu, sangat simple.
Mau sukses, sederhana, kaya, bersenang-senang, cukup jadi kepala keluarga, ingin posisi pejabat, atau yang penting masuk surga? Semuanya, sebenarnya, memungkinkan dicapai dengan tidak harus pinter-pinter banget! Bisa dibikin mudah. Bisa pula susah!
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Syaifoel Hardy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.