|
Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
|





Senin, 2 September 2013 pukul 19:19 WIB
Penulis : Syaifoel Hardy
Jika anda mengatakan bahwa saya butuh uang, tentu saya jawab, ‘Ya!’
Bukan hanya itu! Saya juga membutuhkannya dalam jumlah banyak!
Uang tersebut akan saya gunakan untuk berbagai kepentingan, memenuhi kebutuhan pribadi dan orang-orang terdekat. Selain, tentu saja, pengembangan bisnis.
Siapa yang tidak ‘hijau mata’ melihat uang di era sekarang ini?
Akan tetapi, saya salah!
Setidaknya itulah kesan yang saya dapat dari seorang yang pernah saya kenal lebih dari dua puluh tahun silam.
Mengenakan celana Jeans dan T-Shirt bekas, yang saya paketkan setahun lalu, sempat bikin saya memiliki rasa ‘salah’.
Mengapa harus bekas? Karena itulah permintaannya. Dia tidak pernah meminta bahan pakaian yang baru. Toh, katanya, nanti akan dipakai untuk tidur atau ke sawah. Dalam beberapa pekan saja, sesudah dipakai, akan ludes dan tidak akan bisa dikenakan lagi.
Belum lagi ketika pemandangan saya tertuju kepada bagian bawah, alas kakinya. Sesudah melangkah beberapa meter. Pandangan saya terpanah pada sepasang sandal jepit hijau yang sudah nampak tua, yang dikenakan dalam perjalanan selama lebih dari 10 jam ke rumah.
Setelah melihatnya, saya punya rencana untuk mengganti sandal jepitnya. Hemat saya, sudah tidak layak pakai. Nampaknya, dia tidak peduli apa kata orang tentang sandalnya.
Sore hari, tanpa sepengetahuan saya, dia mengajak salah seorang sepupu saya, ke luar. Ternyata, pergi untuk mencari sandal baru di toko, yang lebih pantas dipakai. Maklum, kejadian ini berlangsung pada Hari Raya Idul Fitri, hari kedua.
Kembali lagi, ada rasa salah, lantaran saya tidak bisa bersikap sebagai tuan rumah yang baik, dengan menyediakan sandal baginya.
Saat telepon kemarin, saya sempat bertanya, apakah dia punya sebuah sarung yang usianya bisa lebih dari 10 tahun. Dia jawab, jangankan sarung yang dari bahan kain, kayu saja, katanya, di tempat di mana dia tinggal, di Trenggalek Selatan, bisa cepat aus, gampang rapuh. Saya katakan bahwa sarung milik mendiang Bapak kami, masih saya simpan, meski tidak bisa lagi dipakai.
Mungkin orang-orang kayak saya, dalam pikirannya, lebih mengutamakan pola pikir ‘museum’ ketimbang cara pikir praktis, yang justru dimiliki oleh orang-orang seperti dia, Pak Mingan namanya.
Jadinya, rasa salah kembali menyelimuti batin ini, lantaran menyangka beliau cermat dalam memelihara barang-barang yang sebenarnya ‘tidak’ berharga.
Bersama seorang tetangganya, saya minta Pak Mingan memperbaiki beberapa bagian rumah yang perlu dibenahi dan dirapikan. Beliau identifikasi kebutuhan barang-barang yang harus dibeli guna building maintenance ini.
Pekerjaan yang terkait dengan tukang-menukang pun berlangsung, hingga empat hari lamanya. Saya merasa nyaman, karena tukang yang saya kenal. ‘Proyek’ perbaikan ini berlangsung mulus saja.
Hari terakhir tiba, meski masih ada sejumlah kerjaan yang harus diselesaikan, yang kemudian didelegasikan kepada seorang tukang lagi. Empat hari lamanya kami sepakat, karena dia harus berpartisipasi dalam acara hajat seorang tetangga di desanya.
Beberapa saat sebelum pamitan, saya terkejut. Pak Mingan menolak dengan halus pemberian uang hasil kerjanya selama di rumah. Dia hanya ambil beberapa lembar untuk ‘bayaran’ teman kerjanya. Seraya berkata,: “Saya tidak membutuhkannya. Bapak lebih butuh ketimbang saya. Untuk kepentingan transportasi saja, cukup!” Katanya lirih.
Saya merasa ditampar dalam menyikapi responnya. Seolah lupa, betapa rendah nilai diri ini di hadapannya!
Pesan moral yang saya dapat dari seorang yang tidak mengenyam pendidikan di bangku formal ini mengindikasikan kualitas tingkatan jiwa, melebihi seorang professor atau guru besar sebuah perguruan tinggi terkenal. Dosen, professor, guru besar, malah acapkali menempatkan bisnis selalu di baris depan dalam hampir setiap urusan professional mereka.
Saya pribadi malah terlena dengan gemerlap dan fananya kehidupan ini. Sementara seorang Samingan, sungguh beda dan sulit dicari tandingannya di era modern ini.
Sungguh, saya salah sangka!
Di zaman yang sebagian besar manusia mengukur segala sesuatu dengan duit ini, masih bisa ditemui orang-orang semacam Pak Mingan, yang tidak mau jasanya ‘dinilai’ dengan uang.
Orangnya cerdik dalam artian moral. Beliau mampu menempatkan arti persaudaraan sejati. Padahal kami tidak pernah kenal sebelumnya. Kami tidak memiliki hubungan persaudaraan sama sekali, kecuali seiman.
Beliau tidak pula punya riwayat hutang budi kepada saya. Saat istrinya harus dioperasi kandungannya, beberapa bulan lalu, saya tidak tahu. Jangankan memberikan sejumlah sumbangan meringankan biayanya, untuk menjenguknya saja, tidak! Sebaliknya, beliau dulu jasanya besar terhadap perkembangan profesi, saat saya 'melanglang' bekerja di desanya.
Sikap mulianya abadi tertanam dalam diri saya. Budi luhurnya bisa menjadi cermin bagi kita, karena jasanya terhadap orang lain tidak bakal ‘terhapus’ oleh pembayaran balas jasa dengan sejumlah lembaran Rupiah.
Lapisan perasaan bersalah ini, sudah tidak lagi bisa terhitung jumlahnya.
Jangankan membandingkan dengan pribadi Rasulullah SAW, Nabi-nabi dan para Sahabat yang sangat mulia. Dengan Pak Mingan saja, yang saya akui sebagai saudara, sulit rasanya menempatkan diri ini.
Jadi, saya harus bertengger di baris kebaikan yang mana?
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Syaifoel Hardy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.