|
QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
|





Kamis, 15 Agustus 2013 pukul 20:02 WIB
Penulis : Radinal Mukhtar Harahap
Lepas dari kuliah, niscaya, tidak ada lagi kelas khusus yang harus saya tempuh untuk meningkatkan pengetahuan dan menambah keilmuan. Apatah lagi, saat ini, saya diamanahkan untuk menjadi salah satu pendidik di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Saya merasa bahwa terkadang sedikit merugi ketika berapi-api mengajak murid-murid saya untuk belajar namun sedikit lupa untuk meng-update ilmu saya sendiri.
Belum lama ini, saya meluncurkan buku solo saya yang ke-4 berjudul I Love Study: Belajar Sampai Mati, Belajar Untuk Mengabdi. Di satu sisi, tentu saya merasa bangga bisa kembali menebarkan pemikiran-pemikiran saya dalam bentuk tulisan. Tapi, di sisi lain, saya semakin benar-benar harus mengaca diri. Sudahkah saya menjadi contoh yang baik dalam belajar? Benarkah saya telah mencintai proses belajar?
Benar bila kemudian ada yang mengatakan kalau tulisan pribadi terkadang dapat menjadi cita-cita yang diikrarkan. Dibanding cita-cita yang disembunyikan dalam hati, tentu cita-cita yang diikrarkan memiliki dorongan yang lebih kuat. Namun, berkali-kali ini saya tanyakan, sudah cukupkah saya dapat dijadikan teladan dalam pembelajaran?
Ah, mengeluh tentu bukan hal yang baik. Ketimbang mengeluh, mengambil pelajaran dari setiap hal tentu lebih bernilai positif. Dimulai dari pertanyaan-pertanyaan yang telah saya ungkapkan sebelumnya, saya mulai kebiasaan baru: mencoba ikut berdiskusi dan mendengarkan ilmu dari ustaz-ustaz yang keilmuannya begitu dalam.
Pertama: saya mulai intensif mendengar rekaman kajian ustaz-ustaz yang ada di internet untuk kemudian mencari-cari referensi yang sesuai dengan apa yang dibicarakan ustaz tersebut. Ada banyak ilmu yang saya dapatkan melalui ini, namun kekurangannya, saya tidak mendapatkan kesempatan bertanya. Padahal, bukankah bertanya itu kunci ilmu?
Right! Untuk memenuhi kemauan saya bertanya, saya bertanya pada ustaz-ustaz yang ada di Pesantren. Seorang ustaz saya, namanya Ust. H. Qosim Nurseha Dzulhadi Lc., MA sering menjadi teman sharing dalam berdiskusi. Nah, bersyukurnya saya, ketika mendekati beliau saya sering dibawa dalam diskusi-diskusi kecil yang beliau lakukan dengan jama'ahnya.
Ah, saya begitu iri ketika berjumpa dengan jama'ah-jamaah beliau yang di beberapa forum sedikit sekali jumlahnya, namun semangat diskusinya begitu besar. Bahkan, ada jama'ah beliau yang hanya berjumlah 4 orang, tambah saya jadi 5, beliau dihitung jadi 6 orang, tapi semangat dalam mengkaji suatu permasalahan. Padahal, 4 orang itu hanya rekan kerja.
Melihat mereka, ikut diskusi bersama mereka, saya merasa malu. Malu sebagai pendidik bila tidak giat belajar. Malu sebagai penulis buku yang mengajak belajar tatkala ada rasa malas untuk belajar. Malu menjadi seorang pembelajar padahal itulah alasan kenapa kita diutus dimuka bumi ini.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Radinal Mukhtar Harahap sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.