HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Alamat Akun
http://radinal.kotasantri.com
Bergabung
31 Oktober 2009 pukul 05:48 WIB
Domisili
Medan - Sumatera Utara
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Radinal Lainnya
Apakah Takdir Allah Benar-benar Bisa Diubah?
27 Februari 2013 pukul 13:00 WIB
Kata Orang Aku Mirip Nabi Ibrahim
25 November 2012 pukul 12:00 WIB
Mengapa Semangat Menulis, Turun dan Naik?
23 November 2012 pukul 15:00 WIB
Bilik
Bilik » Pena

Jum'at, 3 Mei 2013 pukul 23:00 WIB

Untuk Anda yang Mau Lancar Menulis

Penulis : Radinal Mukhtar Harahap

Namanya Joan Didion. Lahir 5 Desember 1934 di Sacramento, California, dari pasangan Frank Reese dan Eduene (Jerrett) Didion. Ayahnya terlibat Perang Dunia II dalam Army Air Corps, dan karena itu pula sejak kecil, ia tidak pernah masuk taman kanak-kanak dan sekolah dasar dengan teratur. Namun dia mengakui bahwa hal itu tidak memiliki pengaruh besar pada dirinya untuk menjadi gagal. Melainkan, dengan pengalaman itu, ia dapat menuliskan novel berdasarkan kisah nyata yang sedang saya baca saat ini.

Berjudul asli Where I Was From, buku yang mendapatkan penghargaan sebagai The Prix Medicis Award pada tahun 2008 ini kemudian diterjemahkan oleh Leinovar dan diterbitkan oleh Ramala Books dengan judul Jalan Panjang Memupus Kedukaan. Berkisah tentang bagaimana Didion dapat keluar dari kedukaannya, buku ini sungguh dapat memompa api semangat dalam diri pembaca agar terus berkobar walau pun tertiup angin kencang.

Saya tidak akan menggambarkan bagaimana isi buku ini secara ringkas, karena tulisan ini bukanlah resensi. Namun saya hanya ingin memuji bagaimana Didion mengalirkan ide-idenya sehingga dapat memengaruhi pembaca. Bahkan Time Magazine memuji dengan mengatakan bahwa tindakan Didion dalam menulis buku ini adalah sebuah tindakan berani yang sempurna. Didion telah berhasil memberikan penjelasan bagi para pembaca untuk tahu apa yang ada dalam pikiran seseorang yang sedang diselimuti oleh kedukaan!

Apa yang menjadikan Didion mampu melakukan hal itu? Pada halaman pembuka buku terjemahan ini Didion menjelaskan dengan sangat indah. Penjelasan yang akan membuat setiap pembaca terpukau sehingga mengetahui bagaimana agar penulis dapan menuangkan idenya dengan sangat lancar!

***

Kita hentikan terlebih dahulu membicarakan Didion. Saya ingin mengajak Anda untuk bersama-sama mengingat sebuah pertanyaan yang paling banyak diutarakan oleh mereka yang ingin menjadi penulis.

"Dari dulu saya ingin menjadi seorang penulis. Tetapi entah mengapa, sampai saat ini, saya belum juga menulis. Ide yang ada di kepala saya saat ini sungguh sangat banyak. Tetapi saya bingung akan mulai dari mana menuliskannya. Ada saran?"

Pertanyaan di atas mungkin sangat sering kita dengar. Bahkan tidak menutup kemungkinan, kita yang bertanya demikian. Ada banyak jawaban akan pertanyaan tersebut, dan jawaban itu tentu bisa saja berbeda.

Saya sering mendengarkan bahwa jawaban untuk pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut!

"Untuk langkah awal, tulislah dahulu segala-galanya. Tumpahkan semua yang ada. Jangan ada yang tersisa. Bahkan tulislah hingga Anda benar-benar tidak tahu akan menulis apalagi. Jangan hiraukan apakah tulisan yang sedang Anda tulis itu dapat dipahami ataukah tidak, karena hal itu akan Anda lakukan pada tahap berikutnya, yaitu editing. Maka menulislah, menulislah, menulislah!"

Saya tidak tahu apakah si penanya puas dengan jawaban seperti itu atau tidak. Namun, sepanjang pengamatan saya, penanya sering memuas-muaskan diri untuk menerima jawaban ini. Faktanya, tidak ada tindak lanjut dari saran tersebut. Si penanya masih tetap bingung pada permasalahannya.

"Menulis itu sih memang menulis. Tetapi ya tetap ada kesusahan. Entah mengapa, permasalahan untuk memulainya dari mana selalu ada. Hmmm...."

***

Baiklah. Tidak perlu berlama-lama lagi untuk mengetahui perkataan Joan Didion dalam menjawab pertanyaan ini. Perkataan Didion ini sangat singkat tetapi mempunyai arti yang mendalam. Saya tidak akan membahasnya agar kita dapat merenung bersama. Simaklah, renungilah, dan selamat mencoba!

"Yang menyebabkan kalimat pertama begitu sulit adalah karena kamu terpaku padanya. Semua yang lain akan mengalir dari kalimat itu."

Suka
ielya Himma Azzahra menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Radinal Mukhtar Harahap sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Teguh Yulyono | CSA Dubai Airport
Saya sangat gembira kembali bisa membuka dan membaca tulisan rekan-rekan yang memberikan pencerahan. Untuk admin : U R survival after so long with many challenges. Keep it up your spirit, your website had changed a lot of people who read articles on it. One of them is me. Thank you so much. Insya Allah bisa menjadi amalan kebaikan dan mendapat nilai yang sempurna di mata Allah SWT.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1233 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels