|
HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
|
|
|
http://arryrahmawan.net |
|
contact@arryrahmawan.net |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
|
arry_tiui09 |
|
arry.rahmawan@windowslive.com |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
http://twitter.com/arryrahmawan |





Kamis, 28 Maret 2013 pukul 10:00 WIB
Penulis : Arry Rahmawan
Beberapa waktu lalu, saya sempat salah melakukan investasi dan mendapatkan kerugian mulai dari puluhan hingga ratusan US dollar. Pada waktu itu saya ingin mencoba untuk bermain dalam saham , namun karena belum memiliki ilmunya, saya terkena short run yang akhirnya saya kehilangan beberapa ratus dollar dalam sekejap. Waktu itu awal bermain saham adalah karena saya mengira bahwa itu mudah dan hasilnya memang bisa besar.
Kegagalan itu menyebabkan saya sedikit lebih berhati-hati dalam menyusun strategi untuk kesempatan berikutnya. Saya yakin bahwa setiap kesalahan dan kegagalan adalah belajar. Membuat kegagalan berarti kita akan menemukan sekurang-kurangnya sebuah cara yang lebih baik dari sebelumnya.
Saya jadi teringat sewaktu masa SMP dan SMA dulu. Kalau ada guru kita yang bertanya dan menyuruh kita untuk ke depan kelas mengerjakan soal, maka hampir tidak ada yang berani untuk mengacungkan tangan. Mungkin hanya 1 atau 2 orang saja. Begitu pula ketika misalnya ditanya, “Siapa yang bisa?” Hanya satu atau dua orang saja yang mengangkat tangan mereka.
Padahal, saya yakin, yang bisa, jauh lebih banyak daripada itu. Mengapa tidak mengacung? Takut salah dan takut gagal. Selama ini mungkin kita santai-santai saja, namun siapa tahu dalam setiap kesempatan yang datang kita selalu melewatkannya. Alasannya karena takut salah dan gagal.
Berapa sering kita melewatkan kesempatan untuk bisa diperbaiki dan meningkatkan mental kita agar bisa lebih tahan banting? Saya melihat bahwa teman-teman masa SMP saya yang berani untuk mengacung, berani maju ke depan kelas, dan berani untuk menerima kritik serta masukan, sekarang menjadi petinggi-petinggi organisasi di kampusnya. Atau minimal, menjadi orang yang berbeda dan diperhitungkan di kampusnya.
Ternyata dengan kita terbiasa untuk gagal, akan membuat mental kita menjadi lebih baik karena kita akan belajar bagaimana untuk tidak mengulangi hal yang sama. Apalagi jika kita berada dalam seminar-seminar, biasanya pembicara seminar seringkali menawarkan, “Apakah ada yang ingin maju ke depan dan sharing mimpinya?” Biasanya sedikit sekali yang berani melakukan itu. Padahal, dengan kita maju ke depan, kita bisa mendapatkan tambahan feedback agar kita bisa menjadi lebih baik lagi.
Kegagalan yang permanen adalah saat kita takut untuk mencoba karena kita sudah merasa gagal duluan.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Arry Rahmawan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.