|
QS. At-Taubah 9 : 129 : "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung."
|
|
|
http://arryrahmawan.net |
|
contact@arryrahmawan.net |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
|
arry_tiui09 |
|
arry.rahmawan@windowslive.com |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
http://twitter.com/arryrahmawan |





Jum'at, 22 Maret 2013 pukul 10:00 WIB
Penulis : Arry Rahmawan
Entah kenapa, hari ini setelah selesai bimbingan skripsi, saya ingin sekali rasanya cukur rambut. Saya memutuskan hari ini ke tukang cukur rambut langganan saya di daerah Kukel (Kukusan Kelurahan), dekat kampus saya. Sebelum pulang ke Bogor, saya memutuskan untuk mampir sebentar. Waktu itu sore hari, tepatnya sekitar pukul 17.50. Saya kemudian sampai di tempat cukur langganan saya. Saya menyapa si tukang cukur yang sudah berkali-kali melibas rambut di kepala saya. Namun hari ini saya mendapat respon yang sangat tidak saya duga dari tukang cukur itu.
“Mas, saya mau cukur ya.”
Tukang cukur itu menatap saya, kemudian berkata kepada saya, “Tanggung, mas. Kita shalat maghrib dulu ya. Kasihan nanti, selain waktu shalat masnya jadi mundur, kepala masnya juga nanti kotor sama serpihan rambut. Mending kita shalat dulu. Gimana?”
Padahal waktu itu saya perlu menunggu sekitar 10 menit lagi hingga adzan berkumandang. Sebagai customer, bisa saja saya protes. Orang mau cukur kok ya gak dilayani? Bukannya cukur mencukur paling lama juga 20 menit? Gak jauh-jauh kok dari waktu adzan berkumandang.
Bagaimana perasaan saya waktu itu? Marahkah? Ya, tentu saja. Saya marah kepada diri saya sendiri. Saya merasa tergampar bolak-balik. Kenapa? Pertama, saya adalah seorang yang secara profesional bekerja sebagai seorang talent development trainer, yang salah satu materi yang saya bawakan adalah spitirual meaning di mana kita semua adalah makhluk yang secara fitrah itu hidup untuk mengabdi kepada Tuhannya. Bagaimana mungkin saya bisa lupa, apalagi saya diingatkan oleh seorang tukang cukur, yang asumsi saya adalah pekerjaannya tidak berurusan langsung dengan dakwah-dakwah semacam itu.
Kedua, adalah caranya menyampaikan. Sebenarnya, saya yakin sang tukang cukur adalah seorang yang memang shalat tepat waktu secara pribadi. Namun, alasan yang diberikan seolah itu untuk kepentingan saya. Dia berusaha untuk memberikan pengertian, bahwa jika saya tidak shalat maghrib dulu, berarti saya yang rugi. Asumsi saya, tukang cukur ini tidak belajar bagaimana cara berkomunikasi dengan pelanggan atau teknik negosisasi yang efektif. Namun alasan yang dia tawarkan membuat saya tidak bisa menolak dan membuat saya skakmat.
Akhirnya ceritapun berakhir manis. Saya mencari masjid dekat situ, saya shalat, kemudian saya cukur rambut sesuai dengan yang saya inginkan. Ternyata memang saya tidak salah memilih tukang cukur sejak dulu. Baru kali ini saya merasa Allah menegur saya bahwa bisa jadi, derajat tukang cukur itu di mata Allah jauh lebih baik dari diri saya pribadi.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Arry Rahmawan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.