|
Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
|
|
|
http://ayyesha97.multiply.com |
|
|
ayyesha97 |





Senin, 14 Mei 2012 pukul 08:00 WIB
Penulis : Ajeng Miftahul Jannah
"Ikhlas."
Gampang banget ya kedengerannya.
Tapi seperti kata Haji Romli pada Pandi di KSD, implementasinya gak mudah lho. Menurut pak Aji, lebih sulit ikhlas menerima kondisi kita dibanding kita ikhlas menerima orang lain.
Ketidakpedean atas diri kita, terus menerus merasa rendah diri. Itu bukti kita tidak ikhlas menerima diri kita apa adanya. Bukannya jadi solusi keluar dari masalah, malah kita bakalan terus merasa terjepit, gak bakalan pernah merasa bahagia, dijamin deh!
Atau, saat kita tidak ikhlas melihat kebahagiaan orang lain, alias iri. Kita kadang terlalu pengecut untuk mengakui kekurangan diri kita. Kita terlalu takut untuk melihat, seberapa ‘kerdilnya’ kita. Kita takut orang lain tahu, betapa kita tidak sebaik yang mereka kira.
Saya pernah ngalamin, ketika milad beberapa tahun lalu, seorang sahabat bilang, “Gak usah pake pesta-pesta, tulis apa kekurangan kamu yang kamu rasakan, trus bingkai, simpan di kamar, maka kamu akan terus berusaha menghilangkan setiap sifat yang ada di daftar itu setiap kali kamu melihatnya.”
Tapi nyatanya, saya terlalu takut untuk mengakui, bahwa betapa masih banyak kekurangan yang ada pada diri saya. Setelah bertahun-tahun kemudian, saya baru berani mendata apa yang saya rasa jadi kekurangan saya, itupun belum berani saya print kemudian dipasang pake pigura. Paling tidak, saya sekarang berani mengakui, bahwa saya masih memiliki banyak kekurangan.
Apakah itu berarti saya sudah ikhlas dengan kondisi saya? Entahlah… Tapi implementasinya sama, keinginan untuk terus memperbaiki diri sedikit demi sedikit mulai bertambah.
Kembali ke soal ikhlas, terutama ikhlas dalam menerima pasangan, saya sering kali kagum terhadap teman-teman yang ikhlas menerima calon pasangan yang ditunjukan padanya.
Keinginan mendapat calon istri yang usianya di bawah atau lebih muda memang gak salah, apalagi itu sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Makanya, ketika ada yang berani mengambil keputusan untuk menikah dengan akhwat yang usianya lebih tua, saya selalu mengacungi jempol buat mereka.
Beberapa sahabat saya sudah membuktikannya. Apakah ada kesenjangan? Saya rasa tidak.
Seorang kakak, memberanikan diri melamar akhwat yang usianya lebih tua, lulusan S1, padahal dia sendiri hanya lulusan STM, gaji hanya 150 ribu rupiah sebulan. Untuk ukuran Jakarta, cukup untuk apa? Tapi subhanallah, keikhlasan si ikhwan dan keikhlasan calon istri serta keluarganya menerima si ikhwan, telah memeberi lebih dari apa yang mereka harapkan.
Ah… bukan satu saja mereka contoh yang harus diteladani.
Sungguh, saya tidak sanggup menyebut nama mereka satu-satu, karena ketawadhuan mereka, keikhlasan mereka mengulurkan tangan membantu sesama, komitmen mereka terhadap dakwah, belum bisa saya tiru.
Dan hari ini, seorang sahabat lagi, telah membuktikan, bahwa ia berusaha untuk ikhlas menerima apa yang telah Allah takdirkan untuknya. Saya sedikit tahu, bahwa dia termasuk orang yang cukup pemilih. Dengan langkah yang ia ambil saat ini, tentu bukan hal yang mudah.
Saya hanya berharap, keikhlasan mereka dalam menjalani hidupnya dibalas Allah dengan pahala dan rezeki yang tidak mereka sangka-sangka, sebagai bunga dari keikhlasan mereka. Amiin…
Oh ya. Satu hal lagi, "IKHLAS MENERIMA KENYATAAN HIDUP BUKAN BERARTI KITA PASRAH BEGITU SAJA, TAPI DIIRINGI DENGAN IKHTIAR DAN TAWAKKAL"
Ok, guys?
Let’s start it!
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ajeng Miftahul Jannah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.