|
HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
|
|
|
http://ayyesha97.multiply.com |
|
|
ayyesha97 |





Selasa, 8 Mei 2012 pukul 12:00 WIB
Penulis : Ajeng Miftahul Jannah
Saya pernah mendengar, berdosa hukumnya bagi orang yang tidak menghadiri sebuah undangan. Termasuk undangan walimah, saya pikir.
Beberapa bulan lalu, terutama setelah lebaran, undangan walimah datang hampir setiap pekan. Jarang, satu hari bisa bentrok, bahkan sampai 4 tempat.
Bagi saya, datang ke sebuah pernikahan, mempunyai arti tersendiri. Jika saya punya kesempatan (dan rezeki tentunya), saya selalu berusaha menghadiri, meskipun itu cukup jauh. Seseorang pernah bertanya, kok saya mau bela-belain datang, padahal Jakarta - Bandung bukan jarak yang terbilang dekat. Saya hanya tersenyum. Karena mereka sangat berarti, maka saya ingin hadir dalam saat-saat bahagia mereka. Jadi tidak salah kan?
Selain itu, selalu ada hikmah dari setiap undangan. Di antaranya :
1) Mendapat teman-teman baru. Saya pernah baca, lupa di buku apa. Kalau tidak salah, penulisnya Mbak Helvy atau Mbak Asma. Katanya, ada seorang teman mereka yang punya teman banyak sekali. Rahasianya? Setiap menghadiri sebuah undangan atau acara, beliau pasti mendapat minimal seorang kenalan baru, beliau orang yang gemar bersilaturrahim. Sayangnya, saya beda dengan beliau, saya mudah sekali lupa dengan orang-orang yang pernah bersilaturrahim, kecuali orang yang punya ciri atau meninggalkan bekas khusus di hati saya.
2)�Bertemu dengan sahabat-sahabat lama, bahkan dengan orang-orang yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Saya senang dan surprised, ketika bertemu dengan guru-guru SD saya di walimahan seorang saudara. Juga sahabat-sahabat lama yang pernah mengisi lembaran hijrah saya. Atau bahkan bertemu dengan orang-orang yang selama ini hanya saling menyapa di dunia maya.
Entahlah, mungkin terdengar sederhana, biasa saja tidak ada yang istimewa. Tapi tidak bagi saya.
Adakah yang lebih membahagiakan, selalin berbagi kebahagiaan dan berkumpul dengan orang-orang yang berarti di hati kita?
Mungkin ada hikmah-hikmah lain yang belum saya kuak. Dan waktu akan mengantar saya mencarinya.
Wallahu a’lam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ajeng Miftahul Jannah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.