HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya. "
Alamat Akun
http://abisabila.kotasantri.com
Bergabung
30 Oktober 2009 pukul 19:46 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
swasta
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
http://www.abisabila.com
http://facebook.com/abi.sabila
http://twitter.com/AbiSabila
Tulisan Abi Lainnya
Berayah tapi Tak Berbapak
7 Mei 2012 pukul 11:30 WIB
Diingat karena Kebaikannya
30 April 2012 pukul 09:15 WIB
Jangan Gelapkan yang Sudah Terang
27 April 2012 pukul 00:20 WIB
Jangan Tutup Pintu (Hatimu)
16 April 2012 pukul 12:00 WIB
*) Syarat dan Ketentuan Berlaku
10 April 2012 pukul 09:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 10 Mei 2012 pukul 09:00 WIB

Ini Senjataku, Mana Senjatamu?

Penulis : Abi Sabila

Seringnya pemberitaan di televisi mengenai kasus penembakan oleh dan terhadap warga sipil yang terjadi belakangan ini, menarik perhatian rekan-rekan kerjaku untuk menjadikannya sebagai bahan obrolan di sela-sela rutinitas pekerjaan. Meski terkadang asal-asalan dan bahkan sok tahu, tapi ada juga beberapa dari obrolan mereka yang menggugah kesadaranku.

“Membekali diri dengan senjata jelas perlu dan bahkan penting sekali. Ke mana-mana aku selalu membawanya,” ucap salah satu rekan yang mejanya berseberangan denganku. Ia tetap santai walau semua tatapan kini tertuju kepadanya.

“Kamu ke mana-mana membawa senjata? Termasuk kerja juga?” tanya rekan yang mejanya bersebelahan denganku. Pertanyaannya mewakili keterkejutan kami semua.

Yang ditanya mengangguk. “Dulu, sebelum merantau, bapakku berpesan agar ke manapun aku pergi, apapun yang ingin kukerjakan, jangan lupa membawanya serta,” lanjutnya, membuat seisi ruangan makin penasaran.

“Serius?” tanya dua rekan kerjaku berbarengan. Untuk kedua kalinya rekan kerja di depanku mengangguk. Santai.

“Senjata apa yang kamu punya? Keris, belati, atau jangan-jangan senjata api? Dari mana kamu mendapatkannya? Boleh kami melihatnya?” cecar seorang rekan lainnya.

“Sebagian aku dapatkan dari bapak, sebagian lagi dari guru ngajiku.”

Wajah-wajah penasaran makin jelas terlihat. “Bentuknya apa? Bolehkah kami melihatnya?”

“Tidak bisa dilihat, tapi kalian bisa mendengar dan merasakannya.”

Semua jawaban dan juga sikap tenang yang ia tunjukan semakin membuat rekan-rekan lainnya penasaran. Walau aku juga penasaran, tapi aku mulai merasa curiga. Secara pribadi aku kenal cukup dekat rekan kerjaku yang satu ini. Belum pernah sekalipun aku melihat ia membawa senjata. Itu bukan kebiasaannya. Dan berbual juga bukan hobinya. Senjata yang ia maksudkan pastilah tidak seperti yang kami bayangkan. Kamilah yang salah mengartikan kata-katanya. Dan tebakanku terbukti benar setelah sambil terkekeh ia menjelaskan senjata yang ia maksudkan.

“Senjata yang aku punya dan selalu kubawa ke mana-mana tak akan bisa kalian lihat, tapi dapat kalian dengar dan rasakan. Senjataku bukan berbentuk keris, belati, ataupun pistol seperti yang kini ramai diberitakan di televisi. Bapak dan guru ngajiku tak mungkin membekaliku dengan yang seperti itu. Tapi aku yakin, senjataku tak kalah ampuh atau bahkan lebih ampuh dari itu semua.”

Ia berhenti sejenak, seolah menikmati ketegangan yang terpancar dari raut wajah kami.

“Sebenarnya kalian juga punya, tapi mungkin kalian tak menyadari atau jarang menggunakannya. Senjata yang kumaksudkan adalah do'a.”

Kompak rekan-rekan kerjaku ber–yah…, kecewa.

“Lho, benar kan? Kita memang tidak bisa melihat bentuknya tapi bisa mendengar saat dibaca dan juga merasakan efek positif setelah membacanya. Do'a adalah senjata bagi orang yang beriman.”

Semua terdiam, membenarkan apa yang ia katakan. Selama ini kita beranggapan bahwa berbekal senjata tajam adalah cara yang tepat untuk berjaga-jaga dan melindungi diri. Padahal kita mempunyai satu senjata yang jauh lebih ampuh dan jauh lebih bisa diandalkan, yaitu do'a.

Tak perlu pisau, golok, belati, senjata api, ataupun lainnya untuk melindungi diri. Berdo'alah sebelum, selama, dan sesudah beraktifitas, mohon bimbingan, bantuan, dan perlindungan pada Allah agar dimudahkan setiap perkara, dilancarkan setiap urusan, dan dikabulkan apa yang kita upayakan. Sesungguhnya, tak ada satupun senjata yang dapat melukai tubuh kita kecuali Allah yang mengizinkan.

http://www.abisabila.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Anna Fathimah Zakaria | Staf Pengajar
Baru saya sadari, ternyata KotaSantri.com tidak saja memperluas silaturrahim saya dengan teman-teman dari berbagai daerah di seluruh Indonesia (dan mungkin juga luar Indonesia, insya Allah), tapi juga mendidik saya untuk berperilaku lebih baik dan lebih Islami lagi serta mengajarkan saya banyak pengetahuan. Subhanallah...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1484 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels