QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
Alamat Akun
http://suswoyo.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Purwokerto - Jawa Tengah
Pekerjaan
Swasta
Sus Woyo adalah mantan TKI di Brunei Darussalam. Sekarang tinggal di Baturraden, Purwokerto, Jawa Tengah.
Tulisan Sus Lainnya
Tak Ada Kata untuk Berhenti Berjuang
24 Oktober 2011 pukul 09:30 WIB
Cut Nyak Dien, Cut Meutia, dan Cut Tari
19 Mei 2011 pukul 09:05 WIB
Kampus Sang Anak
24 April 2011 pukul 08:35 WIB
Ekspresi Syukur
18 Februari 2011 pukul 09:15 WIB
Pejuang di Negeri Seberang
24 November 2010 pukul 16:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Jum'at, 28 Oktober 2011 pukul 10:00 WIB

Obat itu Bernama Sabar dan Shalat

Penulis : Sus Woyo

Syarief Nur Kholish, 10 bulan, ahirnya harus masuk ke rumah sakit juga. Sebenarnya aku tidak menginginkan anakku masuk ke rumah sakit, jika upaya pengobatan yang telah kulakukan berhasil menyembuhkan penyakitnya.

Terbayang di mataku, bahwa betapa susahnya orang masuk ke rumah sakit. Apalagi bagi “wong cilik” alias kaum dhuafa semacam aku ini. Karena sudah dipastikan harus masuk ruangan kelas paling rendah, kelas pemegang Jamkesmas.

Tiga tahun lalu, Rizkon Nur Zakky, kakaknya Syarief, juga masuk ke rumah sakit dengan penyakit yang hampir sama dengan adiknya ini, yaitu diare. Aku sekeluarga tentunya sangat berterima kasih kepada pemerintah waktu itu, karena semua pengobatan gratis. Tetapi yang paling terbayang di mataku adalah suasana ruangan yang “luar biasa”.

Ukuran ruangan rumah sakit waktu itu adalah 6 X 6 meter, dihuni oleh 8 pasien. Jika yang ada di ruangan itu adalah satu pasien dan satu penunggu saja, rasanya sudah sangat sesak. Apalagi jika waktu besuk tiba, ruangan itu seolah mendadak berubah menjadi pasar saat menjelang Lebaran. Sangat ramai, dan aroma ruangan tersebut berubah menjadi tidak enak. Bayangkan, bercampurnya bau obat dengan bau keringat. Menjadi bau apa?

Dan sekarang inipun tidak berbeda jauh dengan beberapa waktu lalu. Kondisinya masih seperti dulu. Dan saat aku melintasi ruang paviliun, suasananya sangat jauh berbeda. Pasien begitu nyaman dan tak terganggu oleh pasien lain, apalagi oleh keluarga yang besuk. Sangat nyaman, karena satu kamar satu pasien.

Sudahlah! Barangkali memang harus dibedakan. Dan yang paling mencolok dari perbedaaan itu adalah kelas ekonomi. Jadi, siapapun yang punya uang, pilihlah ruangan yang nyaman semaunya. Tetapi sebaliknya, bagi yang tidak mempunyai uang alias miskin, bersyukurlah dengan ruang apapun yang disediakan. Termasuk ruangan yang tanpa AC dan kipas angin serta jika malam hari nyamuk dengan santainya menggigit para pasien.

Ternyata negeri yang kaya raya ini, belum bisa memberikan jaminan kesehatan kepada warga negaranya, dengan sama rata. Artinya, masih harus ada pemisah, antara si kaya dan si miskin. Kita tentunya harus bersama-sama berjuang, untuk berproses yang tiada henti, supaya negeri ini menjadi thayyibatun warabbun ghafur. Sehingga dengan izin Allah SWT siapapun yang sakit mendapat pelayanan pengobatan yang sama.

Malam itu istriku sempat mengeluh, ”Aku tidak bisa istirahat, karena kalau aku tidur, maka nyamuk-nyamuk itu akan dengan lahap menggigit anakku. Harus beli obat nyamuk, pak.”

Aku tersenyum mendengar istriku mengomentari kenyataan ini. Aku tidak bisa mengelak. Aku menjadi ingat beberapa hari yang lalu, saat besuk tetanggaku, yang orang kaya. Betapa nyamannya kamar yang dihuni. Ruangan yang luas. AC yang terus menyala, sehingga tak mungkin ada satupun nyamuk yang berani masuk. Televisi yang siap dihidupkan, kapanpun dibutuhkan. Suasananya sangat hening.

“Sudahlah! Tidak usah mencari-cari obat lain. Sudah terlalu banyak obat yang kita usahakan. Dari obat tradisional sampai obat yang modern. Obat kita tinggal obat yang sejati, yaitu sabar dan shalat.”

Kataku mengutip kalimat yang sering diutarakan para ulama kepada umat, saat memberi semangat kepada orang yang sedang diuji oleh Allah dengan berbagai macam kesusahan dan kesedihan.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

AMMAR Hi HABIB | Mahasiswa
Wadah inspiratif dan motivatif dalam hidup dan menjadi ruang untuk berekspresi.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1274 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels