Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
Alamat Akun
http://suswoyo.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Purwokerto - Jawa Tengah
Pekerjaan
Swasta
Sus Woyo adalah mantan TKI di Brunei Darussalam. Sekarang tinggal di Baturraden, Purwokerto, Jawa Tengah.
Tulisan Sus Lainnya
Kampus Sang Anak
24 April 2011 pukul 08:35 WIB
Ekspresi Syukur
18 Februari 2011 pukul 09:15 WIB
Pejuang di Negeri Seberang
24 November 2010 pukul 16:00 WIB
Ilmu-ilmu yang Berserakan
17 November 2010 pukul 22:00 WIB
Mengobati Kerinduan
8 November 2010 pukul 21:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 19 Mei 2011 pukul 09:05 WIB

Cut Nyak Dien, Cut Meutia, dan Cut Tari

Penulis : Sus Woyo

Sinar matahari yang berwarna kuning keemasan itu masuk melalui celah jendela di ruang kelas lima sebuah sekolah. Seorang perempuan anggun, guru muda di sekolah tersebut, menatap kosong ke arah para murid yang sedang mengerjakan soal.

Ia masih memikirkan pertanyan seorang murid tempo hari, ketika ia menerangkan sejarah perjuangan rakyat Aceh menentang penjajahan di masa lalu. Dan perempuan itu begitu kaget, manakala ia menyebut nama Cut Nyak Dien dan Cut Meutia, karena beberapa murid menambahkannya dengan nama Cut Tari, artis Indonesia berdarah Aceh yang pada pertengahan 2010 namanya melambung berkat sebuah berita yang cukup mencengangkan negeri Indonesia.

“Bu, benarkah Cut Tari itu anaknya Cut Nyak Dien?”

Begitulah pertanyaan dari salah seorang murid kelas lima anak didiknya. Sang guru tak serta merta menjawab. Ia sangat hati-hati menyikapi pertanyaan tersebut.

Ketika masih kuliah dulu, guru muda itu cukup aktif di sebuah organisasi kampus. Ia dan kawan-kawannya sering mengkaji biografi tentang para perempuan yang mempunyai kontribusi besar terhadap negeri ini. Tak ketinggalan juga adalah Cut Nyak Dien dan Cut Meutia. Yang memang kredibilitas dua perempuan ini diakui perjuangannya oleh rakyat Indonesia, dan gelar pahlawan nasional pun disandangnya.

Demi harga diri sebuah bangsa, demi kemandirian sebuah negeri, demi tak terinjak-injaknya hak seorang perempuan oleh penjajah, demi martabat seorang muslim, dua tokoh itu rela mengorbankan harta, nyawa, kesenangan hidup di dunia untuk bergerilya melawan kedzaliman.

Kalau mengingat itu, sang guru merasa teriris-iris hatinya mengingat pertanyaan sang murid. Namun ia tak bisa menyalahkannya, karena di jaman informasi yang begitu global ini, berita apapun bisa diterima oleh anak-anak, tanpa terlebih dahulu dibimbing oleh orangtua.

“Dari mana kamu tahu tentang Cut Tari?”

Ujar sang guru balik bertanya waktu itu. Lantas sang murid menjawab,

“Dari televisi, Bu, dia kan yang ada di video mesum dengan Ariel.”

Sang guru terperanjat lagi. Sudah begitu jauhkan anak seusia dia mengakses berita?

Guru muda itu hanya berharap dalam hati, semoga anak didiknya itu hanya sebatas tahu saja, dan tidak menirunya.

Ia sangat menyadari bahwa banyak generasi saat ini yang lebih mengidolakan siapapun yang ada di layar kaca, ketimbang para pejuang negeri ini yang sudah teruji dalam menapaki hidupnya.

Kita menyadari bersama bahwa kisah selebritis hampir setiap saat dikupas tuntas di media massa, dan dinikmati dengan lahap oleh semua kalangan termasuk anak-anak. Sementara kisah tentang kepahlawanan, tak terasa seolah seperti sudah terpinggirkan.

Adalah kita sebagai orangtua, yang harus siap menjadi dosen, tutor, ustadz, guru, pendamping setia, terhadap segala informasi yang masuk terhadap anak-anak kita. Tentu, kita harus tak bosan untuk senantiasa menambah ilmu, di mana saja dan kapan saja, agar referensi kita menjadi bertambah, sehingga kita bisa menerangkan kepada anak kita, biarpun sama-sama memakai “Cut” di belakang namanya, tapi ternyata ada perbedaan yang sangat jauh.

Cut Nyak Dien dan Cut Meutia, membawa kita ke “aroma” perjuangan yang luar biasa melawan ketidakadilan, kedzaliman, dan harga diri suatu bangsa. Sementara Cut Tari secara tak sadar, sedang membawa generasi ini untuk menebarkan "kejujuran" di wilayah yang dilarang oleh Sang Pencipta.

Suka
Andri Muhammad Darus Saleh menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eko | Karyawan BUMN
Alhamdulillah bisa bergabung lagi setelah 6 bulan aku off. Tulisannya bisa menggugah perasaan kita. Lanjutkan, saudaraku!
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1321 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels