|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|





Jum'at, 18 Februari 2011 pukul 09:15 WIB
Penulis : Sus Woyo
Sore itu, Sarmini mengelilingi seputar rumahnya. Wajahnya ceria dan bibirnya tak henti-henti menebar senyum. Perempuan itu memang pantas untuk selalu menebar senyum, karena gembira.
Awal perkawinannya dengan seorang tukang ojek, membawanya ke samudera kesengsaraan yang menurut dia luar biasa. Namun semua itu sekarang sudah terlewati.
Sebuah angkutan kota, sebidang tanah di tengah kota, delapan kamar kost, dan anak yang sebentar lagi jadi sarjana komputer, menjadi bukti perjuangan perempuan itu untuk mengarungi lautan penderitaan.
Jika menengok perjalanan hidupnya, ia memang hampir stress. Diploma Bahasa Inggris itu, tak mengira kalau jodoh yang diberikan Tuhan padanya adalah seorang yang belum punya pekerjaan.
Bekerja menjadi seorang guru bantu di sebuah sekolah swasta, tak mencukupi kebutuhan keluarga. Saat hamil empat bulan, sang suami menjadi tukang ojek yang mangkal di terminal kota itu. Itupun belum bisa membantu secara signifikan kebutuhan ekonomi keluarganya.
Dan ketika umur kandungan hampir tujuh bulan, peristiwa menyedihkan terjadi pada keluarga Sarmini. Yanto, sang suami ditemukan warga di sekitar rawa tak jauh dari pantai dalam kondisi perut luka dibacok orang. Dan motornya raib entah ke mana.
Sarmini kaget, pikirannya tambah stres. Beberapa hari suaminya tinggal di rumah sakit dengan biaya sendiri. Perempuan itu makin merasakan penderitaan yang luar biasa.
Ketika sembuh, suami Sarmini meninggalkan biaya perawatan yang cukup besar. Dalam kondisi hamil yang makin tua, perempuan itu makin terhimpit kondisi ekonomi. Gaji yang ia terima terlalu kecil untuk menutup kebutuhan yang membengkak gara-gara sang suami masuk rumah sakit.
Kondisi yang sangat terpaksa itu membuat ia ingin bekerja apapun yang penting semua kebutuhan dan hutang bisa tertutup. Tak pernah dalam benaknya ia ingin bekerja sebagai pembantu di Arab Saudi. Namun keadaan yang sangat sakit mampu membuat siapapun membuat sebuah keputusan yang awalnya tak pernah terlintas di dalam otaknya.
Sarmini pergi ke Saudi, tak lama kemudian disusul suaminya sebagai sopir di keluarga tersebut. Anaknya yang masih kecil dititipkan pada adiknya untuk dirawat.
Bukan waktu sebentar untuk mengubah kondisi minus menjadi plus. Butuh waktu yang panjang untuk merubah kondisi terpuruk menjadi bangkit kembali. Butuh perjuangan mental yang besar untuk menjadikan semangat yang hancur menjadi segumpal kekuatan dahsyat.
Sarmini termasuk perempuan kuat yang tak tinggal diam manakala kondisi diri dan keluarganya ada di titik nadzir. Kesengsaraan, tak harus menjadi sesuatu yang diratapi, tetapi suatu proses perjuangan yang senantiasa harus dinikmati. Sengsara membawa nikmat bisa terwujud, manakala kita tak berhenti untuk bergerak! Karena dalam gerak, terselip ekspresi syukur makhluk terhadap sang Khalik.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.