|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|


Senin, 26 September 2011 pukul 09:55 WIB
Penulis : Muhammad Nahar
Para karyawan yang biasa shalat di mushala lantai parkir gedung megah itu tampak bingung. Mereka bingung bukan karena kekurangan sandal jepit, namun justru karena kelebihan. Jumlah sandal jepit melebihi jumlah pemakai mushala, sehingga banyak sandal yang menganggur. Padahal, banyak mushala di beberapa gedung tetangga sering kekurangan sandal sehingga harus dipakai bergantian oleh para jama'ah.
Para jama'ah mushala tersebut sebenarnya ingin memberikan sebagian sandal ke mushala lain, namun tidak berani karena para pengurus mushala pun tidak tahu asal muasal kelebihan sandal itu.
Karena penasaran, beberapa jama'ah yang juga karyawan sebuah perusahaan yang menyewa lantai di sana pun sepakat untuk menyelidiki keganjilan tersebut. Setelah mengintai beberapa lama, mereka pun akhirnya mengetahui bahwa salah satu direktur perusahaan tersebut selalu meninggalkan sepasang sandal jepit setiap kali shalat maghrib sebelum pulang kerja.
Sang direktur, setelah mengetahui bahwa ulahnya diketahui para karyawan, mempersilakan apabila ada yang ingin menyumbangkan sandal ke mushala-mushala yang lain. Ternyata dia melakukan hal itu untuk membantu tetangganya yang membuka usaha warung kelontong namun sepi pembeli.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Nahar sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.