|
QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
"
|





Jum'at, 25 Juni 2010 pukul 16:09 WIB
Penulis : Meralda Nindyasti
Dan di suatu malam.
"Hidup sebagai isteri seorang intel itu tidak mudah, nak," kata eyang, mencoba memulai pembicaraan.
"Diteror oleh oknum tapi juga disayang oleh masyarakat. Di antara semua suka duka itu, cuma satu yang eyang jadikan prinsip, bahwa berbuat baiklah kepada siapa pun," lanjut eyang.
"Percayalah, kebaikan yang kita lakukan adalah untuk kita sendiri, walau balasan di dunia tidak selalu harus kepada pelaku kebaikan. Tapi Allah Mahaadil, balasan di akhirat pasti kepada pelaku kebaikan. Begitulah prinsip hidup yang eyang terapkan selama ini, Da. Sekalipun tidak banyak uang, masih ada rumah yang sekalipun tidak luas tetapi bisa dibuat untuk menampung anak jalanan, masih ada makanan yang sekalipun tidak melimpah tapi bisa untuk berbagi kepada saudara yang berkekurangan tentang nikmatnya perut yang terisi."
"Sekali lagi, kebaikan yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri. Dulu, eyang ti sama eyang kakung selalu meminta supaya istiqamah menerapkan prinsip ini. Pamrih itu tidak selamanya buruk, Da. Yang baik dan boleh adalah pamrih kepada Allah. Dan yang tidak baik dan tidak boleh adalah pamrih kepada sesama manusia. Itulah mengapa, hidup kita adalah ibadah jika semua segmen kehidupan kita lakukan untuk mengharap ridha Allah, rahmat dan berkah Allah. Bukankah mengharap semua itu adalah pamrih kita kepada Allah atas apa yang kita upayakan?"
"Jadi, kebaikan yang eyang upayakan, bisa jadi balasannya di dunia tidak selalu kepada eyang, tapi balasannya adalah dengan Allah membaikkan keturunan-keturunan eyang, Allah muliakan kehidupan keturunan-keturunan eyang. Karena tidak ada yang lebih menyenangkan hati kecuali melihat mama, papa, Alda, dan Aldi serta anak dan cucu eyang yang lain dan keturunan-keturunan eyang selanjutnya senantiasa ada dalam kebaikan dan kemuliaan hidup."
"Dan yang pasti, Da, kebaikan itu harus diupayakan, karena kebaikan itu bukan suatu yang tanpa tetes keringat dan luap keikhlasan."
***
Kini yang kupahami, bahwa kebaikan hidup, baik itu berupa iman, kesehatan, kelapangan rejeki dan urusan, serta keberkahan usia yang kita dapatkan sampai saat ini, detik ini, bukan semata-mata karena diri kita sendiri. Melainkan juga atas upaya mereka, orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita, yang tanpa kita sadari, merekalah orang-orang yang tak pernah lelah mendo'akan kita dan mengharapkan kemuliaan hidup untuk kita.
Itulah mengapa, tinggi hati bukan sebuah sikap pilihan untuk manusia yang ingin menjadi pribadi yang berjiwa besar.
Ah, eyang, aku merindukanmu, di sini, di Malang, tempat kita bercengkrama dan kau ajari aku ilmu kehidupan.
Malang, 17 Juni 2010
Baiti Jannati
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meralda Nindyasti sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.