|
Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
|





Senin, 17 Mei 2010 pukul 17:10 WIB
Penulis : Meralda Nindyasti
Aku tahu, mereka bukanlah seorang yang buta akan kebenaran, hanya saja, saat ini mereka sedang belajar mengingkari kebenaran itu. Ya, belajar. Tak lebih.
Karena itu, aku tidak perlu berdo'a agar mereka celaka. Tidak! Aku hanya ingin mereka tahu bahwa mereka sedang menghadapi ujian berupa DUNIA. Supaya mereka sadar akan ujian itu dan tidak tergelincir, yang membuatnya terpental dari barisan kebenaran dan kebaikan.
Aku hanya ingin mereka tahu bahwa perbuatan mereka akan mengundang murka Allah. Yang jika Ia berkehendak, maka "kun fayakun" semua akan berubah sesuai dengan mau-Nya. Siapakah mereka yang dengan pede-nya mampu mengatasi azab Allah? Ya, siapakah mereka yang dengan bangganya mampu mengundang kemarahan Allah karena maksiat yang diperbuatnya?
Mengapa aku melakukan ini? Tak lain karena aku tahu Rasulullah pun berbuat yang sama. Aku ingin setegas kasih sayang Rasulullah menjaga akhlak dan aqidah sahabatnya. Aku ingin setegas komitmen Rasullah menjaga Iman, Islam, dan Ikhsan dalam hatinya.
Ya, dosa besar adalah segala kemaksiatan yang dilakukan seseorang tanpa ada perasaan takut dan penyesalan, seperti orang yang menyepelekan suatu dosa sehingga menjadi kebiasaan. Setiap penyepelean dan peremehan suatu dosa, maka ia termasuk ke dalam dosa besar.
Kali ini, Allah menagih kewajiban berupa kesabaran terhadap hal-hal yang diharamkan walaupun hal itu disukai oleh jiwa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ”Barangsiapa yang menjaga diri (iffah), maka Allah akan menjaganya. Barangsiapa yang meminta pertolongan kepada Allah, maka Allah akan menolongnya. Barangsiapa yang bersabar, maka Allah akan memberikan kesabaran kepadanya dan tidaklah seseorang diberikan suatu pemberian yang lebih baik atau lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari.)
Aku sadar, aku bukanlah penggenggam hidayah. Dan yang kutahu, Rasulullah di muka bumi ini tidak hanya membawa kabar GEMBIRA bagi mereka yang taat beragama, namun juga membawa berita DUKA bagi mereka yang mencoba fasik terhadap-Nya.
Aku gugurkan kewajibanku untuk mengajak mereka kembali ke jalan Allah. Namun jika ajakanku ditolak, Aku hanya teringat pesan Rasulullah, "Bila kamu tidak MALU, berbuatlah sesukamu."
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meralda Nindyasti sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.