Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
Alamat Akun
http://meraldanindyasti.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Sidoarjo-Malang - Jawa Timur
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Meralda Lainnya
(Bukan) Ukhuwah Musiman
27 Oktober 2009 pukul 15:00 WIB
Ternyata, Tak Seshalihah yang Kukira
22 Oktober 2009 pukul 20:13 WIB
Kurindukan Nahkoda Surga
9 Agustus 2009 pukul 18:11 WIB
Berlari untuk Berjuang
31 Juli 2009 pukul 17:16 WIB
Saat Pernikahan Dianggap Kontraproduktif
20 Juli 2009 pukul 15:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 8 November 2009 pukul 15:17 WIB

Pedih itu Bernama Keluarga

Penulis : Meralda Nindyasti

Sedikit perasaanku melayang diterpa angin pagi yang memukau kota Malang. Tak lama kemudian, aku dikejutkan oleh pesan yang masuk ke inbox handphone-ku.

"Lagi di mana? Kita sudah di depan gerbang kampus Brawijaya, pagi ini kita ke panti jompo di Lawang, dan siangnya kita konsutasi ke dosen faal tentang data-data yang sudah kita dapat. Segera ya."

Tanpa menunggu lama, aku menyegerakan diri mengunci pintu kamar. Berlari-lari kecil menuju gerbang utama kampus.

Dan sejam kemudian, kami tiba di panti jompo. Memasuki gerbang pertama, seolah-olah kami masuk ke gerbang gereja. Tapi ternyata dugaan kami tidak salah, panti jompo yang kami kunjungi memang bertempat di bangunan bekas sekolah pastur (seminari). Khas sekali, dengan atap yang tinggi meruncing dan aksesoris keagamaan. Kami disambut oleh oleh seorang biarawati dengan model pakaian yang cukup khas pula.

Makin lama, makin banyak biarawati di hadapan kami. Saat perbincangan hampir usai, langkah kami diajak untuk mengitari kamar demi kamar yang ada di panti jompo tersebut. Tak lama, dari kejauhan, seorang nenek dengan dengan seluruh rambutnya yang memutih menyapaku, “Assalamu’alaikum.” Kepalanya pun mengangguk sebagai tanda hormat yang ramah.

Sungguh, aku takjub dengan salam itu. Hatiku sempat bertanya, apakah karena aku seorang muslimah yang berjilbab dengan model yang tentu berbeda dengan biarawati di panti jompo itukah yang membuat beliau menyapaku dengan salam itu? Namun, tak lama kemudian aku segera menjawab salam sang nenek sambil mengulurkan tangan berharap kami bisa saling berjabat tangan. Pertemuan yang sangat singkat sebelum akhirnya teman-teman memanggilku karena di ujung koridor sana, kami menemukan seorang yang menjadi target kami, sang kakek yang mengalami demensia (pikun).

Aku memilih mewawancarai suster tertua di sana sembari berjalan-jalan mengamati oma opa (kakek nenek) yang rata-rata mereka sekarang sedang berjemur menikmati terpaan mentari pagi. Di sela-sela obrolan kami, ada beberapa nenek yang menyapaku dengan bahasa yang tidak kumengerti. Lambat laun sang suster menerjemahkan apa yang mereka katakan. Ternyata beberapa nenek tersebut menyapa dan ingin berbincang-bincang denganku dalam bahasa Belanda. Spontan, aku hanya sanggup mengangguk-anggukkan kepala dengan senyum teramah yang kubisa, bukan karena mengerti, tapi justru itulah ekspresi sebagai pertanda bahwa aku pura-pura mengerti.

Pendengaranku sedikit disita oleh ucapan sang suster, "Semua oma-opa yang berjumlah 50 orang ini masih memiliki keluarga yang jelas. Hanya 16 di antaranya yang Katholik. Sisanya adalah muslim." Aku terkesima mendengarnya. Terkesima yang membuat hatiku tertunduk perih. Kemudian, sang suster melanjutkan ceritanya, "Di sini pun ada perhimpunan do'a, khusus bagi mereka yang Katholik. Kalau oma-opa yang muslim meninggal, kami akan mengabarkan pada keluarganya, agar dimakamkan sesuai agamanya."

***

Sepanjang perjalanan pulang menuju kampus, pikiranku melayang membayangkan papa mama di Surabaya. Begitu lekat di pikiranku bagaimana mereka mengekspresikan cinta mereka padaku selama ini. Dengan sangat cantik, qalbuku merekam luapan sayang mereka. Ah, aku rindu papa mama. Aku rindu untuk segera memeluk dan mencium kening mereka, seraya membisikkan kalimat ini, “I love you, mama. I love you, papa.”

Bukankah sewaku kita lahir dengan mungil tanpa daya, merekalah yang merawat kita hingga menuju dewasa? Lantas, mengapa ketika giliran mereka yang kini tak berdaya terhadap sisa hidup yang diberikan olehNya, justru kita meninggalkan mereka.

Bukankah sewaktu kita masih kecil, merekalah yang paling rajin mengajak kita belajar mengerti syahadat, belajar menghapalkan dan mengamalkan rukun iman dan rukun Islam? Lantas, mengapa ketika giliran kita telah berilmu, justru kita lupa untuk mengajak mereka mengenal lebih dekat pada Ilahnya. Untuk lebih meneguhkan kembali keimanan mereka, dan membimbing mereka dengan ucapan syahadat saat tiba saatnya malaikat Izrail menyapa mereka.

Hatiku miris ketika melihat kakek nenek yang muslim di panti jompo itu selalu dihadapkan oleh lingkungan dengan aksesoris keagamaan yang bukan agamanya. Justru di akhir-akhir daya ingat mereka yang melemah dan di akhir-akhir usia mereka hidup di dunia, mereka tidak diingatkan kembali tentang apa agama mereka, siapa tuhan mereka, dan mereka tidak diakrabkan kembali dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an saat suatu saat nanti sakaratul maut menjadi jatah mereka. Ya, ini memang resiko berada di sana. Mungkin jalan terbaik dalam pandangan kita, tapi belum tentu terbaik dalam pandangan Allah. Dan haruskah ini menjadi langkah terakhir yang harus ditempuh, padahal Allah memerintahkan dalam QS. Al-Isra : 23, "Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya."

Sungguh, aku masih ingat do'a pertama yang mama ajarkan padaku adalah do'a, "Wahai Tuhanku, kasihilah keduanya sebagimana keduanya telah mendidik aku sewaktu kecil." Papa pun mengatakan bahwa do'a itu sangat baik dipanjatkan setiap kita selesai shalat. Semoga adanya panti jompo bukan pelarian kita sebagai anak untuk melalaikan amanah kita dalam merawat orangtua kita kala mereka ada pada kelemahan dalam kelemahan.

Saat anak yatim piatu rindu untuk bisa memuliakan ibu dan bapaknya, apakah kita yang masih diberi kesempatan untuk mewarnai hari tua mereka, melalaikan amanah itu begitu saja? Dalam pandangan Allah, tidak ada amanah yang overdosis. Allah telah mengukur semuanya. Tidak ada takaran yang melenceng sekalipun sedikit, Allah telah memperhitungkan dengan keluasan ilmuNya.

Rabb, ingatkan kami agar tidak seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Kuatkan kami untuk bisa melawan ego diri agar tidak seperti Malin Kundang berperilaku terhadap ibunya. Mampukan kami untuk meneladani nasihat-nasihat Luqman pada anaknya. Lindungi kami dari keras hati, sikap tak peduli, dan lupa berterimaksih, bahkan terhadap ibu yang dari rahimnyalah kami terlahir ke duniaMu, dan terhadap ayah yang dari peluhnyalah kami bisa merasakan kenikmatan karunia dariMu. Rabb, ingatkan kami saat kami terlupa dan tersalah.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meralda Nindyasti sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Anna | Staff UPT Laboratorium
Subhanallah... KotaSantri.com isinya bagus, menarik, dan yang pasti banyak artikel-artikel yang menambah ilmu dan pengalaman.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1868 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels