HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
Alamat Akun
http://meraldanindyasti.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Sidoarjo-Malang - Jawa Timur
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Meralda Lainnya
Andai Dosa Itu
7 Juni 2009 pukul 18:30 WIB
Registerasi, Kompetisi, dan Konsekuensi
6 Juni 2009 pukul 19:30 WIB
Menanti Pemuda Harapan Bangsa
26 Mei 2009 pukul 17:46 WIB
Nahkoda Keluarga
23 Mei 2009 pukul 17:12 WIB
Aku Malu Menjadi Wanita
21 Mei 2009 pukul 19:21 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 20 Juli 2009 pukul 15:30 WIB

Saat Pernikahan Dianggap Kontraproduktif

Penulis : Meralda Nindyasti

Aku geram dan seketika itu juga mengernyitkan dahi ketika seorang tokoh feminisme kenamaan mengemukakan hal yang melawan fitrah manusia, pada sebuah acara televisi Selasa tengah malam. Menjadi manusia kontroversial mungkin memang menyenangkan, bahkan menarik, itu kataku. Tapi jika pemikiran kontroversial itu tidak benar atau boleh dikata bukan suatu kebenaran, maka masihkah ada yang harus dipertahankan?

”Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikannya di antaramu kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum : 21).

Lihatlah penutup pada akhir ayat tersebut, ”Bagi kaum yang berpikir."

Ya, aku jadi teringat akan penuturan dosen psikiatri pada suatu pertemuan kuliah. Berdasar hasil penelitian, dikatakan bahwa kecepatan emosi adalah 80.000 kali kecepatan berpikir. Apa mungkin inilah yang mendasari seseorang reaktif terhadap hidupnya sendiri?

Ketika Allah telah memberi penerangan melalui firmanNya, maka itulah kebenaran yang tidak bisa dielakkan oleh nurani (baca : qalbu) sekalipun. Karena itu, jika ada wanita yang dengan bangga mengatakan bisa hidup sendiri, dan baginya itu pertanda manusia mandiri, maka sejujurnya kukatakan bahwa itulah pemikiran yang tidak pantas dijadikan panutan.

”Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian dari mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shaleh adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.” (QS. An-Nisa : 34).

Tidak ada yang lebih indah dari mengikuti jalan hidup yang Allah skenario-kan jauh-jauh waktu sebelum kita dilahirkan dan jagad raya diciptakan. Dan tidak ada yang lebih mudah bagi kita selain mengikuti jalan hidup yang telah Allah sediakan. Jalan itu bernama fitrah.

”Saat Pernikahan Dikatakan Kontraproduktif.”

Bukankah pernikahan itu adalah penyempurnaan agama? Maka pantaslah jika pernikahan dikatakan suatu ibadah. Dan apakah ibadah itu kontraproduktif? Tidak.

Aku jadi teringat perumpamaan ini, "Seseorang hanya akan menghadiahkan emas kepada orang yang memahami benar bahwa emas itu berharga dan sangat bernilai. Karena itulah mengapa kita lebih memilih memberikan sesuatu yang berharga (misal : emas) kepada ibu kita, bukan kepada orang gila.

Sama. Ketika khusyuk adalah suatu pemberian yang berharga, maka Allah hanya akan memberi kehusyukan shalat kepada orang-orang yang mengerti benar keutamaan shalat, dan orang-orang yang memahami bahwa shalat adalah suatu upaya penghambaan yang sangat berharga di mata Allah.

Dan ketika keberkahan adalah suatu pemberian yang berharga, maka Allah hanya akan memberikan keberkahan pernikahan kepada orang-orang yang mengerti benar keutamaan pernikahan dan memahami benar arti sebuah penyempurnaan agama yang sangat bernilai di mata Allah.

”Saat Pernikahan Dikatakan Kontraproduktif.”

Ketika kalimat ini terngiang kembali, aku tidak lagi geram dan aku tak lagi mengernyitkan dahi. Karena aku yakin, barang siapa yang tidak mengerti keutamaan ibadah yang Allah perintahkan, maka ia tidak akan mendapatkan apa yang sebenarnya Allah janjikan.

Malang, 15 Juli 2009

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meralda Nindyasti sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

mashalli | karyawan
Alhamdulillah... Meski baru bergabung di KSC, semakin nambah wawasan dan berbagi pengalaman religius.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1018 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels