QS. At-Taubah 9 : 129 : "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung."
Alamat Akun
http://meraldanindyasti.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Sidoarjo-Malang - Jawa Timur
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Meralda Lainnya
Berlari untuk Berjuang
31 Juli 2009 pukul 17:16 WIB
Saat Pernikahan Dianggap Kontraproduktif
20 Juli 2009 pukul 15:30 WIB
Andai Dosa Itu
7 Juni 2009 pukul 18:30 WIB
Registerasi, Kompetisi, dan Konsekuensi
6 Juni 2009 pukul 19:30 WIB
Menanti Pemuda Harapan Bangsa
26 Mei 2009 pukul 17:46 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 9 Agustus 2009 pukul 18:11 WIB

Kurindukan Nahkoda Surga

Penulis : Meralda Nindyasti

Senja tiba. Terpencil di suatu pinggiran kota Jakarta, sang ayah memasuki rumah. Lelah beraktivitas di kantor sedari tadi, membuatnya ingin segera merebahkan diri di sofa empuk kesayangannya. Melepas peluh.

Tak berapa lama, adzan maghrib mengudara di kota Jakarta.

"Nak, ayo shalat. Sudah adzan," ajak sang ayah.

"Iya, bentar, nanggung nih, yah, kartunnya belum selesai," ujar sang anak.

"Sudah, ayo shalat dulu! Sejak kapan anak ibu males begini ya?" masih dengan kesabarannya, sang ibu ikut mewarnai percakapan sore itu.

Si kecil itu, 12 tahun usianya. Bungsu dari 2 bersaudara. Melihat tiba-tiba televisi dimatikan begitu saja oleh ibu, membuat si kecil berat untuk melangkahkan kaki menuju tempat wudhu.

"Yah, shalat berjama'ah, yuk!" ajak sang kakak, sudah siap dengan mukena yang menutupi auratnya.

"Udah, shalat dulu aja! Ayah masih ingin santai," jawab sang ayah.

"Ayah kok gitu. Ya sudah, saya shalat ma adik ya," ujar sang kakak, kecewa.

"Nggak ah, nggak! Adik nggak mau shalat bareng kakak. Pokoknya adik shalat sendiri aja!" jawab si kecil, mengelak.

Tak lama kemudian...

"Lho, shalat apa ini? Kok sebentar? Berapa raka'at shalat maghribnya?" tiba-tiba sang ibu melontarkan sekian banyak pertanyaan saat si kecil ke luar dari kamarnya.

"Sudah shalat kok, bu," jawab si kecil.

"Shalat apa? Belum semenit kok sudah selesai? Sudah berdo'a, belum?" tanya sang ayah penuh curiga.

"Udah kok, yah," ujar si kecil.

"Nggak, nggak. Ayo shalat lagi! Shalat kok gitu," perintah sang ayah, sedikit keras.

"Kak, coba adiknya diintip, shalatnya bener atau nggak tuh?" perintah ibu.

Tiba-tiba...

"Ayah sama ibu ini gimana? Kalo nggak ingin shalatnya adik nggak bener, ya shalat berjama'ah!" ujar sang kakak sedikit jengkel, sambil berlalu menuju kamarnya.

Sang kakak menangis. Sementara sang ibu dan ayah yang duduk santai di ruang keluarga, terheran-heran dengan apa yang baru saja terjadi. Si kecil baru saja selesai shalat maghrib untuk kedua kalinya. Entahlah, apakah durasi shalatnya lebih lama dan lebih khusyuk dari sebelumnya atau tidak.

Kakak menangis lantaran kecewa dengan ayah ibunya. Ia gadis berusia 19 tahun yang baru siang tadi tiba di Jakarta. Ia mahasiswa kedokteran di Surabaya. Liburan ini, ia sengaja pulang ke rumah lantaran rindu dengan keluarganya. Tapi yang ia dapat adalah kekecewaan, persis seperti kekecewaan yang ia rasa saat liburan setahun lalu. Ya, terulang.

Allah membangunkannya tepat pukul 2.30 dini hari. Kekecewaan malam tadi membuat ia ingin segera mengadu pada Allah. Gemericik air wudhu mengalir perlahan di tengah keheningan malam. Hanya ia seorang.

Shalat ditegakkan. Sesekali terdengar sesenggukan, air mata kembali mengalir membasahi pipinya. Kepasrahan begitu mendalam.

"Rabb, aku begitu mensyukuri hidayah yang Kau anugerahkan padaku. Dulu, aku bimbang harus kuliah di mana. Ternyata kehendakMu berkata aku harus perantauan ke luar kota. Karena itu, aku meminta agar Kau saja yang menjaga keluargaku dengan sebaik-baik penjagaan. Menjaga keselamatan mereka dan keimanan mereka, sebagimana Kau pun menjagaku dan keimananku selama aku menuntut ilmuMu. Rabb, tapi apa yang terjadi? Semalam tadi ayah enggan diajak shalat berjama'ah, hingga akhirnya aku merespon dengan nada ketusku. Aku berlebihan terhadap lisanku, Rabb. Aku menyesal dan mohon ampunanMu," kakak tak tahan meluapkan kesedihannya.

"Rabb, aku rindu shalat berjama'ah bersama mereka. Saat ketaatan kami disatukan oleh takbir berjama'ah mengagumi kebesaran asmaMu. Saat penghambaan kami luluh dalam nikmatnya kebersamaan sujud menghadapMu. Saat ayat-ayat Al-Qur'an begitu asyik kami lantunkan bersama seusai shalat berjama'ah. Kerapkali ayah memberi nasihat pada kami sesuai tafsir ayat-ayat Al-Qur'an yang kami baca saat itu. Keindahan yang agung. Duhai Rabb, kapan kerinduanku ini terobati?" tanya itu mengakhiri do'anya.

Sang kakak hanyalah anak yang rindu akan didikan orangtuanya. Didikan spiritual tentunya. Sekalipun hanya sesederhana shalat berjama'ah bersama keluarga. Sang kakak memiliki sisi pandang yang berbeda. Shalat berjama'ah itu begitu berharga baginya, terlebih saat ini statusnya adalah mahasiswa yang jauh dari orangtua. Ia rindu akan kehangatan keluarga yang dibalut dengan ketaatan menjalankan perintahNya.

***

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahriim : 6).

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meralda Nindyasti sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Cybi Newsletter | Buletin Bulanan
Situs ini berisi berbagai tulisan menarik yang bernuansa anak muda. Walau demikian, situs ini tetap dapat memberikan siraman rohani dan memperkaya wawasan Anda, ketika membaca dan menekuninya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1903 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels