HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Tolong Hormati Bulan Suci Ini
28 Agustus 2009 pukul 15:00 WIB
Mengajar dengan Bahasa Cinta
6 Agustus 2009 pukul 15:45 WIB
Kumandang Adzan Sore Itu
21 Juli 2009 pukul 15:00 WIB
Selembar Kertas Kontrak
14 Juli 2009 pukul 16:00 WIB
Menyikapi Ulang Tahun
7 Juli 2009 pukul 15:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Selasa, 8 September 2009 pukul 15:00 WIB

Tetes Air Mata di Sela Hafalan

Penulis : Eko Prasetyo

Sudah beberapa hari belakangan, saya menghafalkan surat Al-Mulk dan masih belum hafal juga. Sehabis deadline, saya coba untuk mengulang lagi dan terus mengulang. Ternyata, belajar memang butuh semangat. Lima menit menghafal, lima menit membaca terjemahannya. Isi surat Al-Mulk memang begitu dalam, karena mengingatkan akan kebesaran Allah dan azabNya yang pedih.

Selepas malam itu, gemuruh hujan yang membasahi Surabaya tampak di balik kaca kantor. Suasana tersebut membuat saya enggan untuk segera pulang meski jam kerja sudah lewat. Dingin dan hening. Dari balik kaca lantai empat kantor, sejenak saya menatap hujan di luar sana. Tampak dari kejauhan kubah dan menara Masjid Al-Akbar di arah selatan yang hijau dengan cahaya yang dirambati tetes hujan. Subhanallah, indah sekali.

Di meja kerja hanya tersisa dua potong roti dan sebotol air mineral yang sengaja saya siapkan sore sebelumnya untuk santap sahur. Malam itu, saya terpaksa menginap di kantor. Sebenarnya, jikalau hujan segera reda, saya berniat beli nasi bungkus untuk kawan bersantap sahur. Namun, hingga menjelang subuh, hujan tak juga menampakkan tanda-tanda segera reda. Meski demikian, dua potong roti saya rasa cukuplah untuk sahur.

Selepas shalat lail, mata ini saya paksa untuk tak sampai terpejam meski mengantuk. Sebab, takut kebablasan jika sudah benar-benar tertidur. Dan ini masih sering saya alami. Jika sudah begitu, ya wedang kopi jadi sahabat karib dan tetap melanjutkan menghafal surat Al-Mulk sembari menunggu waktu sahur ataupun adzan subuh.

Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi, mata ini mulai merah dan beberapa kali harus cuci muka agar tak ketiduran. Tiba saatnya untuk sahur. Meski tak cukup kenyang dengan dua potong roti, makan sahur terasa nikmat.

***

Saya selalu teringat suara anak-anak yang mengaji di mushala kampung kami selepas ashar. Anak-anak begitu bersemangat menghafal iqra dan membaca Al-Qur'an dari guru ngaji mereka. Ya Allah, malu rasanya hati ini jika kalah semangat dengan anak-anak itu dalam hal belajar dan menghafal ayat-ayat Allah.

Memang, tanpa disadari, kita terkadang menikmati membaca buku, novel, atau koran hingga lama ataupun berjam-jam. Tapi, saat membaca Al-Qur'an, kita enggan untuk membuka bahkan menghafal beberapa ayat. Terkadang menghafal lirik lagu saja kita bisa bersemangat dan berusaha sampai hafal. Namun, ketika menghafal beberapa ayat Al-Qur'an saja kita merasa jemu.

Tak terbayang, jikalau Al-Qur'an bisa bicara, tentulah ia akan menangis karena sering menjadi sarang debu saat hanya dijadikan pajangan di meja atau lemari. Runtuh rasanya hati ini bila memikirkan hal tersebut. Padahal, itu adalah kalam Allah, Tuhan semesta alam.

Menjelang adzan maghrib, ingin sekali saya menangis tatkala membuka lembaran mushaf Al-Qur'an untuk menghafal kembali surat Al-Mulk. Sebanyak 30 ayat, saya hafal dengan gemetar. Bukan karena menahan lapar, tapi gemetar karena malu. Ke mana hendak kusembunyikan tetes air mata yang terjatuh tanpa sengaja saat menghafal Al-Mulk? Sungguh, betapa kufurnya diri ini ketika malas belajar Al-Qur'an mendominasi hari-hari.

Sore merambat menjemput petang. Adzan maghrib sudah berkumandang. Tiba saat berbuka. Dalam lapar, semangat untuk menghafal 30 ayat itu t’lah terpatri. Rabbizidni ilman warzuqni fahman.

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

lila | mahasiswa
Saya sangat senang sekali bisa bergabung dengan KotaSantri.com, karena saya sendiri memang santri.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1171 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels