HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Menyikapi Ulang Tahun
7 Juli 2009 pukul 15:00 WIB
Munajat di Sepertiga Malam
30 Juni 2009 pukul 15:00 WIB
Tak Ada Nasi Hari Ini
23 Juni 2009 pukul 16:45 WIB
Cinta tanpa Syarat
16 Juni 2009 pukul 19:21 WIB
Mr President
2 Juni 2009 pukul 16:09 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Selasa, 14 Juli 2009 pukul 16:00 WIB

Selembar Kertas Kontrak

Penulis : Eko Prasetyo

Betapa sulit mencari kerja sekarang. Sempitnya lapangan kerja menambah deret angka pengangguran. Apalagi, tingkat persaingan semakin tinggi dengan bertambahnya lulusan sekolah menengah atas ataupun perguruan tinggi yang mencari kerja.

Itu masih ditambah dengan belum stabilnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Tak heran banyak pengangguran intelektual (sarjana) di negeri ini. Jika sarjana di negeri ini masih banyak yang menganggur, bagaimana dengan mereka yang berpendidikan rendah?

Kadang, tak jarang kita jumpai bahwa banyak warga Indonesia yang terpaksa merantau ke negeri orang untuk mencari sesuap nasi. Mereka bekerja sebagai pembantu ataupun buruh di negara tetangga karena merasa sudah mentok mencari kerja di negeri sendiri. Para pahlawan devisa itu tak jarang pula mendapatkan aniaya dari majikan yang kadang bisa saja merengut nyawa mereka. Meski, tak sedikit di antara mereka yang sukses membawa hasil keringat saat pulang ke tanah air.

Di saat lapangan kerja semakin sulit didapat, tak jarang ketika sudah bekerja pun hak-hak pekerja atau karyawan kurang diperhatikan karena terbentur birokrasi perusahaan. Pernah, saat kebetulan melintas di suatu kawasan industri di Sidoarjo, saya melihat sekelompok buruh berdemo. Pemandangan seperti itu sering saya lihat, baik di televisi ataupun melihat secara langsung.

Para buruh pabrik tersebut tidak hendak mengancam perusahaan atau sengaja membuat macet jalan. Mereka hanya memperjuangkan hak-hak mereka ketika perusahaan kurang memperhatikan kesejahteraan pegawainya. Sekarang ini, di setiap perusahaan banyak menerapkan sistem kontrak kerja kepada para karyawannya. Ada karyawan yang dikontrak cuma setahun, ada pula yang dikontrak selama dua tahun. Ada juga buruh yang hanya dikontrak selama enam bulan.

Bahkan, tidak sedikit perusahaan yang menerima karyawan lewat perusahaan outsource. Bisa dipahami jika banyak sekali buruh yang merasa waswas, bekerja tidak tenang, dan bingung ketika menjelang kontrak kerjanya habis. Pernah, saya terenyuh mendengar kisah tetangga saya.

Dia mendatangi saya dan menceritakan bahwa dia baru saja mengalami pemutusan kontrak kerja. Sebagai buruh pabrik yang berpendapatan kurang dari Rp. 800 ribu, dia merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi, dia harus menghidupi isteri dan seorang anaknya.

Dalam keadaan bingung dan kalut, dia meminta tolong kepada saya untuk membantu mencarikan lowongan kerja. "Kerjo opo ae aku gelem, Mas (Kerja apa saja saya mau, Mas)," tuturnya. Saya sempat terdiam dan tak tahu harus menjawab apa kepada tetangga saya tersebut. Saya termenung sejenak karena berpikir bahwa wong saya ini juga buruh.

"Insya Allah, Pak. Saya usahakan membantu mencarikan info kerja. Tapi, saya ndak janji bisa mendapatkan secepatnya buat sampeyan," jawab saya. Mungkin, tidak sedikit orang yang mengalami hal seperti tetangga saya tadi. Saya semakin prihatin manakala membaca berita ada seorang buruh pabrik wanita yang menangis karena dikeluarkan.

Bahkan, dia mengatakan telah memberi uang kepada salah seorang staf agar tidak dikeluarkan dari perusahaan itu. Dia mengaku berbuat demikian demi bisa diperpanjang kontraknya. Ketika uang sudah diserahkan, janji untuk diperpanjang tak terealisasi. Rasa sedih, kecewa, dan kalut bercampur jadi satu di hati wanita tersebut.

Masya Allah. Betapa susahnya mencari sesuap nasi hingga persaingan pun menimbulkan iklim tidak sehat di dunia kerja. Seolah-olah, rezeki dan nasib seseorang itu bisa ditentukan oleh selembar kertas kontrak kerja. Astaghfirullah. Bekerja adalah ibadah. Namun, banyak orang yang memaknai esensi kerja hanya untuk kebutuhan dapur dan perut belaka. Sehingga, banyak dijumpai orang yang putus asa karena masalah kerja.

Padahal, masih banyak jalan jikalau kita mau berusaha. Masih banyak cara untuk mencari rezeki di bumi ini. Allah berfirman, "Kami telah menjadikan untukmu semua di dalam bumi itu sebagai lapangan mengusahakan kehidupan. Tetapi, sedikit sekali kamu berterima kasih." (QS. Al-A'raf : 10).

"Maka menyebarlah di bumi dan carilah rezeki dari keutamaan Allah." (QS. Al-Jumu'ah : 10).

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ita Yusvana | Karyawan
Teman di waktu istirahat yang paling sering dikunjungi.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1192 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels