QS. At-Taubah 9 : 129 : "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Munajat di Sepertiga Malam
30 Juni 2009 pukul 15:00 WIB
Tak Ada Nasi Hari Ini
23 Juni 2009 pukul 16:45 WIB
Cinta tanpa Syarat
16 Juni 2009 pukul 19:21 WIB
Mr President
2 Juni 2009 pukul 16:09 WIB
Semoga yang Terakhir
25 Mei 2009 pukul 15:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Selasa, 7 Juli 2009 pukul 15:00 WIB

Menyikapi Ulang Tahun

Penulis : Eko Prasetyo

Perayaan hari lahir atau biasa disebut ulang tahun (ultah) sering kita jumpai di mana saja. Entah itu hari lahir negara atau HUT kemerdekaan, maupun ultah seseorang. Bagi kalangan tertentu atau menengah, bahkan ada pula menengah bawah, merayakan ultah bisa dengan hura-hura dan pesta. Cara pandang seperti itu seakan sudah jadi tradisi di masyarakat awam kita.

Ada orangtua yang merayakan ultah anaknya dengan mengundang teman-teman anaknya. Tidak sedikit pula remaja yang merayakan ultahnya dengan party atau pesta dengan amat meriah. Namun, ada juga yang merayakan ultah bersama anak-anak di yayasan yatim piatu. Beragam jenis perayaan ultah menjadi pemandangan yang mudah dijumpai.

Di saat negara mengalami krisis ekonomi panjang seperti sekarang, tidaklah pantas kita merayakan ultah dengan meriah. Apalagi, merayakan ultah adalah budaya Barat yang telanjur diadopsi oleh kebanyakan masyarakat kita. Padahal, tambah umur berarti kita harus bijak. Sebab, bertambahnya usia adalah indikasi kontrak hidup kita di dunia akan semakin berkurang. Karena itu, sudah seharusnya manusia membiasakan dzikir maut atau mengingat kematian agar lebih giat beribadah. Bukan malah umur bertambah, tapi kelakuan semakin jauh dari tuntunan agama.

Ada pemandangan yang kerap saya ingat ketika ada rekan yang merayakan ultah di kantor kami. Ketika kue ultah sudah dipersiapkan, prosesi tiup lilin dilakukan. Setelah itu, para rekan-rekan lain beramai-ramai menyerbu kue tersebut secara berebutan. Hal itu sering saya saksikan. Terkadang, saya bertanya dalam hati, "Apakah saya bisa ikut bergembira berebut kue, sementara di suatu waktu saya kerap menyaksikan orang miskin makan nasi basi yang dikeringkan?" Batin saya bergolak melihat ketimpangan-ketimpangan yang sering terjadi di lingkungan sekitar.

***

Suatu ketika, ada seorang rekan yang bercerita kepada saya saat dia pulang kerja ke Sidoarjo. Sehabis deadline, ada acara ultah rekan lain di kantor. Sedangkan kawan saya tersebut pada saat yang sama bergegas pulang. Karena tak bawa kendaraan, dia harus pulang naik angkot dari Surabaya menuju Sidoarjo. Jika dini hari, memang sulit angkot dijumpai. Kalaupun ada, menunggunya pun lama. Namun, kawan saya tersebut beruntung bisa cepat dapat angkot, sehingga tidak perlu menunggu lama di pinggir jalan.

Dalam perjalanan itu, angkot tersebut tidak terisi penuh karena memang sepi penumpang. Saat berhenti sejenak di daerah Gedangan, Sidoarjo, ada seorang penumpang yang naik. Dia membawa beberapa lukisan kaligrafi berukuran sedang. Ternyata, penumpang tersebut adalah penjual lukisan kaligrafi. Kawan saya lantas bertanya kepada orang tersebut, "Sudah berapa yang laku?" Pedagang kaligrafi itu menjawab bahwa seharian itu tidak ada lukisan kaligrafinya yang terjual sama sekali. Kawan saya tersebut sempat terhenyak sejenak dan merasa iba kepada penjual kaligrafi itu.

Setidaknya, saya mencoba mengambil hikmah di balik cerita sederhana dari kawan saya tadi. Kisah di angkot menuju Sidoarjo tersebut seolah menjadi reminder bagi saya. Betapa kita harus bersyukur terhadap anugerah dan nikmat Allah. Saya jadi sedih manakala teringat di ruang kantor ada suasana gembira hura-hura dalam acara ultah, sedangkan di saat yang sama ada penjual kaligrafi yang dagangannya belum laku sama sekali. Saya berpikir, bagaimana pedagang tersebut bisa makan padahal dia belum mendapatkan penghasilan pada saat itu.

Saat ini, kesenjangan sosial begitu nyata. Yang kaya makin kaya, yang dhuafa dan miskin makin terimpit. Bagi orang yang ekonominya mapan, terpaan krisis tak akan terasa pengaruhnya. Namun, bagi rakyat jelata, bisa makan sehari satu kali adalah anugerah yang amat besar. Subhanallah. Betapa saya tak bisa membayangkan jika perayaan ultah semakin membudaya. Pesta makan-makan begitu meriah dengan uang yang dikeluarkan tentunya tidak sedikit.

Apakah kesenjangan sosial itu kita biarkan saja? Apakah mata hati kita harus tertutup melihat ketimpangan-ketimpangan yang terjadi? Haruskah kepekaan sosial itu sekadar angin lalu? Mudah-mudahan pada usia ke-26 ini, saya tak ikut tergiur dengan perayaan-perayaan semacam itu. Sebab, di kala hati resah, ketika pikiran gundah, hanya Allah lah tempat berserah dan mencurahkan hati yang sempurna.

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Cybi Newsletter | Buletin Bulanan
Situs ini berisi berbagai tulisan menarik yang bernuansa anak muda. Walau demikian, situs ini tetap dapat memberikan siraman rohani dan memperkaya wawasan Anda, ketika membaca dan menekuninya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1733 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels