|
QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
"
|
|
|
http://aishliz.multiply.com |
|
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz |





Ahad, 30 Agustus 2009 pukul 15:00 WIB
Penulis : Lizsa Anggraeny
Hujan yang turun lebat tak dapat menahan kaki bergegas. Begitu pun sahabat muslimah di samping saya, dengan lincah menyeimbangi langkah kakinya. Sesekali terlihat ia membetulkan tutup kepala yang sedikit bergeser. 'Ngabuburit', begitulah acara yang disusun hari ini antara saya dan sahabat muslimah Jepang tersebut. Rencana ini telah disusun sejak beberapa hari lalu, untuk mengisi hari di bulan Ramadhan. Mengunjungi Masjid Jami Yoyogi, salah satu masjid di Jepang yang terletak di sebelah selatan Tokyo, itulah jadwal 'ngabuburit' kami.
"Alhamdulillah, yatto tsukimashita (akhirnya sampai juga)," ucapnya ketika memasuki bangunan masjid tersebut. Wajahnya begitu sumringah. Tak berapa lama, adzan dzuhur mulai berkumandang. Ada selusup rasa damai di hati mendengarkan gema indah adzan di negara non muslim ini. Begitu pun ketika shalat berjama'ah dimulai, ada rasa bahagia yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata.
***
"Bagaimana Ramadhan di negeri Jepang? Terasa indahkah menjalankannya?" Beberapa hari menjelang Ramadhan, pertanyaan bernada serupa kerap menyapa saya lewat surat elektronik dari sahabat di tanah air. Sepertinya, para sahabat saya begitu penasaran dengan cerita seputar Ramadhan di negeri sakura. Terutama tentang hal seputar bagaimana dengan tarawih, buka puasa bersama, i'tikaf, dan shalat ied?
Indah sahabat, sungguh indah Ramadhan di negeri sakura ini. Meski untuk pertama kalinya terasa ada kesedihan berpuasa jauh dari tanah air, kedua orangtua, serta sanak saudara. Namun seiring dengan berjalannya waktu, saya mendapatkan sesuatu yang berharga, yang mungkin tidak bisa dirasakan saat berada di tanah air.
Salah satu keindahan itu adalah saya semakin menghargai gaungan gema adzan. Ketika masih berada di tanah air, dimana suara adzan sangat mudah didengar, kadang ia terasa hanya bagaikan sebuah seruan biasa, yang akan berkumandang di jam-jam tertentu. Tetapi setelah hidup di negeri sakura, dimana suara adzan hanya bisa didengar melalui komputer ataupun saat tertentu ketika mengunjungi masjid, saya benar-benar merasakan 'nikmatnya' seruan tersebut. Terutama saat Ramadhan, seruan tersebut terasa masuk menusuk di hati. Mengajak bergegas untuk segera mendatangi Sang Kekasih pemilik seruan indah.
Keindahan lain adalah meski jauh dari handai tolan, saya di sini menemukan keluarga baru. Sebuah komunitas muslim yang terdiri dari orang Indonesia, Jepang, juga para pendatang muslim dari negara lainnya, yang disatukan Allah dalam ikatan ukhuwah Islam. Kerinduan pada sanak saudara di tanah air terasa terobati dengan mengikuti kumpulan ini. Sabtu ataupun Minggu, ada acara rutin berkumpul di sebuah masjid atau tempat di sekitar Tokyo untuk mengadakan ifthar bersama yang berlanjut pada shalat tarawih. Begitu pun pada 10 malam terakhir, kami kadang saling berjanji untuk melaksanakan i'tikaf di sebuah masjid yang jaraknya cukup lumayan jauh dari rumah.
Ada keindahan dimensi pribadi yang saya rasakan dalam berpuasa di negeri sakura ini. Di antara lalu lalang orang Jepang yang tak peduli dengan bulan Ramadhan (puasa atau tidak), individu saya benar-benar merasakan inilah saatnya saya membuktikan cinta pada Sang Kekasih. Bisa saja saya makan di siang hari bolong, di sebuah restaurant, toh orang lain tak akan peduli, mereka pun tak berpuasa. Tapi bisakah saya tak peduli akan kehadiran Sang Kekasih? Dimana saat itu Ia tetap melihat saya, keberadaan ibadah 'individu' puasa saya hanya diketahui olehNya.
Memang, di sini saya tak bisa merasakan suasana semarak hangatnya Ramadhan seperti di tanah air. Beduk maghrib dan gema takbiran yang hanya bisa didengar lewat komputer, pergi shalat tarawih yang tidak bisa dilakukan bersama, riuh hiruk pikuk anak-anak dan para orang dewasa memakai kopiah ataupun mukena menuju masjid yang tidak akan pernah bisa dilihat. Tapi kekurangan-kekurangan tersebut tak membuat keindahan Ramadhan berkurang.
Ramadhan tetap menjadi bulan indah yang dirindukan oleh seorang muslim di antero bumi mana pun. Bulan agung yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an. Bulan mulia dimana terdapat malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang setiap amal ibadah yang dilaksanakan akan dibalas dengan imbalan berlipat-lipat ganda.
Seperti dinyatakan dalam salah satu riwayat dari Abu Hurairah, ketika tiba bulan Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda, "Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh berkah yang Allah wajibkan puasa di dalamnya, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tak mendapat kebaikannya, sungguh ia telah merugi." (HR. Imam Ahmad).
Indah, sungguh indah Ramadhan, sahabat. Meski itu dilaksanakan di negeri sakura, dengan pemeluk agama Islam minoritas. Semoga, di mana pun sahabat berada, tetap bisa merasakan keindahan bulan ini dan menjadi orang-orang yang beruntung. Insya Allah.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.