|
QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
"
|
|
|
http://aishliz.multiply.com |
|
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz |





Selasa, 28 Juli 2009 pukul 16:30 WIB
Penulis : Lizsa Anggraeny
Dalam suatu perkumpulan, ada 2 kelakar orang Jepang tentang orang Indonesia, yang salah satunya kadang membuat telinga saya menjadi merah panas. Satu : Orang Indonesia hobi jam karet. Dua : Kalau hari hujan, pasti tak jadi pergi.
Kelakar tinggal kelakar, tapi itulah nyatanya yang kerap terjadi. Meski tinggal di negeri yang terkenal tepat waktu, sepertinya kebiasaan jam karet sulit dihilangkan. Cap jam karet ini akan terasa miris jika kemudian dikaitkan dengan seorang muslim.
Tentu saja, muslim yang tepat waktu ada. Banyak pastinya. Tapi, saya kembali teringat pepatah, "Setetes Nila dapat merusak susu sebelanga." Meski hanya setetes, ternyata nila/tinta tersebut dapat membuat seluruh susu putih penuh bercak hitam. Dengan kata lain, imbas jam karet dari segelintir umat muslim, mampu menjadikan image tak baik bagi seluruh muslim lainnya.
Dan inilah yang terjadi ketika saya menghadiri pertemuan dengan beberapa muslimah Jepang. Satu tanda tanya besar yang mereka lontarkan, yang terkadang sulit menjawabnya, "Kenapa orang Indonesia hobi terlambat? Padahal mereka muslim loh!"
Pertanyaan dari beberapa muslimah Jepang tentang muslim Indonesia yang jam karet, akan membuat telinga saya bertambah merah ketika dihubungkan dengan anak-anak. Khususnya anak-anak yang datang terlambat mengikuti kelas belajar Islam.
Pernah salah seorang muslimah Jepang, menanggapi sewot anak yang datang terlambat masuk kelas. Khususnya anak-anak dari pernikahan muslim Indonesia atau campuran.
"Apa sih yang dipikirkan sama ibu si anak? Apa nggak ngerasa yah kalau anak terlambat bikin repot! Zettai oya ga warui (Sudah pasti orangtuanya yang salah)!"
Mungkin, bisa saja saya berdalih, "Hito ni yotte chigaimasukedo (Setiap orang berbedalah)."
Tapi, kok ya jawabannya nggak pas, terkesan nyari-nyari alasan. Tentu saja setiap orang berbeda, punya karakter berbeda. Tapi kalau yang difokuskan muslim? Bukannya setiap muslim sepakat memiliki 'karakter sama', harus tepat waktu? Seperti Allah Ta'ala singgung dalam QS. Al-'Ashr.
***
Pernah salah seorang senior saya berkata, "Kalau ada yang terlambat, coba maklumi. Peluk dan tanyakan dengan lembut, kenapa telat? Siapa tahu besok-besok datang tepat waktu."
Tentu saja, saya sangat setuju dengan metode ini. Disambut hangat, ditanya dengan lembut. Tapi metode tersebut akan sangat tepat jika menghadapi keterlambatan yang di luar rencana atau ada hal-hal urgent.
Berbeda jika terlambat sudah dijadikan rutinitas. Tak peka lagi dengan rasa malu jika datang telat. Tentu saja tidak bisa dimaklumi. Harus ada yang mengingatkan. Agar tak terbiasa bermanja-manja dininabobokan jam karet.
Oh iya, saya pernah trenyuh antara miris dan nggak percaya mendengar alasan seorang muslim Indonesia yang terlambat datang.
"Dari rumahnya emang udah telat, mau lari ngejar bus percuma, mau jalan cepet-cepet juga sama saja. Lagian kalau jalan cepet-cepet, khawatirnya jadi riya. Ngeliatin banget pengen tepat waktu." Iwake,nyari-nyari alasan kalau kata orang Jepang.
***
Sebetulnya, jam karet ataupun telat waktu, mungkin nggak akan sering terjadi jika kita mengingat kembali karakter muslim, karena ada beberapa sifat dasar yang seharusnya dipegang oleh seseorang yang mengatakan muslim.
Khususnya karakter 'Haritsun 'ala waqtihi', dimana setiap muslim dapat efisiensi memanfaatkan waktu, mampu me-manage waktu dengan baik, tidak menyia-nyiakannya, dikembalikan bahwa waktu yang kita gunakan akan dipertanggungjawabkan nanti di hadapan Allah Ta'ala.
Efisiensi waktu ini akan lebih sempurna jika didukung karakter 'Munazham fi su'unihi', yakni tertata dalam segala urusannya, rapi mengerjakan sesuatu yang menjadi tanggung jawab amanahnya.
***
Saya tahu, memang sulit mengubah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan, tapi akan jauh lebih sulit jika tidak dibiasakan, dan akan terasa makin sulit jika diterapkan buat diri pribadi, terutama buat saya -muslim Indonesia- yang kadang masih 'slebor' dalam berkarakter muslim sejati.
Tapi, minimal dengan menorehkan tulisan jam karet di atas, bisa membuat saya pribadi menjadi seseorang yang tidak jam karet. Dan maksimalnya bisa mengubah image muslim Indonesia jam karet, menjadi muslim Indonesia yang tepat waktu.
Wallahu a'lam. Insya Allah.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.