HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya. "
Alamat Akun
http://aryanto.kotasantri.com
Bergabung
14 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Borong, Manggarai Timur - Nusa Tenggara Timur
Pekerjaan
Karyawan Swasta
Aryanto, dari namanya mungkin orang mengira saya dari Jawa, tapi bukan, saya dilahirkan di Ende, NTT. masa kecil dilalui di Ende, kelas 1 SMP hijrah ke Jakarta mengikuti kakak, dan melanjutkan kuliah program S1 di salah satu universitas swasta di kota Malang.....Nggak ada yang istimewa dari saya.... saya hanyalah hamba …
arialende@yahoo.com
arialende
aryanto0674@yahoo.co.id
Tulisan Aryanto Lainnya
Sepenggal Kisah Kejujuran Mama Tua
16 Juli 2009 pukul 16:00 WIB
Untukmu Sahabat
13 Juli 2009 pukul 19:19 WIB
Pengakuan Diri
6 Juli 2009 pukul 20:29 WIB
Muhasabah Diri
24 Juni 2009 pukul 18:57 WIB
Makna Sebuah Titipan
20 Juni 2009 pukul 15:08 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 1 Agustus 2009 pukul 16:00 WIB

Indahnya Saling Tolong Menolong

Penulis : Aryanto Abdul Latif

Terkait dengan judul di atas, saya akan menceritakan dua kisah yang pernah saya alami.

Kisah pertama;

Dulu, di tahun 2004, di awal saya menjadi santri di KotaSantri.com, tak sengaja saya berkenalan dengan seorang sohib di Pontianak lewat sebuah fasilitas Pesan Pribadi. Sohib saya ini berprofesi sebagai seorang guru bantu di salah satu SD di Pontianak. Selain menjadi guru bantu, dia juga sering memberi les privat kepada murid-muridnya di luar jam sekolah.

“Alhamdulillah, mas, bisa menambah penghasilan,” katanya saat itu. Sudah banyak cerita tentang kehidupan kami yang sama-sama sudah kami ceritakan. Kami selalu saling mengingatkan satu sama lainnya. Di setiap sepertiga malam kami berlomba, yang paling dahulu bangun dan membangunkan untuk melaksanakan shalat malam. Kami bagaikan sepasang sahabat sudah sangat dekat, padahal berjumpa dengan dia pun, saya belum pernah.

Singkat cerita, suatu saat HP saya berdering, ternyata sohib saya itu mengirim sebuah pesan singkatnya.

“Mas, untuk tahun ini, saya menjadi guru bantu SD yang tempatnya sangat jauh. Saya butuh sepeda motor untuk transportasi, tapi saya masih kekurangan dana untuk itu, padahal minggu depan saya sudah mulai mengajar.”

Tertegun saya membaca pesan singkatnya itu, kemudian saya membalasnya dengan mengirim sebuah pesan singkat.

“Apa nggak bisa naik angkutan umum? Dan usahakan berangkatnya pagi-pagi sekali.”

Dia pun membalas pesan singkat saya.

“Nggak bisa, mas, tempatnya sangat jauh, kalau naik angkutan umum, takut nggak keburu waktunya.”

Saat itu, perasaan saya ikut larut dalam kesulitannya. Terpikir oleh saya untuk membantunya, seketika itu juga saya mengirim pesan singkat.

“Ok, butuh beberapa lagi dananya? Insya Allah saya siap bantu.”

Kemudian dia membalas dengan menyebutkan kekurangannya dan nomor rekeningnya serta tak lupa dia mengucapkan terima kasih. Esok harinya, saya mengirim sebuah pesan singkat kepadanya.

“Saya sudah transfer uangnya, semoga bisa menutupi kekurangannya.”

Tak lama kemudian, dia mengirim sebuah singkat pesan balasan.

“Terima kasih banyak, mas, Insya Allah beberapa bulan ke depan saya melunasinya.”

Beberapa tahun kemudian, perasaan saya sangat kacau, pikiran saya tidak karuan, saya harus membayar sewa rumah kontrakan yang masanya sudah jatuh tempo, tapi saat itu saya masih kekurangan dana. Saya pun mengirim pesan singkat ke beberapa teman saya untuk mencari pinjaman uang, tapi jawaban yang kudapat, mereka belum bisa bantu.

Kemudian saya mencoba mengirim sebuah pesan singkat kepada sohib saya itu dengan menceritakan masalah yang saya alami, akhirnya, dengan keikhlasanya, dia meminjamkan uangnya untuk menutupi kekurangan pembayaran itu.

“Mas, saya sudah mentransfer uangnya. Maaf, hanya segitu yang dapat saya bantu,” begitu bunyi pesan singkat darinya.

“Alhamdulillah, sudah cukup kok. Insya Allah beberapa bulan ke depan saya akan melunasinya. Terima kasih banyak ya,” Itulah pesan singkat balasan saya.

Dari kisah di atas, menyadarkan saya, bahwa saya sebagai manusia adalah makhluk sosial. Dalam kehidupan ini, saya sangat tergantung pada orang lain. Di saat saya berkesempatan membantu orang lain, Insya Allah orang lain akan membantu saya di lain waktu. Begitulah kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Saat itu, saya pun merasakan betapa indahnya saling tolong menolong antara saya dan sohib saya itu.

Kisah kedua;

Di Sabtu malam beberapa minggu yang lalu, setelah melaksanakan shalat Isya dan menyantap makan malam, karena di dalam rumah udaranya agak sedikit kurang sejuk, saya beranjak ke depan rumah untuk mencari udara segar. Seperti biasa, saya duduk di tangga pintu gerbang rumah. Para tetangga saya pun biasanya menggunakan tangga itu untuk sekedar duduk-duduk, melepas lelah dan letih mereka.

Setelah duduk, saya dikagetkan oleh suara gaduhnya sekelompok anak. Suasana ramai yang ditimbulkan mereka membuat saya agak sedikit terganggu. Timbul niat saya untuk melarang mereka, tapi saya urungkan, saya biarkan mereka, saya pikir namanya juga anak-anak.

“Dek, mau ngapain?” saya bertanya kepada mereka.

“Mau main, om,” jawab mereka serentak.

“Mau main apa, dek?” saya bertanya lagi.

“Mau main jongkok berdiri, om,” jawab salah satu dari mereka.

"Main jongkok berdiri?" tanya saya dalam hati. Seperti apakah permainan itu? Rasanya masih asing buat saya, mungkin karena saya melalui masa kecil di kampung yang belum mengenal permainan tersebut.

“Silahkan, dek, tapi jangan berantam ya!” pesan saya pada mereka.

“Iya, om,” jawab mereka serentak.

Pandangan saya tertuju pada mereka. Awalnya saya tidak tertarik pada permainan mereka, lama-lama saya jadi tertarik pada apa yang sedang mereka mainkan.

Sebelum bermain, mereka mengadakan pom pim pah untuk menentukan siapa yang menjadi korban. Setelah mengetahui siapa yang jadi korban, barulah mereka bermain. Hiruk pikuk, lari sana lari sini, canda tawa, dan saling ledek meledek mewarnai permainan mereka.

“Ayo kejar saya,” kata salah satu dari mereka kepada si korban.

Si korban mengejarnya dan yang dikejar berusaha lari sekonyong-konyongnya untuk menghindar supaya tidak sampai kekejar, karena kalau sampai kekejar, dia akan menjadi korban selanjutnya.

“Nggak kena, nggak kena,” katanya kepada si korban yang tidak mampu mengejarnya.

Si korban berusaha mengejar yang lainnya.

“Ayo kejar saya, kalau kekejar, nanti saya kasih permen,” kata temannya sambil berlari. Karena larinya kurang kencang, akhirnya dia jongkok. Kalau sudah jongkok, si korban tidak berhak lagi untuk mengejarnya, tapi menjadi tanggung jawab temannya yang lain untuk membangunkannya.

“Sabar aja ya, nanti saya bangunin kamu,” kata salah satu di antara mereka kepada temannya yang jongkok.

Temannya itu berusaha membangunkannya. Setelah berhasil dibangunkan, dia bersiap lagi untuk dikejar dan dia pun bertanggungjawab untuk membangunkan temannya yang sedang jongkok agar nanti kalau dia jongkok bisa dibangunkan lagi oleh teman-temannya. Kalau semuanya jongkok, maka yang menjadi korban selanjutnya adalah yang jongkoknya paling pertama. Begitulah cara bermainnya.

Subnanallah, permainan itu saya akui sangatlah sederhana, tapi memiliki nilai sosial (baca : saling tolong menolong) yang sangat tinggi. Permainan itu seakan-akan mengajarkan anak-anak untuk saling tolong menolong. Bagaimana seorang anak dengan segala kemampuannya berusaha untuk menolong temannya yang memerlukan pertolongan dan nanti pada gilirannya temannya itu akan bergantian menolongnya. Dan yang terpenting dari permainan itu adalah dibangunkannya jiwa kebersamaan di antara mereka untuk saling tolong menolong dalam membantu sesamanya, atau dengan kata lain saling bahu membahu mewujudkan keinginan masing-masing secara bersama-sama. Alangkah indahnya permainan itu.

Saking lamanya saya merenung, sampai tak sadar kalau mereka sudah mengakhiri permainan mereka.

“Om, kami pulang dulu ya, sudah malam,” mereka berpamitan.

“Silahkan, dek,” jawab saya setengah terkejut.

***

Dari kisah-kisah di atas, dapat dikatakan bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial untuk mengemban tugas sebagai khalifah di muka bumi. Dalam kehidupannya, manusia secara naluriahnya mempunyai kecenderungan untuk hidup bermasyarakat. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia sangat tergantung pada orang lain, baik itu orang yang dekat dengannya maupun orang yang baru dikenalnya. Manusia tidak bisa hidup sendirian, tak bisa dipungkiri bahwa kesuksesan yang diraih seseorang pasti ada jasa orang lain, keberhasilan seseorang harus diakui pasti ada campur tangan orang lain.

Saling tolong menolong merupakan kewajiban setiap manusia sebagai individu dalam hidup bermasyarakat. Sekarang mungkin kita membutuhkan bantuan orang lain, boleh jadi di lain waktu orang lain memerlukan bantuan kita. Hal inilah yang menggugah kesadaran kita bahwa sebagai individu seharusnya kita saling bahu membahu untuk mewujudkan kebutuhan masing-masing secara bersama-sama.

Akan sangat indah bila rasa saling tolong menolong diniatkan hanya karena Allah. Karena dengan begitu, maka akan terjalin ukhuwah/persaudaraan yang kuat di antara sesama muslim.

Lihatlah di masa Rasullullah SAW, bagaimana kaum Anshar dengan ikhlas dan berusaha keras serta diniatkan hanya karena Allah untuk menolong saudaranya kaum Muhajirin. Tapi, kaum Muhajirin malah berkata, “Saudaraku, tunjukkan saja ke mana jalan kepasar?”

Di kisah lain, ada seseorang dari kaum Anshar malah menawarkan kepada saudaranya dari kaum Muhajirin untuk memilih salah satu dari isterinya untuk diceraikannya, supaya dapat dinikahi oleh saudaranya itu.

Subhanallah, alangkah indahnya jalinan persaudaraan di antara mereka. Hal itu bisa terjadi karena mereka seiman, seagama, dan sekeyakinan serta mereka lakukan semua hanya itu karena Allah.

Wallahu a’lam.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aryanto Abdul Latif sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Elis Khatizah | Mahasiswa Pasca Sarjana
Artikelnya bagus-bagus.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0974 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels