|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|
|
arialende@yahoo.com |
|
|
arialende |
|
aryanto0674@yahoo.co.id |


Sabtu, 20 Juni 2009 pukul 15:08 WIB
Penulis : Aryanto Abdul Latif
Diakhir bulan Februari 2009 yang lalu, sebuah organisasi serikat pekerja pada salah satu perusahaan BUMN mengadakan musyarawah untuk memilih ketua umum yang baru. Bertempat disebuah hotel di kawasan Puncak Bogor, musyawarah itu diselenggarakan, saya ditugaskan untuk menyiapkan materi dan juga mem-file hasilnya, tugas yang sangat melelahkan buat saya, apalagi menjelang dimulainya musyawarah.
Sesuai dengan jadwal, sebelum musyawarah dimulai, digelarlah acara pembukaan. Seperti biasa, acara dibuka dengan bacaan basmallah oleh pembawa acara, kemudian berlanjut dengan sambutan ketua panitia, sambutan ketua umum, dan diakhiri dengan sambutan Direktur Utama sekaligus membuka acara musyawarah secara resmi.
Saya menyimaknya dari sebuah meja yang dikhususkan untuk kesekretariatan. Saya terkesima dengan puisi yang sempat dibacakan oleh pembawa acara yang katanya puisi titipan dari seseorang yang harus dibacakannya. Puisi itu diberi judul dengan Makna sebuah Titipan.
Sering kali aku bertanya, ketika orang memuji milikku bahwa :
Sesungguhnya ini hanya titipan
Bahwa mobilku hanya titipan Allah
Bahwa rumahku hanya titipanNya
Bahwa hartaku hanya titipanNya
Bahwa putraku hanya titipanNya
Bahwa jabatanku hanya titipanNya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali olehNya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita
Ketika aku berdo’a, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak popularitas
Dan kutolak sakit, kutalok kemiskinan, seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika
Aku rajin beribadah, maka selayaknya derita menjauh dariku dan nikmat dunia kerap menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perilakuan baikku”
Dan kutolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah
Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama aja
Menanggapi puisi itu, dalam sambutannya, Direktur Utama bertutur, “Sesungguhnya manusia itu terbagi dalam 3 (tiga) bagian, yaitu, badan, ruh, dan amal. Badan akan kembali ke tanah karena memang dari itu dia berasal. Dan ruh akan kembali kepada pemilikNya, yaitu Allah. Amal inilah yang akan menemani kita di alam kubur, inilah milik kita yang mutlak.”
Masih dalam sambutannya, Direktur Utama melanjutkan, “Pembagian tiga bagian ini, seharusnya menyadarkan kita bahwa pada hakikatnya harta, jabatan, anak, istri. dan apa pun yang kita miliki merupakan milikNya. Kapan pun Dia mau ambil, rela atau tidak rela, suka atau tidak suka, kita harus menerimanya. Memang, harta dan jabatan harus kita cari untuk media kita beribadah kepadaNya. Dengan Harta, kita bisa naik haji, membayar zakat, menyantuni anak yatim, dan lain sebagainya. Pun dengan jabatan yang dimiliki, seharusnya menjadikan kita dekat kepadaNya. Tapi, mencarinya harus dengan cara yang baik dan halal. Karena kita menyadari bahwa semua itu akan kembali kepadaNya sebagai Pemilik yang mutlak. Buat apa kita ngoyo mencari dengan jalan yang tidak benar, tapi pada akhirnya akan diambil kembali olehNya. Jadi, yang terpenting, jadikan semua yang kita miliki menjadi media ibadah kepadaNya, sehingga menjadi amal yang akan menemani kita kelak.”
Direktur Utama melanjutkan sambutanya, “Mengapa Allah menitipkan kepada kita? Karena Allah Percaya kepada kita untuk dititipi dan mengharapkan agar kita menggunakannya di jalanNya dan seharusnya kita sebagai yang dititipi mampu menjaga kepercayaanNya dan menggunakannya di jalan yang benar. Misalnya Allah memberikan tangan, seharusnya digunakan untuk menolong orang lain, bekerja dan di jalan yang diridhaiNya. Allah memberi kita kaki, gunakan kaki itu untuk pergi menuntut ilmu, bersilaturrahmi, dan hal-hal yang berguna. Pun dengan anggota badan yang lain atau apa yang kita miliki, gunakanlah untuk kebaikan agar bisa menjadi amal buat kita.”
Di akhir sambutannya, Direktur Utama mengutarakan harapannya, “Saya berharap agar semua pekerja menyadari hal itu dan bekerjalah dengan baik, jujur, dan tidak mengambil yang bukan haknya. Tingkatkan semangat bekerja, tapi jangan lupa tingkatkan juga ibadah kita kepadaNya.”
***
Sepulang dari musyawarah, saya teringat sebuah kisah seorang budak hitam. Budak hitam itu bekerja di perkebunan milik majikannya yang lokasinya bersebelahan dengan perkebunan milik Abu Thalhah. Karena perkebunan milik majikannya tidak begitu luas, maka upahnya hanyalah tiga potong roti perhari.
Suatu ketika, si Budak hitam mendapatkan seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya tanda kelaparan. Ia memberikan satu dari tiga potong roti yang digenggamnya untuk anjing. Tapi setelah roti itu diberikan, anjing itu masih menjulurkan lidahnya sambil mengibaskan ekornya tanda anjing itu masih kelaparan. Maka si budak hitam itu memberikan lagi roti yang kedua yang dimilikinya, tapi anjing itu masih kelaparan. Akhirnya, roti terakhir pun diberikan kepada anjing, hingga anjing itu kenyang dan berlalu dari hadapannya.
Abu Thalhah yang sudah lama memperhatikan budak hitam ini, menjadi tertegun menyaksikan apa yang dilihatnya. Upah yang didapatnya pada hari ini dengan rela dan ikhlas diberikan kepada anjing.
Karena penasaran, Abu Thalhah bertanya kepada budak hitam, “Sadarkah apa yang engkau lakukan?”
“Saya sadar, tuan” jawab si bBudak.
“Adakah upah yang lain selain tiga potong roti itu?” Abu Thalhah bertanya lagi.
“Tidak ada, tuan. Upahku hanyalah yang tuan lihat,” jawab si budak itu.
“Apa engkau tidak merasa kuatir tidak makan?” tanya Abu Thalhah.
“Apa yang harus saya kuatirkan, tuan. Tiga potong roti itu hanyalah rezeki (baca : titipan) dari Allah saja, dan saya yakin akan ada upah yang lain dari Allah,” jawab si budak hitam.
Subhanallah, Mahasuci Engkau Ya Allah, sungguh mulianya si budak hitam. Seorang Budak yang menurut saya sukses memaknai titipan dari Allah yang berupa harta yang digunakan untuk kebaikannya sehingga dapat menjadi amalnya kelak.
“Lalu bagaimana dengan saya?” saya bertanya dalam hati. Malu rasanya bila bandingkan dengan budak hitam itu. Jangankan berbuat seperti budak hitam itu, menyisihkan sebagian kecil dari penghasilan saya saja masih terasa berat.
Saat itu juga, saya berdo’a, “Ya Allah, ampunilah saya, jikalau saya belum mampu mengunakan titipanMu seperti apa yang Engkau mau." Amin.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aryanto Abdul Latif sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.