|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|
|
arialende@yahoo.com |
|
|
arialende |
|
aryanto0674@yahoo.co.id |





Sabtu, 13 Juni 2009 pukul 16:00 WIB
Penulis : Aryanto Abdul Latif
Di suatu malam yang hening lagi sunyi, masih di atas hamparan sajadah sehabis shalat malam, kuraih Al-Qur’an, lalu kubuka Surat An-Nur.
"Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mu’min.” (QS. 24 : 3).
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula). Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).“ (QS. 24 : 26).
Kedua ayat itu menyadarkanku, bahwa kalau ingin mendapatkan jodoh yang baik, hendaklah menjadi orang yang baik dan shaleh. Jangan sampai kita menjadi orang yang buruk, karena bisa-bisa akan mendapatkan jodoh yang buruk. Sudah menjadi ketetapan Allah yang bersifat umum bila menjalani kehidupan ini dengan baik, niscaya akan melahirkan kebaikan-kebaikan pula. Begitu pun sebaliknya, bila kehidupan ini dihiasi dengan keburukan dan kejahatan, tentunya akibat dari perbuatan buruk akan melahirkan keburukan juga. Tapi, itu semua terlepas dari ketetapan Allah yang berupa Qadha atau takdir dan IradahNya. Sah-sah saja bagiNya untuk berbuat di luar ketetapan yang bersifat umum tersebut. Kesimpulannya, seorang istri adalah cermin bagi suaminya. Jika istrinya baik, maka baik pula suaminya. Begitu pun sebaliknya.
Saat itu, aku teringat seorang sahabatku yang sudah 10 tahun tidak pernah bertemu. Di mataku, dia seorang sahabat yang baik dan sangat rajin beribadah. Jangankan Ibadah yang wajib, yang sunnah pun dia jalani. Tapi, dia ditakdirkan oleh Allah mendapatkan seorang istri, yang menurut pengakuannya, belumlah menjadi seorang muslimah yang baik. Disamping istrinya belum belum berjilbab, shalat atau ibadah yang lainnya pun sering ditinggalkannya. Berulang kali sahabatku menasihati istrinya, tapi tetap saja seperti itu. Dia bertanya kepadaku, "Benarkah dia yang terbaik untukku?"
Kukatakan kepadanya bahwa Allah Mahatahu akan segala sesuatu, termasuk perjalanan hidup seorang hambaNya di dunia ini. Allah juga Maha berkehendak, apa pun yang Dia kehendaki, pasti akan terjadi, termasuk di dalamnya mengenai jodoh hambaNya. Dan di balik kehendakNya itu, pasti mengandung hikmah, baik itu berupa teguran, cobaan, ataupun ujian. Boleh jadi Allah memberi jodoh yang belum baik, supaya hal tersebut menjadi ladang amal bagi kita. Atau Allah menyadarkan kita bahwa kita belumlah menjadi orang yang benar-benar baik, maka kita harus berusaha memperbaiki diri. Yang terpenting dari semua itu adalah menerima ketetapanNya, kemudian berusaha untuk memperbaiki diri dan membimbing istri agar menjadi muslimah yang taat kepada Allah.
Masih di atas hamparan sajadah, di malam itu ku berdo’a kepada Allah, agar Allah selalu membimbing sahabatku dan memberinya kesabaran dalam memperbaiki diri dan membimbing istrinya. Dan tentunya, aku pun berdo'a agar Allah SWT senantiasa menjagaku dan keluargaku dalam keistiqamahan mengarungi bahtera rumah tangga sesuai dengan perintahNya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aryanto Abdul Latif sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.