Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
Alamat Akun
http://aryanto.kotasantri.com
Bergabung
14 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Borong, Manggarai Timur - Nusa Tenggara Timur
Pekerjaan
Karyawan Swasta
Aryanto, dari namanya mungkin orang mengira saya dari Jawa, tapi bukan, saya dilahirkan di Ende, NTT. masa kecil dilalui di Ende, kelas 1 SMP hijrah ke Jakarta mengikuti kakak, dan melanjutkan kuliah program S1 di salah satu universitas swasta di kota Malang.....Nggak ada yang istimewa dari saya.... saya hanyalah hamba …
arialende@yahoo.com
arialende
aryanto0674@yahoo.co.id
Tulisan Aryanto Lainnya
Untukmu Sahabat
13 Juli 2009 pukul 19:19 WIB
Pengakuan Diri
6 Juli 2009 pukul 20:29 WIB
Muhasabah Diri
24 Juni 2009 pukul 18:57 WIB
Makna Sebuah Titipan
20 Juni 2009 pukul 15:08 WIB
Do'a dan Harapan
17 Juni 2009 pukul 20:39 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 16 Juli 2009 pukul 16:00 WIB

Sepenggal Kisah Kejujuran Mama Tua

Penulis : Aryanto Abdul Latif

Suatu malam di awal bulan Mei 2009 yang lalu, setelah melaksanakan shalat Isya, HP saya berdering, ternyata kakak saya mengabarkan kalau kakak dari Ibu (mama tua, biasa kami memanggilnya, karena saudara tertua dari keluarga Ibu) di kampung meninggal dunia karena penyakit yang sudah lama dideritanya, inna lillahi wa inna illaihi raji’un.

Seketika itu juga, saya langsung menelepon ke kampung menanyakan kondisi dan situasi di sana. Semua sanak saudara berduka, isak tangis pun tak dapat dihindari, semua merasa kehilangan seseorang yang selama ini banyak jasanya buat keluarga. Saya tidak dapat melihat sosoknya untuk terakhir kalinya. Saya pun hanya mendo’akanya dari jauh, semoga Allah menerima semua amal ibadahnya selama beliau masih hidup. Amin…

Dulu, waktu masih bersekolah di kampung, saya pernah berlibur seminggu di rumah mama tua. Dia mengajak saya ke pasar untuk menemaninya berjualan, memang mama tua punya toko yang menjual Alat Tulis Kantor (ATK).

Waktu itu, ada seorang pembeli, dari penampilan dan seragam yang dikenakannya, saya mengetahui kalau pembeli itu dari instansi pemerintah (Pemda). Setelah membeli beberapa keperluan kantor dan membayarnya sesuai dengan harga yang tercantum di nota pembelian, kalau tidak salah dia membayarnya hampir 2 juta rupiah, pembeli itu meminta mama tua untuk membuatkan lagi nota pembelian dengan harga di atas harga yang sebenarnya, katanya untuk pertanggungjawaban dia ke atasannya. Tapi, mama tua tidak mau membuatnya lagi, karena itulah harga yang sebenarnya.

“Ibu... Tolonglah, bu, buatkan lagi notanya?” kata si pembeli itu.

“Pak, kenapa harus dibuatkan lagi? Itu kan sudah saya buatkan dengan harga yang sebenarnya,” jawab mama tua.

Berkali-kali si pembeli itu meminta dibuatkan nota pembelian, tapi mama tua tetap kokoh dengan sikap ketidakmauannya. Karena permintaannya tidak dipenuhi oleh mama tua, pembeli itu berkata, “Kalau begitu, saya tidak jadi beli, bu.” Sambil menyerahkan semua barang yang sudah dibelinya.

“Silahkan cari toko lain yang bisa bapak suruh untuk berbohong. Saya tidak bisa berbohong, karena saya takut kepada Allah,” jawab mama tua sambil menyerahkan lagi uang si pembeli itu.

Itulah mama tua, tidak mau melakukan hal-hal yang menurutnya tidak benar, termasuk berbohong.

Saya pun teringat kejadian yang lain di toko itu. Suatu waktu, datang seorang pembeli untuk membeli sebuah buku tulis. Setelah menerima buku dan membayarnya, karena terburu-buru, pembeli itu langsung pulang dan lupa kalau uang yang dibayarkannya masih ada kembaliannya. Mama tua yang mengetahui si pembeli tidak ada, langsung mencari dan mengejarnya sampai ke ujung pasar yang jaraknya cukup jauh dari tokonya. Walaupun kembaliannya hanya Rp. 1000 saja, mama tua rela mengejarnya. “Nak, walaupun cuma 1000 perak (baca :1000 rupiah), itu bukan milik kita, harus kita kembalikan kepada yang punyanya,” katanya waktu itu.

Itulah mama tua. Saya banyak belajar dari mama tua tentang arti sebuah kejujuran. Thank's you, mam, engkau mengajari diriku sesuatu yang sangat berharga, yaitu kejujuran.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aryanto Abdul Latif sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Endang Supriatna, S.Pd. | Guru
Ingin bergabung pada web yang sangat bermanfaat bagi ummat ini. Semoga web ini benar -benar menjadi media ukhuwah dan penebar ilmu. Amien.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1193 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels