Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
Alamat Akun
http://setta.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Mampang Prapatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Analis Industri
Penikmat sastra, admin situs Cerpen Koran Minggu di http://lakonhidup.wordpress.com
http://lakonhidup.wordpress.com
setta_81@yahoo.com
setta_81@yahoo.com
Tulisan Setta Lainnya
Ladang Angkara
27 Maret 2009 pukul 17:15 WIB
Well-Dying
23 Maret 2009 pukul 16:30 WIB
Aku Akan Memanggilmu Ibu, Selamanya
13 Maret 2009 pukul 20:04 WIB
Berita Lelayu
11 Maret 2009 pukul 22:15 WIB
Titik Perubahan
11 Maret 2009 pukul 15:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 6 April 2009 pukul 15:55 WIB

Ia Datang Tak Mengetuk Pintu Lebih Dulu

Penulis : Setta SS

Seorang pemuda di Damaskus telah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan. Dia memberi tahu ibunya bahwa waktu take off pesawat adalah jam sekian. Ibunya diminta membangunkannya jika telah dekat waktunya. Dan pemuda itu pun tidur.

Sementara itu, si ibu mengikuti berita cuaca dari radio yang menjelaskan bahwa angin bertiup kencang dan langit sedang mendung. Sang ibu merasa sayang terhadap anak satu-satunya itu. Karenanya, dia tidak membangunkan anaknya dengan harapan dia tidak jadi pergi pada hari itu, lantaran cuaca sangat tidak mendukung itu. Dia takut akan terjadi peristiwa yang tidak diinginkan.

Ketika dia sudah yakin bahwa waktu perjalanan telah lewat dan pesawat telah tinggal landas, ibu itu bermaksud membangunkan anaknya. Ternyata si anak telah meninggal di tempat tidurnya. [1]

***

Di negeri Syam ada seorang laki-laki yang memiliki truk Lorie. Ketika truk itu dijalankan, tanpa diketahuinya di atas badan truk itu ada orang. Truk itu mengangkut peti yang sudah siap untuk menguburkan mayat. Sedangkan di dalam peti itu terdapat kain yang bisa digunakan sewaktu-waktu dibutuhkan.

Tiba-tiba hujan turun dan air mengalir deras. Orang itu pun bangun dan masuk ke dalam peti, dan membungkus dirinya dengan kain yang ada di dalam peti. Kemudian di tengah perjalanan, ada seorang yang lain naik menumpang ke bak truk itu di samping keranda. Dia tidak tahu bahwa di dalam peti itu ada orang.

Hujan belum berhenti. Orang yang kedua ini mengira bahwa dirinya hanya sendirian di dalam bak truk itu. Tiba-tiba dari dalam peti ada tangan terjulur, untuk memastikan apakah hujan sudah berhenti atau belum. Ketika tangan itu terjulur, kain yang membungkusnya juga terjulur keluar. Si penumpang itu kaget dan takut bukan kepalang. Dia mengira bahwa mayat yang ada di dalam peti itu hidup kembali. Karena takutnya, dia terjungkal dari truk dengan posisi kepala di bawah. Dan, mati. [2]

***

Sebuah bus penuh sesak dengan penumpang. Sopirnya selalu menoleh ke kiri dan ke kanan, dan secara tiba-tiba sopir itu menghentikan bus itu. Para penumpang pun bertanya, “Mengapa engkau menghentikan bus ini?” Sopir itu menawab, “Saya berhenti untuk menghampiri orang tua yang melambai-lambaikan tangannya hendak turut menumpang bersama kita.”

Para penumpang jadi bertanya-tanya, “Kami tidak melihat siapa-siapa.”

Tapi sopir itu melihatnya, “Lihat, itu dia.”

Mereka tetap bingung, “Kami tidak melihat seorang pun.”

Sopir itu pun kembali berkata, “Kini dia datang untuk naik bersama kita.” Semua penumpang berkata, “Demi Allah, kami tidak melihat siapa-siapa.” Dan secara tiba-tiba pula, sopir itu mati terduduk di atas kursinya. [3]

***

Seorang teman saya sakit demam berdarah dan harus dirawat inap di RSUD Sardjito, Yogyakarta. Selama kurang lebih satu minggu, kami teman-teman dekatnya bergiliran menjaganya di sana.

Di dalam satu ruang perawatan itu, ada dua orang pasien. Di samping ranjang teman saya adalah seorang kakek penderita asma akut. Kakek itu ditunggui istri dan seorang anak perempuannya. Setelah lewat satu minggu menjalani perawatan, kondisi kakek itu sudah berangsur membaik. Nafasnya sudah mulai normal. Selang oksigen yang biasa terpasang di hidungnya sudah boleh dilepas. Dan, sang kakek sudah bisa menghabiskan setiap jatah makannya dengan lahap.

Malam itu, Minggu, 27 Januari 2008. Saya kembali kebagian piket menunggui teman saya.

“Wah, kakek sudah sehat ya?” kata saya ikut senang melihat perkembangan kondisi sang kakek. “Kapan pulang, Kek?”

“Besok pagi kakek pulang,” sang istri menimpali pertanyaan saya dengan wajah berhias senyuman.

Lewat tengah malam itu, saat lorong-lorong di sepanjang bangsal perawatan sudah senyap. Saya mencoba memejamkan mata di sebuah bangku dengan posisi duduk. Di ruangan yang sama, istri kakek dan anak perempuannya tampak sudah tertidur di lantai di samping ranjang kakek. Teman saya juga sudah terlelap.

Tiba-tiba asma sang kakek kambuh lagi. Nafasnya tersengal hebat memburu tak teratur. Tubuh kurusnya berguncang-guncang mengikuti irama tarikan nafasnya. Spontan istri dan anak perempuan kakek terbangun dan panik seketika.

Saat itu, agak terlambat dokter jaga tiba untuk memeriksa kondisi sang kakek. Dan, kakek pun menghembuskan nafasnya yang terakhir tak lama berselang setelahnya.

Benar apa yang dikatakan istri kakek, pagi itu kakek pulang. Pulang meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.

***

Maka, sungguh indah ungkapan Ali bin Abi Thalib, “Sesungguhnya kematian terus mendekati kita, dan dunia terus meninggalkan kita. Jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah kalian jadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah beramal dan tidak ada hisab, dan esok adalah hisab dan tidak ada lagi beramal.”

Ungkapan Ali itu mengingatkan kita, bahwa manusia harus selalu siap siaga, memperbaiki keadaannya, dan senantiasa memperbaharui taubatnya.

Kematian itu tidak pernah meminta izin kepada siapa saja, tidak pernah pilih kasih kepada siapa saja, dan tidak pernah merajuk. Kematian itu tidak pernah memberikan aba-aba terlebih dahulu.

Sesungguhnya ada banyak sekali ragam potret kematian di sekitar kita. Semoga Allah SWT menghindarkan kita dari kematian su'ul khatimah. Amin.

***

4 April 2oo9 o8:o6 p.m.

[1], [2], dan [3] dikutip dari buku Laa Tahzan karya Dr. 'Aidh Al-Qarni.

http://lakonhidup.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Setta SS sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Mumtahah Annisa | Ibu Rumah Tangga
Di sini tempatnya kalau ingin berdiskusi sama teman-teman yang asyik banget.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0967 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels