|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|
|
|
http://lakonhidup.wordpress.com |
|
setta_81@yahoo.com |
|
|
setta_81@yahoo.com |





Senin, 23 Maret 2009 pukul 16:30 WIB
Penulis : Setta SS
Hwang Yu-jin terbaring dalam peti mati di ruangan temaram. Insinyur Mesin berusia 29 tahun itu belum mati. Prosesi kematian bohong-bohongan di kantor pusat Korea Life Consulting Co. di Chungju, Korsel, tersebut merupakan bagian dari tren warga Korsel untuk menikmati suasana kematian. Di tengah kemajuan Korsel yang pesat, terapi nyeleneh itu dinilai bisa menentramkan jiwa.
Ya, kalau hidup sehat dalam bahasa Inggris disebut well-being, di
Untuk beberapa jenak, mata saya tak beralih dari baris-baris kata yang tepat berada di pojok kanan bawah harian Jawa Pos beberapa waktu lalu itu.
Di
Saya tidak tahu pasti apa definisi menentramkan jiwa yang menjadi tujuan dari prosesi kematian bohong-bohongan di atas. Apakah hanya sebatas menikmati suasana kematian secara fisik-jasadiyah semata, atau sampai pada hakikat kematian itu sendiri yang hakiki?
Bahwa kematian adalah akhir dari episode perjalanan hidup seorang manusia di dunia yang fana ini dan merupakan pintu gerbang menuju kehidupan abadi di akhirat
Terlepas dari apa motif sesungguhnya, tidaklah salah jika kita juga mencobanya. Tidak harus masuk ke dalam peti mayat sungguhan, tentu saja. Tidak pula harus dengan cara menggali tanah seukuran liang lahat kemudian masuk dan berbaring di dalamnya seperti yang dilakukan oleh para salafush-shaleh saat jiwa mereka terasa bebal dan malas beribadah.
Tapi cukup dengan berbaring seperti layaknya posisi jenazah yang dikubur saat akan berangkat tidur, misalnya. Karena intinya adalah dzikrul maut, yaitu membayangkan saat-saat kehidupan terakhir kita sebelum ruh keluar dari raga ini.
Apa yang paling sering menggoda manusia dari kehidupan dunia dan membuatnya mudah terlena, salah satunya ialah karena ajalnya juga tidak dia ketahui. Karena akhir dari hidup ini tidak pernah terdefinisi sebelumnya.
Tetapi jika kita melihat berkali-kali, Al-Qur’an menekankan masalah ajal. Dan Rasulullah SAW juga berkali-kali menekankan tentang masalah kematian. Sesungguhnya yang diinginkan oleh Al-Qur’an dan sunah Rasul SAW ialah agar setiap saat kita menyadari titik terakhir ke mana kita menuju. Atau kita menyadari visi dan misi kehidupan kita.
Sesungguhnya yang disebut dengan keimanan itu selalu bermula dari titik kesadaran ini. Bermula dari apa yang disebut oleh Ibnul Qoyyim dengan Al-Yaqallah. Saat dimana jiwa kita terhenyak oleh kenyataan bahwa kita akan memiliki second life. Kehidupan kedua setelah kehidupan di dunia ini.
Maka, bagian yang paling menyentuh dan paling menggugah keimanan kita ialah kesadaran yang kuat tentang waktu. Karena kesadaran tentang waktu ini bagian yang paling kuat membentuk
Yaitu apabila kita mampu merasakan setiap detik dari perjalanan waktu kita. Merasakan keberartian pada setiap detik yang kita lalui. Menyadari bahwa pohon kehidupan kita daun-daunnya setiap hari mulai berguguran. Sehingga ingatan kita tentang titik akhir dari kehidupan ini selalu kuat mempengaruhi cara kita berpikir, cara kita merasa dan cara kita bertindak.
***
19 Januari 2oo8 o3:o2 p.m
http://lakonhidup.wordpress.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Setta SS sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.