HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
Alamat Akun
http://setta.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Mampang Prapatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Analis Industri
Penikmat sastra, admin situs Cerpen Koran Minggu di http://lakonhidup.wordpress.com
http://lakonhidup.wordpress.com
setta_81@yahoo.com
setta_81@yahoo.com
Tulisan Setta Lainnya
Berita Lelayu
11 Maret 2009 pukul 22:15 WIB
Titik Perubahan
11 Maret 2009 pukul 15:15 WIB
When Silent is Gold
4 Maret 2009 pukul 15:38 WIB
Talk Less Do More
2 Maret 2009 pukul 00:20 WIB
Jangan Pernah Sekali-kali Menghakimi!
20 Februari 2009 pukul 03:20 WIB
Pelangi
Pelangi » Bingkai

Jum'at, 13 Maret 2009 pukul 20:04 WIB

Aku Akan Memanggilmu Ibu, Selamanya

Penulis : Setta SS

Ibu, membuka kembali diary kebersamaanku denganmu selama lebih dari 18 tahun adalah ibarat menghitung butiran pasir putih di Pantai Selatan sana. TitahNya lah yang telah menggariskan, sejak belum genap bilangan satu tahun usiaku, aku sudah ada dalam dekapan hangatmu, di awal 1982 silam.

Rasa-rasanya tak akan cukup tinta yang kumiliki ini untuk melukiskan seberapa besar volume cintamu padaku. Karena begitu seringnya kau menunjukkannya di depanku, terukir indah di setiap detak nadi kebersamaanku denganmu. Hingga kadang aku tak lagi menganggap hal-hal yang sungguh istimewa itu sebagai sesuatu yang luar biasa.

Adalah rotasi zaman yang kembali membetot memoriku tentangmu, Ibu. Saat-saat membandingkan wajahmu dulu di album kenangan itu dan sosokmu kini. Saat-saat awal masa kanak-kanakku dulu dan sekarang, setelah lebih seperempat abad masa berlari dari tumpukan kenanganku.

Lipatan-lipatan kulit di lekuk pipi dan jidatmu sudah tidak malu lagi menampakkan wujud aslinya. Kedua lututmu sudah tak mampu tegak menyangga tubuh dan membawamu berjalan ke sawah atau ladang setiap hari. Pun juga sendi-sendi di sekujur tubuhmu yang lebih sering merengek dan meronta daripada berkompromi, saat mentari berganti kerlip bintang menjelang.

Namun, sungguh, bagiku lipatan-lipatan waktu yang nyata terpahat di sudut-sudut ruang kemanusiaanmu kini, tak akan pernah sanggup menggerogoti sosok kepahlawananmu dari sisiku. Cinta itu selalu tumbuh, tak pernah mengenal sedang musim apa kini. Tumbuh dan akan terus tumbuh hingga tak sanggup lagi untuk tumbuh.

Aku masih ingat, dulu, saat ku pulang ke kampung kecil kita ketika sahabat karibku melangsungkan pesta pernikahannya, tak jauh dari rumah kita. Betis kananku bengkak besar, cedera akibat terjangan bek lawan yang menghentikan pergerakanku sebagai penyerang di arena sepakbola Pekan Olah Raga (POR) jurusan di kampusku. Berjalan pun aku kesakitan, saat itu.

Di saat orang lain tak ada yang benar-benar peduli dengan kondisiku, jauh sebelum adzan Shubuh berkumandang, kau masih sempat membangunkanku dari tidur tak nyenyak itu, Ibu. Hanya untuk memberikan sebungkus debu hangat yang dilapisi kain tipis untukku.

“Biar bengkaknya surut,” katamu kala itu dengan untaian cinta yang tak pernah pudar dari sorot matamu yang semakin meredup.

Kau tahu, Ibu, aku merindukan perhatian-perhatian kecilmu itu di saat aku sudah jauh darimu kini.

Aku masih ingat, dulu, saat aku baru sampai di rumah sederhana kita selepas mengecek pengumuman tes kelulusanku di sebuah lembaga riset di rumah saudara kita yang mempunyai akses internet. Dan aku tidak lulus.

Aku menjadi saksi tangisanmu kala itu. Sejujurnya, aku pun kecewa berat saat itu. Tapi tak sampai menangisinya sepertimu, Ibu. Bukankah kalau boleh menangis, akulah orang yang paling berhak menangisinya? Tapi kenapa kau yang justru menangisi ketidaklulusanku, Ibu?

Cinta. Aku baru menemukan arti dari tangisanmu itu setelah sekian lama momentum itu berlalu. Cinta. Tidak lain.

Saat ku enggan berangkat ke masjid untuk mengaji di sore hari, dulu, ketika ku masih terbata-bata mengeja huruf demi huruf hijaiyah, kau sering mengomeliku. Kini kutahu, betapa berharganya omelanmu itu. Kau hanya ingin aku lebih mengenalNya lebih dari pengenalanmu sendiri kepadaNya.

Pun juga, dulu, saat kumalas bangun sahur di setiap pagi Ramadhan. Kau selalu sabar membangunkanku berkali-kali hingga aku benar-benar terjaga. Tak pernah absen membuatkanku kolak dengan tanganmu sendiri menjelang waktu berbuka tiba, atau sekadar menghadirkan segelas teh manis hangat untukku.

Dan, aku yakin, masih ada ribuan potret lain yang tercecer dan luput dari memori ingatanku tentang betapa luasnya samudera cintamu untukku, Ibu. Kini kusadari sepenuhnya, betapa selama ini aku telah alfa dan tak jeli mencatat jejak-jekak rajutan cintamu di sepanjang alur usiaku.

Bahkan, karena begitu luas samudera cintamu itu, aku mungkin tak sadar telah diam-diam melukai hatimu, Ibu. Oh, maafkan semua kekhilafanku selama ini, Ibu. Untuk setiap ucapan dan tingkah laku yang mungkin telah menerbitkan sejumput benih-benih kemurkaan di ruang hati putihmu. Untuk setiap praduga dan bisikan hatiku yang tidak selayaknya tentangmu. Maafkanlah aku, Ibu.

***

Wanita mulia itu, yang aku akan memanggilnya Ibu untuk selamanya, tak lain adalah ibu dari ayahku sendiri. Ia yang mengasuhku sejak bayi merah hingga kutumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa kini. Ia yang tak pernah lelah mendo'akanku di setiap hela nafasnya. Ia yang cintanya seluas samudera. Ia, wanita perkasa itu, adalah pahlawan idolaku.

Tuhan, satu pintaku padaMu. Panjangkanlah usianya dalam nikmat iman dan sehat. Sampai aku bisa menghapus jejak tangisnya beberapa tahun lalu dengan binar kebahagiaan terpancar nyata dari pelupuk matanya suatu hari nanti. Sebelum salah seorang di antara kami, aku atau Ibu, menjumpaiMu dengan senyum keikhlasan menyertainya.

Kabulkanlah pintaku ini. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Pengabul hajat hambaMu.

***

19 Pebruari 2oo9 oo:39 p.m

Kepadamu, Ibu, sungguh aku mencintaimu dengan tidak sederhana.

http://lakonhidup.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Setta SS sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Mutiara | Swasta
Alhamdulillah, senangnya udah bisa bergabung dengan KotaSantri.com. Jazakumullah.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1395 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels