|
Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
|
|
|
http://lakonhidup.wordpress.com |
|
setta_81@yahoo.com |
|
|
setta_81@yahoo.com |





Rabu, 4 Maret 2009 pukul 15:38 WIB
Penulis : Setta SS
Most of man’s troubles come from his inability to sit and be quiet for twenty minutes. (Blaise Pascal)
***
Sesekali, bolehlah kita menyempatkan diri hadir di acara nonton bareng (nobar) salah satu partai big-match antara dua tim sepakbola raksasa yang fans-nya tersebar hampir di setiap sudut jagat raya ini. Di sebuah kafe, kedai kopi, atau di sebuah warung burjo. Tidak hanya untuk menonton, tentu saja, tapi sambil bercermin diri di sana.
Semisal laga derby antara AC Milan vs Internazionale Milan di kancah Serie A Italia. Manchester United (MU) vs Liverpool di ranah EPL (English Premier League). Duel antara dua musuh bebuyutan penguasa La Liga Spanyol, Real Madrid vs Barcelona.
Atau laga krusial yang mempertemukan dua negara yang menjadi gudangnya para maestro olahraga paling populer sejagat itu. Seperti Brazil, Argentina, Italia, Inggris, Spanyol, Jerman, Prancis, Portugal, dan Belanda. Boleh juga saat Liga Champions di Benua Biru sana sudah memasuki fase knock-out.
Seperti dini hari itu, saya menyaksikan laga perempat final leg pertama Liga Champions Eropa antara wakil Italia, AS Roma, menjamu juara Inggris MU yang disiarkan secara live oleh stasiun TV lokal di sebuah warung burjo. Di sana sudah ada dua kubu suporter yang masing-masing menjagokan tim favoritnya.
Sebagian fans fanatik MU mengumpat para skuad AS Roma yang terlalu kasar mem-press bintang muda MU yang sedang naik daun, Cristiano Ronaldo. Gelandang energik yang sudah dipercaya memegang ban kapten timnas Portugal meski masih tergolong sangat muda itu, 23 tahun.
Di pihak lain, para Romanisti tak kalah sewot mengomentari permainan tim kesayangan mereka yang unggul ball-possition di babak pertama dan terus membombardir pertahanan MU, tapi tak kunjung juga membuahkan gol. Begitulah, suasana semarak akan terjadi di sepanjang laga berlangsung.
Sudah menjadi tradisi, bahwa selama 2x45 menit kedua kelompok suporter akan saling ejek satu sama lain. Tak jarang disertai umpatan semau gue saat pemain dari tim kesayangannya atau tim lawan melakukan kesalahan fatal, yang sesungguhnya sangat manusiawi. Saat seorang pemain gagal menjadi eksekutor penalti atau ketika seorang kiper melakukan blunder yang tidak perlu, misalnya.
Kata-kata kasar seperti "goblok", "bodoh", "tolol", dan semacamnya dalam berbagai versi bahasa adalah biasa dan tak aneh lagi dalam acara nobar. Pun juga teriakan histeris yang over-loud dan tawa membahana saat gol tercipta.
Sejujurnya, mulut saya kadang suka latah dan ikut-ikutan jadi "ember" juga saat menyaksikan tim favorit saya berlaga. Tim Zebra dari kota Turin-Italia, Juventus.
Namun, pada acara nobar dini hari itu, saya memposisikan diri pada posisi netral. Saya bukan fans MU maupun AS Roma. Saya hanya diam dan tak mengomentari sepatah kata pun pada setiap momen yang terjadi di lapangan hijau di layar kaca itu. Saya berusaha menjadi penonton yang baik.
Dan, tiba-tiba, saya merasa asing dengan mereka, dua kubu suporter di sekitar saya. Mereka tampak seperti orang-orang yang tidak pernah mendapatkan pelajaran moral tentang tata karma dan sopan santun saja. Mereka tak mampu mengontrol diri dari mengeluarkan kata-kata umpatan yang sangat kasar dan tidak sopan itu. Mereka sudah tidak risih lagi dengan tingkahnya. Dan rasa malu itu sudah tercerabut dari dalam dirinya tanpa mereka sadari sepenuhnya.
Saya jadi membayangkan, betapa memalukannya saat-saat saya sendiri pernah menjadi salah satu sosok dari mereka itu. Oh, my God!
Tapi, yang sudah berlalu, biarlah. Asal tidak saya ulangi lagi pada kesempatan berikutnya. Semoga.
***
3 April 2oo8 o7:54 p.m
http://lakonhidup.wordpress.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Setta SS sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.