QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Alamat Akun
http://adilla.kotasantri.com
Bergabung
3 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Nanyang Crescent - Singapore
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Adilla Lainnya
Ada Apa dengan Langit?
1 Oktober 2009 pukul 17:08 WIB
Dan Langit Pun Menangis
2 Agustus 2009 pukul 18:12 WIB
Selamat Ulang Tahun
14 April 2009 pukul 15:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 2 April 2009 pukul 15:35 WIB

Guru Sejati

Penulis : Adilla Anggraeni

Siapa yang Anda sebut guru? Orang yang berdiri di depan kelas dan mengajar? Yang menulis dan memberi nilai di rapor? Atau sosok-sosok lain yang hadir dalam hidup, dan tidak pernah terlupakan?

Bagi saya guru adalah pengertian kedua. Sampai tingkat dua kuliah, saya mengenal cukup banyak orang. Pribadi-pribadi unik mampir dalam hidup saya dan menggoreskan warna lain, warna yang tidak pernah saya lihat dan ketahui sebelumnya.

Namanya sebenarnya Genaziz, tapi ia lebih suka disebut Gege. Sosok berkulit sawo matang yang periang, apa adanya, dan penuh tawa. Ialah 'guru' saya, walau kami sebenarnya seumur, sekelas selama dua tahun di kelas percepatan SMA.

Gege yang periang, yang tidak pernah marah. Gege yang tanpa beban, walau sering dikhawatirkan guru tidak lulus SPMB karena kesantaiannya dalam belajar. Siapa sangka semester terakhir nilainya melejit, bahkan menembus SPMB dengan presentase nilai 72% dan diterima di jurusan teknik Fisika ITB?

Gege sangat periang, saya tidak pernah melihatnya marah selama dua tahun sekelas dengannya. Ia juga penyemarak suasana, selalu datang dengan leluconnya yang konyol dan tawanya yang keras dan khas. Juga kepolosan yang langka. Gege adalah makhluk tersantai di kelas kami. Ia tetap santai mengumbar nilai ulangannya yang sering mendapat nilai terendah di kelas kami, yang tidak terlalu jelek sebenarnya, karena kelas kami adalah kelas khusus, dengan hanya 9 orang yang ada di dalamnya.

"Gile, nilai gue jelek banget nih!" Katanya tanpa beban, saat ulangan dibagikan. Saya terbengong. Nilai saya saat itu lebih tinggi darinya, walaupun tidak seberapa bagus. Sebegitu pun saya masih bersusah hati, karena nilai teman-teman lebih tinggi dari saya. Kalau saya mendapat nilai itu, masih bisakah saya tersenyum? Bisakah saya dengan santai memberi tahu teman sekelas bahwa saya mendapat nilai jelek dengan ketenangan itu?

Gege ya Gege. Makhluk langka dengan semangat, etos kerja, keriangan dan kepercayaan diri unik, membuat ia disukai teman-teman. Sangat rendah hati dan apa adanya. Di balik tubuhnya yang tidak terlalu besar, tersembunyi jiwa yang luar biasa besar. Gege, ya, namanya Gege.

Begitu kuliah saya bertemu Ronald. Saya baru tahu kalau ia mahasiswa dari Indonesia waktu kami bertemu di lecture theatre. Ternyata ia sekelas dengan teman saya yang saya kenal lebih dulu. Kami juga sekelas untuk satu mata kuliah.

Begitu berkenalan saya langsung merasa menyukainya. Ronald periang, baik hati dan apa adanya. Membuat saya teringat teman SMA saya. Saya tidak terlalu sering bertemu dengannya, karena kerap kali ia duduk dengan teman-teman sejurusan lelaki saat kuliah bersama. Tapi ia masih sering menegur dan memanggil nama, dan menanggapi dengan ramah saat saya mengajaknya mengobrol.

"Dil, mau jawaban past year exam? Ada di Nancy tuh, kalau mau ambil aja ya." Itu yang dikatakannya melalui messenger saat kami chatting kira-kira seminggu sebelum ujian. Saya tertegun. Tidak sepatah kata pun saya menyinggung soal-soal ujian tahun lalu saat itu. Dan saya cukup tahu bahwa ia pasti mengerjakan bersama dengan Irwan, salah satu teman kami yang memang terkenal brilian. Dan bisa saja ia tidak menawarkan benda itu kepada saya, dan menyimpannya sendiri. Bukankah begitu?

Saya terharu. Inilah persaudaraan yang sesungguhnya. Ia juga dengan senang hati meminjamkan fotokopi jawaban soal-soal di textbook kami kepada teman-teman perempuan tanpa diminta. Bahkan ia sendiri yang memfotokopi, kami hanya tinggal menerima dan membayar ongkosnya.

Saya tidak tahu akan ada berapa guru lagi yang bisa saya temui semasa hidup. Semoga saja siapapun yang dekat di hati saya saat ini adalah sosok-sosok guru di sekolah alam semesta yang layak menjadi panutan.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Adilla Anggraeni sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Agoes | TKI
Di sini tempat kumpul-kumpul, atau hanya sekedar ingin menambah ilmu tentang agama, atau hanya ingin baca-baca artikel-artikel bagus dari temen-temen di KotaSantri.com.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1422 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels