|
HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya.
"
|

Selasa, 14 April 2009 pukul 15:45 WIB
Penulis : Adilla Anggraeni
"Assalamu'alaikum Dilla… sahabatku, happy sweet seventeen, girl! Tambah dewasa, nggak cepet marah…" Begitu kira-kira kutipan SMS dari sahabat saya, bulan Februari lalu. Saya tersenyum membacanya, langsung cepat me-reply untuk mengucapkan terima kasih.
Tujuh belas tahun! Indah sekali kedengarannya. Bukan saja saya akan segera mendapat Kartu Tanda Penduduk, dan diakui secara "resmi" sebagai warga Negara, tapi juga kemungkinan bahwa orangtua akan mulai melonggarkan pengawasan mereka terhadap saya. Sudah 17, bukan anak kecil lagi!
Tidak ada kewajiban "anak-anak" seperti harus melapor kalau hendak pergi, ke mana, dengan siapa, berapa lama. Tidak ada lagi deringan HP dari orangtua yang menanyakan sedang ada di mana. Tidak ada lagi suruhan untuk belajar, karena sekarang sudah 17, sudah bisa bertanggung jawab! Benar ya, 17 tahun itu gerbang pendewasaan, kan?
Saya tersenyum mengingat surprise party yang diadakan roommate saya dan beberapa orang teman kemarin malam. Kebetulan ada salah seorang teman yang berulang tahun sehari sebelum saya, sehingga mereka memutuskan menggabungkan pesta ulang tahun kami berdua. Surprise party yang diadakan roommate saya dan teman-teman benar-benar asyik. Saya sempat sedih sebelumnya, karena menyangka ulang tahun ke-17 saya kali ini akan benar-benar suram. Tak ada ucapan selamat dan cium pipi dari orangtua, tak ada kado dan masakan spesial, dan hal-hal istimewa lain yang bisa didapat saat jauh dari orangtua. Ya, beginilah nasib "penimba ilmu" di negeri sebrang!
SMS balasan untuk sahabat saya baru saja terkirim, ketika tiba-tiba sebuah pikiran menyelinap di benak saya, di antara bayangan pesta ulang tahun kemarin malam.
Tujuh belas tahun? Sudah "setua" itukah saya? Berapa lama lagi waktu saya yang tersisa setelahnya? Akankah saya hidup sampai esok? Atau saya langsung kembali ke hadapanNya hari ini juga? Akankah besok saya bisa tersenyum seperti saat ini?
Ah, seperti apa sih kematian itu? Begitu menakutkankah? Benarkah dia awal dari sesuatu yang sepertinya akhir? Dan, sudahkah saya punya cukup bekal untuk menghadapinya ketika ia sampai pada saya? Akankah dia menyapa saya dengan kelembutan? Akankah saya menghadapinya dengan ketenangan dan senyuman? Atau…
Saya menggelengkan kepala. Mungkin pertanyaan itu tidak bisa saya jawab sekarang. Mungkin Allah akan memberi saya cukup waktu untuk menjawabnya, setidaknya sampai hari ini berlalu.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Adilla Anggraeni sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.