|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|



Kamis, 1 Oktober 2009 pukul 17:08 WIB
Penulis : Adilla Anggraeni
Beberapa bulan terakhir ini memandangi langit malam menyisakan sedikit kepedihan di hati saya. Saya yang memang senang memperhatikan hal-hal kecil, kali ini semakin "terpikat" oleh keluasan dan kepekatan langit di malam hari.
Ada apa dengan langit? Apalagi langit malam kali ini sungguh pekat, nyaris tidak ada sebuah bintang pun yang memamerkan sinarnya. Apalagi bulan juga bersembunyi, sehingga kegelapan semakin berkuasa. Tapi tetap saja ia begitu besar artinya dalam mengingatkan saya akan keberadaan keluarga, juga mengingatkan saya akan betapa kecilnya saya di hadapan Allah SWT. Bahwa saya begitu tidak berdaya sebagai manusia.
Dengan melihat langit, saya bisa menertawakan diri sendiri yang sering kali begitu ambisius sehingga lupa bersyukur. Sering kali sibuk menoleh ke kiri dan ke kanan untuk membandingkan dengan orang lain. Merasa iri pada mereka yang terlihat "lebih". Betapa apa pun yang saya miliki saat ini, yang saya banggakan dan sangat saya cintai, suatu saat harus saya tinggalkan. Dan tidak ada satu pun benda duniawi yang akan saya bawa selain selembar kain kafan.
Sering pula saya lupa mensyukuri seteguk air yang bisa membasahi kerongkongan di pagi hari, dan sesuap nasi yang melegakan perut yang keroncongan. Sering begitu sibuk mempertanyakan kenapa saya tidak seperti si anu, kenapa saya tidak bisa begini seperti si ini, dan berbagai kenapa-kenapa lainnya yang takkan pernah terjawab jika hati saya berkeras untuk tidak menerima jawaban yang tersedia. Padahal saya telah tahu jawabannya, "Bersyukur!"
Saya menatap langit sekali lagi. Cukup untuk hari ini saya menatapnya. Besok, di lain waktu, saya ingin meminta Allah memberi saya sedikit lagi waktu untuk menatap langit. Mengumandangkan dzikir dan pujian-pujian kepadaNya.
Maka hamparan ini suatu saat akan bersaksi
Akan sentuhan kuasaMu yang Maha Bertahta
Bahwa hidup, seperti layar dan lapisan yang membentuknya
Akan kembali pada satu titik, pualam mega
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Adilla Anggraeni sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.