HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Alamat Akun
http://meyla.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Swasta
http://meylafarid.multiply.com
Tulisan Meyla Lainnya
Multi Level Pahala
23 Maret 2009 pukul 18:11 WIB
Rumput di Halaman Tetangga Terlihat Lebih Hijau
19 Maret 2009 pukul 15:49 WIB
Kontes Kecantikan
17 Maret 2009 pukul 17:38 WIB
Kejujuran itu Lebih Manis Rasanya
14 Maret 2009 pukul 20:07 WIB
Memberi dalam Kelapangan dan Kesempitan
10 Maret 2009 pukul 15:09 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Selasa, 31 Maret 2009 pukul 16:25 WIB

Virginitas di Mata Mereka

Penulis : Meyla Farid

Seperti biasa, saya membuat kegiatan belajar di rumah siswa agar santai dan tidak kaku. Hasilnya, siswi saya menaruh kepercayaan yang cukup dalam berbagi cerita tentang kehidupan pergaulannya di sekolah maupun tentang prestasi belajarnya.

Dan obrolan ini pun tercetus begitu saja.

"Bu..., tau ga, temen-temen saya banyak yang gak virgin lagi lho," kata remaja yang 2 bulan ke depan baru akan menginjak usianya yang ke-14 itu.

"Maksudnya?"

"Tapi Ibu janji ya jangan bilang-bilang ke temen saya kalau saya yang cerita sama Ibu,"

"Iya, boleh, boleh."

"Anu, Bu, janji ya jangan cerita masalah ini juga ke mamah. Tadi sore temen saya cerita kalau dia udah gak virgin lagi."

Sampai di sini, saya melongo. Siswi saya berhasil membuat obrolan ini menjadi sangat serius.

"Kelas berapa?" tanya saya.

"Temen saya itu, Bu?"

"Iya."

"Sama dengan saya. Dia bilang dia bahagia banget bisa ngelakuinnya dengan co yang benar-benar dia cinta..."

"Co-nya SMP juga?"

"Iya. Kelas 3 juga."

Kepala saya nyut-nyutan mendengar cerita yang keluar langsung dari remaja ABG ini.

"Kok bisa?" saya mencoba terus menggali 'pengakuan' dari ABG ini.

"Iya bisa donk, Bu. Temen saya itu kan cinta banget ma pacarnya. Jadi waktu dia melakukannya pun, dia katanya bahagia banget. Aku juga nanti mau donk ngasih virgin aku buat co yang bener-bener aku cinta..."

Astaghfirullaah...

Jauh di dalam dada saya ada sesuatu yang jatuh. Harapan? Harapan akan generasi anak muda ini di masa depan? Ya...

"Ibu bilang sih jangan." saya menekan emosi sedatar mungkin.

"Iya, Bu, tenang aja. Sekarang saya pacaran ga akan begituan kok."

"Sampai nanti juga jangan. Rugi tau..."

"Iya, Bu... Saya mikir-mikir kok. Gak mau kayak temen saya itu. Kita kan masih SMP... Lagian, saya kan anak baik, Bu."

Pinter banget deh kalau siswi saya udah mau ngeles dari 'nasihat' gurunya.

Tapi, saya tetap mencoba memasukkan pemikiran-pemikiran saya tentang ruginya pacaran ala bebas seperti itu. Dan remaja yang baru berusia 14 tahun tersebut, mendengarkan dengan seksama. Tapi tanpa ekspresi seantusias seperti ketika dia menceritakan pengalaman teman-temannya tersebut.

Ya... Inilah kenyataan. Pergaulan anak SMP pun sudah sedemikian tidak terkendali. Mereka sudah tidak asing lagi dengan hal yang berbau pornografi.

Saya tidak sepenuhnya menyalahkan anak-anak tersebut. Bagaimana pun, keluargalah yang paling berperan dalam membentuk dasar-dasar kepribadian seorang anak. Salah satu contoh siswi yang saya ceritakan di atas, dia memiliki keluarga yang kurang dalam menanamkan nilai-nilai agama di rumahnya. Kedua orangtuanya sibuk, sementara fasilitas untuk shalat pun hanya terkunci rapi di dalam lemari, yang mungkin jarang sekali dikeluarkan.

Anak-anak itu, saya tidak tahu korban dari siapa. Kesibukan orangtua? Arus media informasi yang serba bebas diakses oleh segala usia? Atau kecuekan pemerintah atas pendidikan moral generasi penerus bangsa?

Bisa jadi, semuanya benar. Apa yang ada pada pemikirain (sebagian) remaja di kota besar seperti Bandung ini adalah akibat dari suatu sebab.

Mereka, dalam usia yang masih 14 tahun, sudah berfikir kalau virginitas itu suatu hal yang harus diberikan untuk orang yang mereka 'cinta', tanpa ikatan pernikahan. Astaghfirullaah...

Dari mana datangnya pemikiran anak-anak tersebut?

Saya terkadang ngeri, mendengarkan cerita anak-anak didik saya tentang pergaulan bebas mereka. Tapi saya tidak ingin menyalahkan mereka begitu saja. Anak-anak seusia itu, jika dilarang dengan cara yang keras, maka mereka akan cenderung membangkang.

Karena itu, inilah tugas kita, sebagai calon orangtua, atau yang sudah menjadi orangtua, untuk menanamkan pola pikir yang benar kepada anak-anak kita sedini mungkin. Sejak mereka dalam buaian. Persiapkan anak-anak kita untuk tidak ikut tergerus oleh pemikiran-pemikiran liberal yang menghancurkan.

Bukankah nasib suatu bangsa ada di tangan generasi mudanya? Lalu dengan kenyataan yang saya paparkan, kira-kira seperti apa roda nasib bangsa ini akan dibawa mereka?

Inilah tugas kita semua.

"Kuu anfusikum wa ahliikum naaraa." (Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka).

http://meylafarid.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Anna Fathimah Zakaria | Staf Pengajar
Baru saya sadari, ternyata KotaSantri.com tidak saja memperluas silaturrahim saya dengan teman-teman dari berbagai daerah di seluruh Indonesia (dan mungkin juga luar Indonesia, insya Allah), tapi juga mendidik saya untuk berperilaku lebih baik dan lebih Islami lagi serta mengajarkan saya banyak pengetahuan. Subhanallah...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0949 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels