Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
Alamat Akun
http://meyla.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Swasta
http://meylafarid.multiply.com
Tulisan Meyla Lainnya
Memberi dalam Kelapangan dan Kesempitan
10 Maret 2009 pukul 15:09 WIB
Untuk Ayah
9 Maret 2009 pukul 20:56 WIB
Pelangi
Pelangi » Cermin

Sabtu, 14 Maret 2009 pukul 20:07 WIB

Kejujuran itu Lebih Manis Rasanya

Penulis : Meyla Farid

Suatu hari, seorang murid mendapat giliran piket membersihkan kelas. Pagi-pagi ketika semua temannya belum tiba di sekolah, dia sudah berada di dalam kelas untuk melaksanakan tugasnya. Ketika sedang menyapu di dalam kelas itulah dia tidak sengaja menyenggol vas bunga di meja gurunya hingga vas itu jatuh ke lantai dan pecah berantakan. Karena takut dimarahi oleh gurunya, anak tersebut cepat-cepat membersihkan pecahan-pecahan vas lalu membuang dan menyembunyikannya ke dalam tong sampah di belakang sekolah.

Saat jam pelajaran dimulai, guru yang bersangkutan pun datang. Guru itu pun kaget menemukan mejanya yang kosong. Satu per satu anak-anak didiknya ditanya. Tapi tentu saja, tidak ada seorang pun yang mengakui di mana keberadaan vas bunga kesayangan guru tersebut. Hanya seorang anak saja, yang piket hari itu, yang mengetahui semuanya, tapi dia pun tidak mau terus terang karena takut dimarahi dan diberi hukuman oleh gurunya.

Berhari-hari anak tersebut menyembunyikan rahasianya. Dia menjadi sering gugup di depan gurunya, bahkan tidak bisa berkonsentrasi saat pelajaran di dalam kelas. Rasa bersalah terus mendera hatinya. Kalau malam tiba, dia menjadi tidak nyenyak tidur, makan pun dia menjadi tidak berselera. Hingga pada akhirnya anak itu pun memutuskan untuk berterus terang kepada gurunya.

Apa yang terjadi ketika anak itu terus terang? Guru itu memang kecewa dengan pengakuan terlambat dari sang anak. Guru itu memarahi muridnya tentu saja, lalu dihukum berdiri di luar kelas satu hari penuh. Namun ternyata anak itu menjalani hukumannya dengan perasaan lega. Sejak hukuman itu, dia bisa nyenyak tidur dan bisa menikmati makan dengan enak. Dia merasakan sebuah beban yang sangat berat yang berhari-hari menghimpit dadanya sudah hilang.

Ternyata, kejujuran itu lebih manis rasanya. Jika kita melakukan sebuah kesalahan yang menuntut untuk dikatakan, maka kejujuran adalah yang terbaik. Jangan takut dengan hukuman, karena itu memang sudah menjadi konsekuensi dari setiap kesalahan yang kita perbuat. Jalani saja, dan nikmati proses pendewasaan diri dari setiap kesalahan dan hukuman tersebut. Karena hidup memang penuh dengan aral melintang, semak belukar, dan kesalahan-kesalahan kecil atau besar yang kelak akan menjadi pelajaran sangat berharga bagi diri kita.

Wallahu a'lam.

http://meylafarid.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lina | staff adm
Subhanallah... Ingin sekali bisa bergabung, berbagi cerita, dan bertanya. Artikelnya bagus-bagus.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0940 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels