|
QS. An-Nahl : 97 : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
|
|
|
http://meylafarid.multiply.com |

Selasa, 10 Maret 2009 pukul 15:09 WIB
Penulis : Meyla Farid
Seperti kisah seorang wanita muda -istri seorang pejabat- yang memberi segelas besar susu kepada anak lelaki miskin yang hanya meminta segelas air saja, memberi kepada sesama ternyata sangat manis dan memberikan kebahagiaan tersendiri di hati sang pemberi. Tentu saja, tidak ada pamrih atau harapan akan mendapat balasan dari pemberiannya kelak. Ketulusan, keikhlasan memberi yang timbul dari dalam hati jauh lebih membahagiakan dan memberi kepuasan batin bagi si pemberi.
Dalam kisah nyata, saya mengenal seorang ibu yang serupa dengan kisah istri pejabat dengan segelas besar susunya. Sebut saja Bu Siti. Bu Siti adalah istri dari seorang guru SMP. Bu Siti dan suaminya mempunyai 3 orang anak dalam pernikahan mereka. Seperti layaknya seorang guru, penghasilan suaminya kadang-kadang jauh dari mencukupi biaya kehidupan sehari-hari keluarganya, terutama untuk biaya sekolah ketiga anaknya. Meskipun demikian, Bu Siti dan suaminya mempunyai cita-cita yang terbaik untuk kehidupan anak-anaknya di masa yang akan datang. Meskipun harus gali lubang tutup lubang, ketiga anak mereka disekolahkan, bahkan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Gaji guru kala itu tidak sebaik saat ini.
Ada satu hal yang menonjol dari keluarga guru ini. Bu Siti dan suaminya terkenal dengan sifat dermawannya. Jika ada saudara mereka, atau bahkan tetangga mereka yang sedang kesulitan keuangan, Bu Siti dan suami selalu menjadi tempat pertama mereka meminta tolong. Meskipun sebenarnya keluarga Bu Siti bukan yang terkaya di lingkungannya, tapi entah mengapa selalu bisa menolong untuk sekedar memberi atau meminjamkan uang.
Gajah mati meninggalkan gading. Manusia mati meninggalkan amalnya. Atau, setiap amal kebaikan anak cucu Adam akan dibalas dengan sebaik-baiknya oleh Sang Maha Pembalas, meski sekecil zarrah pun. Begitu pun yang dialami salah satu anak dari Bu Siti ini.
Sebut saja Sita, anak perempuan Bu Siti yang tahun itu sudah menginjakkan kakinya di sebuah kota besar untuk memulai jenjang pendidikannya di perguruan tinggi. Setiap bulan, Sita pulang kampung untuk bertemu ayah ibunya. Dia selalu ditemani kakak laki-lakinya, yang sudah bekerja di PT. Kereta Api.
Sebagai keringanan yang diberikan untuk pegawai KA, kakaknya dibebaskan dari ongkos transportasi memakai jasa kereta api oleh PT tersebut. Begitu juga sebagai adik (keluarga) dari kakaknya, Sita pun mendapat fasilitas gratis ongkos tersebut. Tapi syaratnya harus menunjukkan kartu identitas kakaknya, atau mesti bareng-bareng dengan kakaknya.
Hari itu, Sita janjian dengan kakaknya untuk pulang sama-sama. Kakaknya berangkat dari Jakarta naik kereta, dan janjian bertemu di stasiun cabang di kota tempat Sita kuliah, untuk sama-sama melanjutkan perjalanan ke kota asal mereka. Sita pun bergegas naik angkutan umum menuju stasiun kecil yang dimaksud. Sesampainya di stasiun, dia duduk menunggu kedatangan kereta yang ditumpangi kakaknya. Tapi lama menunggu, tidak datang juga.
Tiba-tiba, Sita baru tersadar kalau dompetnya tidak ada. Sita kelabakan mencari-cari dompetnya di dalam tas, tapi nihil. Entah hilang, entah tertinggal. Berbekal uang terakhir yang ada di sakunya, Sita menelpon kakaknya dari wartel. Karena menelpon ke HP, sisa uang Sita pun terkuras habis. Dan yang lebih menjengkelkan, kakaknya bilang kalau kereta yang dinaikinya tidak akan berhenti di stasiun kecil tempatnya sekarang berada, tapi di stasiun pusat. Sita disuruh menunggu di sana.
Di sakunya, tidak ada uang sepeser pun sekarang. Untuk ongkos naik angkutan umum ke stasiun pusat saja dia tidak punya. Sita bingung. Dia hampir menangis karena tidak tau apa yang harus dilakukannya. Karena baru masuk kuliah tingkat satu, dia tidak punya HP atau benda apapun yang mungkin bisa menolongnya
Sedang duduk-duduk dengan bingung di bangku tunggu di stasiun kecil itu, seorang ibu menyapanya. Sita akhirnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Tanpa disangka, ibu tua yang pakaiannya sederhana itu memberinya sejumlah uang. Bukan meminjamkan, tapi memberikan. Dengan senyuman yang ikhlas dan tanpa pamrih. Sita hampir menangis menerima kebaikan ibu tersebut. Dia minta alamat si ibu, berjanji suatu saat akan mengembalikannya. Tapi ibu tersebut menggeleng. Tidak memberitahu identitasnya sama sekali. Ikhlas, katanya. "Ibu juga punya anak seusia Neng," tambahnya. Dengan sepenuh hati, Sita bersimpati pada ibu tersebut.
Berbekal uang yang memang tidak besar kalau dihitung secara nominal, tapi sangat besar kalau dinilai dari manfaatnya. Seakan-akan dengan uang yang tidak lebih dari sepuluh ribu rupiah itu, nyawa Sita tertolong. Saat berpisah dengan ibu misterius itu, Sita melihat ibu tersebut tersenyum bahagia, sebahagia dirinya yang sudah mendapatkan pertolongan.
Tiba di stasiun pusat, kereta yang ditumpangi kakaknya hampir saja berangkat. Sita buru-buru naik ke dalam gerbong kereta dan mencari kakaknya. Setelah bertemu kakaknya, Sita menceritakan apa yang baru dialaminya.
"Mungkin ini salah satu balasan dari kebaikan ibu yang suka menolong orang lain. Sekarang kamu ditolong oleh orang lain, karena amal ibu kita!" kata kakaknya.
***
Cepat atau lambat, perbuatan baik atau buruk kita memang akan ada balasannya. Jika tidak di dunia, pastinya di akhirat sana. Namun yang terpenting, memberi dalam kelapangan atau kesempitan harus dengan niat yang setulus-tulusnya. Apalagi di jaman seperti sekarang, dimana harta, pangkat dan segalanya itu seakan-akan menjadi 'penjara' untuk seseorang dalam membantu orang lain di sekitarnya. Seakan-akan semua titel atau kelebihan lain yang dimilikinya membuatnya 'tidak pantas' membantu orang yang kesusahan, atau sulit sekali jika harus dibarengi dengan ketulusan.
Saya pernah membaca kata-kata seseorang, yang kurang lebih seperti ini, "Sebenarnya hartaku yang paling berarti dan benar-benar menjadi hartaku adalah yang pernah aku berikan kepada orang lain."
Begitu manisnya jika kita mau berbagi dengan tulus. Jangan heran, jika kelak anak cucu kita menemukan kemudahan-kemudahan dalam menerima pertolongan saat mereka membutuhkan. Karena Allah telah berjanji, meskipun sebesar zarrah, kebaikan itu akan selalu ada balasannya. Dan memberi dengan setulus hati, akan membuahkan kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan hati yang kita cari.
http://meylafarid.multiply.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.