HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
Alamat Akun
http://redaksi.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Cyber Mujahid
KotaSantri.com merupakan singkatan dari Komunitas Santri Virtual yang terdiri dari gabungan 3 elemen kata, yakni Kota, Santri, dan .com. Kota merupakan singkatan dari KOmuniTAs, yang artinya tempat, sarana, atau wadah untuk berkumpul. Santri merupakan sebutan bagi netter yang ingin berbagi dan menuntut ilmu melalui dunia maya (internet). Sedangkan .com adalah …
http://kotasantri.com
Tulisan Redaksi Lainnya
Lynette Wehner : Jadi Muslim di Sekolah Islam
29 November 2012 pukul 16:00 WIB
Karena Madrasah Pertama itu Bernama Wanita
29 November 2012 pukul 14:00 WIB
Memahami Makna Tahun Baru
28 November 2012 pukul 13:00 WIB
Mengenalkan Uang pada Anak
17 November 2012 pukul 10:00 WIB
Ismail : Islam Membuat Hatiku tak Lagi Hampa
8 November 2012 pukul 16:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 2 Desember 2012 pukul 14:00 WIB

Allah SWT Begitu Sayang Padaku

Penulis : Redaksi KSC

Dulu, waktu aku jadi pengangguran yang sakit-sakitan, aku merasakan bagaimana aku sangat membutuhkan pertolongan Allah SWT. Siang malam aku berusaha menggunakan waktuku untuk lebih banyak berkomunikasi denganNya. Shalat tahajud, dzikir, shalat hajat, shalat dhuha, berpuasa, membaca Al-Qur'an, dan ibadah lainnya menjadi bagian dalam menjalani hari-hariku. Ya... Hari-hari yang aku rasakan sebagai ujian yang sangat berat.

Aku tidak pernah merasa lelah berdo'a dan terus memohon, merintih, dan mengiba padaNya dengan harapan Allah SWT berkenan melepaskan aku dari kesulitan yang tengah menghimpitku. Aku tidak mau terus-terusan sakit, aku tidak ingin merepotkan banyak orang, dan aku ingin bisa melepaskan diri dari masalah yang membuatku merasa tidak nyaman dalam menjalani hidup. Saat itu aku merasakan betapa dekatnya aku dengan Allah SWT dan merasakan betapa sebenarnya Allah SWT sangat mengasihiku.

Aku merasa sangat bersyukur karena aku masih punya banyak teman yang memperhatianku dan selalu memberiku semangat untuk terus berusaha mencari kesembuhan. "Bersabar dan yakin deh kalau Allah pasti akan memberikan jalan keluar dari semua masalah yang kamu hadapi. Coba deh banyak koreksi diri dan kalau kamu ada waktu, coba kamu banyak bertanya pada orang yang lebih tahu soal agama. Siapa tau dari situ kamu akan lebih yakin dengan apa yang sudah menjadi ketetapanNya dan kamu juga lebih bisa mengambil hikmah dari setiap masalah yang kamu hadapi," begitu saran dari seorang teman baik yang masih peduli dengan keadaanku saat itu.

Aku banyak merenung, aku banyak mengingat dosa-dosa dan kesalahan yang pernah aku lakukan. Setiap kali aku menghadapkan wajahku di hadapanNya, aku selalu bercucuran airmata. Entah rasanya, aku merasa dosaku tak lagi bisa dihitung, tetapi aku masih saja menumpuknya. Nuraniku mengakui bahwa apa yang aku petik adalah buah dari apa yang aku tanam. Aku mengikuti saran temanku untuk banyak bertanya pada orang yang lebih tahu soal agama. Aku sering datang ke rumah seorang ustadz untuk berkonsultasi seputar masalah yang sedang menghimpitku. Dan sang ustadz banyak memberikan bimbingan dan petunjuk bagaimana seharusnya aku menjalani hidup sebagai hambaNya.

Singkat cerita, penyakitku mulai berangsur sembuh dan aku bisa mendapatkan pekerjaan. Aku mulai panjang angan-angan dan punya banyak keinginan. Aku mulai jarang bangun malam dan mengurangi bacaan ayat-ayatNya, aku mulai malas untuk berpuasa sunnah, dan aku mulai kembali lagi pada kebiasaan burukku. Aku seperti terlupa kalau Allah SWT baru saja melepaskan aku dari kesulitan dan menggantikannya dengan kemudahan.

Entah karena aku terbiasa kerja di luar negeri dengan gaji yang cukup besar atau karena alasan yang lainnya, aku merasa tidak puas dengan hasil yang aku terima ketika aku kerja di Indonesia. Banyak orang yang bilang aku termasuk orang yang beruntung karena aku bisa mendapatkan pekerjaan di Indonesia dan tidak perlu jauh-jauh meninggalkan keluarga untuk kerja di luar negeri.

Suatu hari, seorang teman meneleponku dan memberikan informasi kalau teman kantornya proses ke USA. Dia bilang temannya dapat informasi dari seorang teman yang kebetulan sudah bekerja di Alaska dan sebelum berangkat dia proses melalui tour and travel agency dengan menggunakan visa pelancong.

Keinginanku yang menggebu untuk kembali kerja di luar negeri membuatku tidak terlalu pikir panjang dan langsung mengikuti jejak teman sekantor temanku proses ke USA. Aku kontak tour and travel agency untuk memastikan bahwa mereka memang sanggup untuk mengurus semua dokumen dan juga bisa menunjukan job seperti yang temanku bilang. Aku pun memulai babak baru dengan keyakinan yang sangat aku banggakan, seakan aku lupa bahwa Allah SWT punya rencana lain di balik setiap rencanaku.

Job yang ditawarkan waktu itu adalah di garment, restaurant, dan assembling. Visa yang kami ajukan adalah visa pelajar, dengan alasan lebih mudah untuk mendapatkannya. Maka jadilah status kami diubah menjadi berstatus pelajar, padahal waktu itu aku dan teman-teman satu tim, yang jumlahnya 10 orang, semua sudah berstatus sebagai pegawai swasta dan tidak satu pun yang masih berstatus sebagai pelajar.

Aku tidak pernah mempersoalkan masalah dokumen, yang ada dalam pikiranku saat itu adalah bisa bekerja di USA dengan gaji yang memuaskan. Biaya yang harus aku keluarkan adalah sebesar US$ 4500,-. US$ 2000,- dibayar di Indonesia dan sisanya adalah potong gaji setelah aku kerja. Semua dokumen yang diminta sudah aku penuhi dan aku pun tinggal menunggu waktu turunnya visa. Dalam perjanjian, kalau dalam waktu 6 bulan visa tidak keluar, uang akan dikembalikan 100%. Selang 5 bulan kemudian ada kabar kalau kedutaan Amerika sudah memberikan visa bagi aku dan juga teman-teman satu tim.

Lagi-lagi aku terlupa kalau Allah SWT punya ketetapan yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. Aku cuma merasa bahagia karena mendengar visa sudah dikeluarkan. Tapi pada akhirnya aku harus merasakan kekecewaan, karena aku dan rombongan tidak bisa berangkat, sebab sebelum waktu yang sudah ditentukan untuk berangkat, terlebih dahulu bom di JW Marriot meledak. Pemerintah Amerika tidak mengizinkan warga Indonesia masuk ke negaranya dengan mengggunakan visa apapun, begitu berita buruk yang aku dengar saat itu.

Impianku hilang, harapanku melayang, dan yang tersisa saat itu adalah rasa sesal atas ketidakbersyukuranku dengan pembagian nikmatNya. Penyakitku kembali kambuh karena aku banyak berpikir dan juga capek mondar-mandir untuk mengurus kelengkapan dokumen. Aku kembali mendekatiNya, aku kembali merayuNya, aku kembali merengek dan minta untuk diberikan kemudahan serta kesembuhan.

Ternyata aku masih belum kapok dan aku pun proses ke Jepang, tapi gagal karena banyak yang tidak menyetujui niatku. Aku proses ke Korea, juga harus menelan pil pahit karena biaya yang harus aku keluarkan tidak sedikit dan harus dibayar cash, serta aku disuruh menggantikan visa atas nama orang lain. Aku dapat job ke Brunei, tapi terpaksa tidak aku terima karena untuk formalitas aku harus pindah agama. Aku dapat job ke Abu Dhabi yang waktu itu ada job sebagai cleaning service di sebuah kampus. Begitu seterusnya, aku dalam masa proses, proses, dan proses kerja, tapi tak kunjung juga berangkat.

Penyakitku makin parah, aku tak bisa proses kerja ke mana-mana lagi. Akhirnya aku cuma bisa berpasrah atas segala yang sudah menjadi keputusan Allah SWT atas diriku sebagai hamba yang penuh dengan keterbatasan dan kekurangan. Saat itu aku berdo'a, "Ya Allah, kalau memang ini yang terbaik menurutMu, maka aku ikhlas dengan ketetapanMu. Tapi, Ya Allah, berikan aku kesembuhan atas penyakitku supaya aku tidak membuat sedih orang-orang yang mencintaiku."

Begitulah diriku. Dikasih satu, minta dua. Dikasih dua, minta tiga. Dikasih tiga, minta empat. Begitu seterusnya... Itulah sifat burukku yang kurang pandai bersyukur atas nikmatNya. Namun ternyata Allah SWT masih selalu menyayangiku sekalipun aku sering membuatNya marah, kecewa, cemburu karena aku masih sering terlupa atas nikmatNya. Aku tidak cuma diberikan kesembuhan, tapi aku juga diberikan pekerjaan.

Saat ini, alhamdulillah, aku sudah mulai bisa menjaga hati untuk tidak panjang angan-angan dan selalu bersyukur atas nikmatNya, apapun bentuknya dan berapa pun jumlahnya. "Duh Gustiii..., semoga Engkau istiqamahkan hatiku untuk mensykuri nikmatMu yang tak terhitung jumlahnya."

Luigy Fitriany # Dimuat Ulang dari Arsip KSC # 06-04-2007

http://kotasantri.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Cybi Newsletter | Buletin Bulanan
Situs ini berisi berbagai tulisan menarik yang bernuansa anak muda. Walau demikian, situs ini tetap dapat memberikan siraman rohani dan memperkaya wawasan Anda, ketika membaca dan menekuninya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2177 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels