|
QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
|





Ahad, 26 Agustus 2012 pukul 13:45 WIB
Penulis : Rahmat Hidayat Nasution
Air mineral gelas kecil yang dibeli Ardi di supermarket Bahana kemarin sore, hilang tanpa bekas. Padahal, ia membelinya bukan satu atau dua gelas, tapi dua kotak. Air mineral tersebut bukan untuk diletakkan sebagai minuman di mobil, tapi digunakan untuk acara bedah novel pak Muliadi, bosnya di kantor.
Ia kesal bercampur bingung. Pagi-pagi begini di mana mencari supermarket yang buka. Tanpa pikir panjang, ia mengeluarkan mobil dari garasi. Di jalan ia berusaha mengingat-ingat di mana ia biasa melihat kios kecil yang buka jam setengah enam pagi. Saat mendekati gang Subur, ia teringat ada kios di sebelah gang tersebut. Ia memacu mobilnya lebih cepat menuju kios tersebut.
“Bang, ada jual air mineral gelas dua kotak?” tanya Ardi dengan buru-buru usai memarkirkan mobilnya tepat di depan kios tersebut.
“Waduh, Dek, yang ada cuma sepuluh gelas,” jawab penjaga kios dengan senyum.
“Berapa harganya, Bang?” sambut Ardi dengan cepat memberikan uang lima puluh ribu rupiah.
Belum sempat penjaga kios mengembalikan uangnya. Ardi kembali bertanya, ”Di mana lagi ada jual air mineral gelas, Bang?”
“Di simpang jalan sana ada swalayan kecil yang buka 24 jam,” jawab penjaga kios menunjuk ke arah utara sambil menyerahkan uang empat puluh lima ribu rupiah, kembalian uang pembelian sepuluh air mineral gelas.
Setelah mengucapkan terima kasih, Ardi segera masuk ke mobil dan mengemudikannya dengan kencang. Karena ia harus tiba di aula Budi Darma pukul delapan. Sedangkan sekarang sudah pukul tujuh. Ia memang tidak pernah melalui jalan yang ditunjuk oleh penjaga kios tadi. Maklum, ia pergi kerja pukul enam pagi dan baru tiba di rumah paling cepat pukul sepuluh malam.
“Swalayan Bagus,” ucapnya dengan suara pelan setelah membaca pamflet kecil di pinggir jalan. Ini pasti swalayan yang dimaksud penjaga kios tadi. Ia bergegas memarkirkan mobilnya.
“Ada air mineral gelas dua kotak nggak?“ tanya Ardi dengan cepat ketika ia membuka pintu swalayan dan langsung ketemu dengan seorang SPG wanita yang berada di depan mesin kasir.
“Maaf, Mas, kami belum bisa buka saat ini. Karena mesin penghitungnya sedang error,” jawab SPG dengan lemah lembut.
“Apakah tidak bisa menghitungnya secara manual? Saya butuh cepat, nih!” pinta Ardi dengan nada yang sedikit meninggi.
“Bisa, Mas. Tapi apakah Mas tidak memerlukan struknya?” tanya SPG kembali. Karena ia yakin kalau air mineral yang ingin dibeli Ardi untuk acara yang pasti memerlukan perincian dan bukti pembelian.
Tanpa banyak bicara, diambilnya notes kecil dari tas sandang kecilnya. Dengan tanpa ada rasa sopan santun lagi, ia pun berkata, “Tolong Anda tuliskan jumlahnya berapa dan tanda tangani saja di sini. Kalau untuk pertinggal, Anda bisa mencatatnya di kertas lain. Atau, bila perlu sobek saja selembar kertas dari buku saya ini.”
Usai transaksi pembelian air mineral, ia bergegas menuju mobilnya. Tepat pukul 07.45, ia sudah tiba di depan pintu aula Budi Darma. Dengan sigap dipanggilnya Eko, OB yang biasa bekerja di kantornya untuk membantunya menurunkan air mineral gelas yang dibelinya dari mobil.
Saat ia tengah sibuk memasukkan air mineral di dalam kotak snack bersama Eko, ia teringat struk pembelian air mineral yang dibelinya di swayalan. Di cari-cari di dalam tas namun tidak ketemu. Padahal, struk itu harus diserahkannya kepada Ani, bendahara panitia acara bedah buku.
“Aku sepertinya sudah meletakkannya di dalam tas, tapi kok tidak ada. Andai kata tertinggal, habis acara aku harus kembali ke swalayan tadi dan menanyakan catatannya kepada SPG itu. Jika tidak ada juga, bisa gawat aku,” gumamnya di dalam hati.
Tiba-tiba ia mendengar nada suara seorang wanita yang pernah ia kenal suaranya.
“Mas, ternyata panitia acara peluncuran dan bedah Novel “Cinta Terselubung”, ya? Andai saya tahu tadi, saya ikut menumpang mobil Mas saja.”
Ardi begitu kaget. Karena yang dilihatnya adalah wanita SPG swalayan tempat ia membeli air mineral tadi.
“Ini struk Mas yang tertinggal tadi,” sapanya dengan lembut. “Saya membaca di koran kemarin, kalau mas Muliadi akan mengadakan peluncuran dan bedah novel barunya hari ini. Saya suka sekali membaca novel-novelnya. Kebetulan pagi ini saya tidak masuk kerja. Karena teman saya yang rencananya izin pagi ini tidak jadi. Daripada saya balik ke kost, lebih baik saya mengikuti acara ini. Sekalian melihat acara peluncuran dan bedah novelnya, plus saya juga bisa minta tanda tangan penulisnya langsung,” jelasnya kembali.
Ardi masih diam membisu. Ia bingung mau bicara apa. Ia sangat-sangat tidak menyangka. Selain struk pembeliannya sudah dapat, ternyata wanita SPG yang ditemuinya tadi pagi, bahkan sempat dibentaknya punya hobi membaca. Sedangkan ia yang sudah nyaman bekerja di kantor, membaca buku sangat jarang sekali.
“Mas, apa saya sudah boleh masuk?” tanya wanita SPG yang bernama Ani seperti yang dicatatkannya sendiri di daftar hadir peserta.
“Oh ya, silakan!” jawab Ardi yang tersipu malu karena ketahuan melamun.
“Tapi saya kok tidak dapat jatah kotak kue seperti para peserta lainnya, ya?” tanya Ani kembali sambil diiringi senyum yang menunjukkan lesung pipitnya.
Ardi benar-benar malu. Dengan tanpa komando, Ardi akhirnya tak hanya memberikan kotak kue Azizah, tapi juga mengantarkan Ani hingga ke tempat duduknya. Bahkan, ia sempat bertanya tentang alamat dan asal daerah Ani. Ini semua gara-gara air mineral gelas.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.