HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
Alamat Akun
http://meyla.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Swasta
http://meylafarid.multiply.com
Tulisan Meyla Lainnya
Metafora
8 Mei 2012 pukul 05:45 WIB
Mudahkanlah Urusan Saudaramu
7 Januari 2011 pukul 18:00 WIB
Keputusan Ada di Tanganku
9 Desember 2010 pukul 15:15 WIB
Menciduk Air dengan Keranjang
7 Desember 2010 pukul 20:00 WIB
Memahami Orang Lain
4 Desember 2010 pukul 01:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 24 Juni 2012 pukul 10:30 WIB

Embun

Penulis : Meyla Farid

Embun datang lagi. Tiap pagi dia selalu saja datang. Kadang-kadang karena berkilauan, aku menyukainya. Namun kadang-kadang aku membencinya, karena sangat dingin menggigit kulit saat menyentuhnya. Bahkan hampir sebagian besar pagi kuhabiskan dengan tak mempedulikannya.

Pagi ini Embun tersenyum.

"Pagi," sapanya.

Langkahku terhenti. Setidaknya aku tak mau disebut sebagai orang sombong oleh siapapun. Karena itu aku berhenti.

"Pagi," kubalas senyum Embun, sedikit.

"Mau ke mana tergesa-gesa?" tanya Embun.

Ah, pikirku. Kenapa Embun selalu ingin tahu? Aku tak berharap mahluk kecil yang hidupnya hanya menumpang di dedaunan kecil ini yang menyapaku.

"Kerja, biasa," jawabku pendek. Malas.

"Buru-buru?" Embun masih mencoba bertanya meskipun saat itu Embun sudah dapat melihat keangkuhanku, bahkan sebagian tubuhnya telah menguap. Tapi Embun memang keras kepala, kalau bukan kuat untuk ukuran satu tetes air seperti dirinya.

"Ya, kau lihat kan aku buru-buru. Aku pergi dulu, nanti Samudera meninggalkanku tanpa perahu," jawabku.

Kemilau Embun meredup mendengarku akan bertemu Samudera. Tentu saja, Embun harus tahu siapa dirinya. Aku mempunyai teman Samudera, bukan setetes Embun! Hmm... Mudah-mudahan dia segera mengerti dan tak bermimpi tentangku lagi. Tidak level.

"Baiklah. Selamat jalan. Hati-hati ya! Sampai ketemu besok pagi," ucapnya.

UH! Andai tak ada pagi.

"Bye…" Aku segera melanjutkan langkahku. Tak lupa, badanku kusenggolkan ke tepi daun tempat Embun berada. Aku yakin, Embun kecil itu terjatuh ke tanah. Sekejap langsung menguap. Aku pura-pura tak melihat kejadian itu.

Esoknya, pagi-pagi sekali aku melewati jalan yang sama. Dan bertemu lagi dengan Embun yang sama. Kali ini aku pura-pura tak melihatnya, dan pura-pura tak sengaja menyenggol daun tempat tinggalnya. Tanpa sempat berdebat, Embun itupun menguap setelah jatuh ke tanah.

http://meylafarid.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Widia | guru
Semailah hikmah dengan berpikir, tumbuhkan hikmah dengan menulis, dan petiklah hikmah dengan membaca. Semuanya bisa dilakukan di KotaSantri.com. Tampilannya keren, biru menyejukkan. I like it! Tulisannya sederhana, indah, dan sarat makna. Bisa nulis dan bisa baca juga. Semoga selalu memberikan manfaat bagi pengunjungnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1377 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels