|
Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
|
|
|
http://meylafarid.multiply.com |





Ahad, 24 Juni 2012 pukul 10:30 WIB
Penulis : Meyla Farid
Embun datang lagi. Tiap pagi dia selalu saja datang. Kadang-kadang karena berkilauan, aku menyukainya. Namun kadang-kadang aku membencinya, karena sangat dingin menggigit kulit saat menyentuhnya. Bahkan hampir sebagian besar pagi kuhabiskan dengan tak mempedulikannya.
Pagi ini Embun tersenyum.
"Pagi," sapanya.
Langkahku terhenti. Setidaknya aku tak mau disebut sebagai orang sombong oleh siapapun. Karena itu aku berhenti.
"Pagi," kubalas senyum Embun, sedikit.
"Mau ke mana tergesa-gesa?" tanya Embun.
Ah, pikirku. Kenapa Embun selalu ingin tahu? Aku tak berharap mahluk kecil yang hidupnya hanya menumpang di dedaunan kecil ini yang menyapaku.
"Kerja, biasa," jawabku pendek. Malas.
"Buru-buru?" Embun masih mencoba bertanya meskipun saat itu Embun sudah dapat melihat keangkuhanku, bahkan sebagian tubuhnya telah menguap. Tapi Embun memang keras kepala, kalau bukan kuat untuk ukuran satu tetes air seperti dirinya.
"Ya, kau lihat kan aku buru-buru. Aku pergi dulu, nanti Samudera meninggalkanku tanpa perahu," jawabku.
Kemilau Embun meredup mendengarku akan bertemu Samudera. Tentu saja, Embun harus tahu siapa dirinya. Aku mempunyai teman Samudera, bukan setetes Embun! Hmm... Mudah-mudahan dia segera mengerti dan tak bermimpi tentangku lagi. Tidak level.
"Baiklah. Selamat jalan. Hati-hati ya! Sampai ketemu besok pagi," ucapnya.
UH! Andai tak ada pagi.
"Bye…" Aku segera melanjutkan langkahku. Tak lupa, badanku kusenggolkan ke tepi daun tempat Embun berada. Aku yakin, Embun kecil itu terjatuh ke tanah. Sekejap langsung menguap. Aku pura-pura tak melihat kejadian itu.
Esoknya, pagi-pagi sekali aku melewati jalan yang sama. Dan bertemu lagi dengan Embun yang sama. Kali ini aku pura-pura tak melihatnya, dan pura-pura tak sengaja menyenggol daun tempat tinggalnya. Tanpa sempat berdebat, Embun itupun menguap setelah jatuh ke tanah.
http://meylafarid.multiply.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.