HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
Alamat Akun
http://12345.kotasantri.com
Bergabung
23 April 2009 pukul 03:58 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Penulis Freelance
Penulis buku Bela Diri for Muslimah : Siapa Bilang Perempuan Makhluk yang Lemah. Untuk bersilaturrahim, silakan kunjungi : http://sebuahrisalah.multiply.com atau FB / Imel : bujangkumbang@yahoo.co.id
Tulisan Fiyan Lainnya
Perjalanan Malam
8 Mei 2012 pukul 06:00 WIB
Kenangan
23 April 2012 pukul 14:00 WIB
Karena Cinta itu Bermata
9 April 2012 pukul 15:30 WIB
Peristiwa Subuh
1 April 2012 pukul 10:30 WIB
Karena Aku Ingin Berbagi
25 Maret 2012 pukul 09:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 13 Mei 2012 pukul 12:00 WIB

Janji

Penulis : Fiyan Arjun

"Cil, nama lu siapa? Lu udah lama ya jadi tukang semir sepatu?" tanyaku iseng-iseng sambil membaca koran harian ibukota.

Kebetulan saat aku menanyakan hal itu padanya, ia sedang menyemir sepatuku. Ya, hitung-hitung biar aku tahu bagaimana suka dukanya menjadi penyemir sepatu itu. Apalagi tempat di mana aku bekerja saling berdekatan dengan terminal. Tempat yang selalu saja didatangi makhluk-makluk kecil semacam dirinya untuk mengais rezeki.

"Hmm…abang tanya nama saya ya? Oh, nama saya Syarief, Bang! Tapi lebih sering dipanggil Arief item sama anak-anak sini," jawabnya lugas memberitahukan namanya.

"Kok, ada embel-embel itemnya sih lu?" potongku tidak enak menyebutnya.

"Ya, mungkin karena Arief item kali, Bang!" cengirnya hingga terlihat giginya yang tak tertata rapi.

"Nah, kalo abang sendiri siapa namanya?" balasnya sambil menyemir sepatu sebelah kiriku.

"Panggil aja abang, Bang Jun," jawabku ramah padanya.

" Eya, lu ngomong-ngomong tinggal di mana?"

"Kalo saya tinggal di sana, Bang Jun! Nggak jauh dari terminal ini. Tuh yang nyelip gedung tinggi itu tuh," tukasnya sambil menunjuk ke arah tempat tinggalnya.

"Oya, Bang Jun ini sepatunya sudah Arief semir semua," selanya mengalihkan pertanyaanku.

"Berapa nih yang yang harus abang bayar ke lu?" tawarku ketika sepatu itu sudah mengkilat menyala di hadapku.

"Seikhlas abang aja deh. Arief sih nggak mau patokin harga," jawabnya diplomatis.

"Kalo gitu abang bayar sepuluh ribu aja nih. Lu maukan?!"

"Lho kok sepuluh ribu sih, Bang? Biasanya cuma tiga ribu perak aja. Lagian Arief juga nggak punya kembalian untuk ngembaliin uang abang," ujarnya lagi kebingungan mencari uang kembalian di saku celananya hingga tak menemukan sepersen pun uang di sakunya.

"Udah deh nggak usah dikembaliin. Tuh kembaliannya lu ambil aja buat beli apa kek. Ya, itung-itung rezeki buat lu, Rief," tukasku mencairkan kebingungannya.

"Makasih ya, Bang! Tapi Arief mau ke sana dulu ya. Soalnya di sana ada langganan Arief lagi sedang menunggu," ucapnya sambil menunjuk ke arah tempat yang dimaksud Arief. Gedung tinggi yang bersebelahan dengan tempatku bekerja.

"Iya, tapi lu janji besok ke mari lagi ya. Nggak pake nggak bisa," pesanku sebelum ia meninggalkan aku sambil membereskan peralatan semirnya. Terburu-buru.

"Beres, Bang. Arief janji kok mau ke mari. Sekali lagi, makasih banyak ya, Bang Jun," janjinya sambil mengangkat kotak semirnya lalu meninggalkan aku sendiri hingga ia hilang di keramaian orang-orang yang berlalu di terminal saat itu.

***

Siang itu di terminal makin ramai. Penuh dengan orang-orang yang saling berdesakan dari segala arah. Hingga bau dan aroma tak sedap pun mewarnai keramaian terminal saat itu. Dan sesuai perjanjianku dengan penyemir sepatu cilik itu, terpaksa aku berpanas-panas ria di antara kerumunan orang-orang yang sedang berlalu lalang.

"Heh, Cil, lu tau Arief nggak?" tanyaku apada anak seusia Arief yang juga sama-sama berprofesi sebagai penyemir sepatu yang sedang berlalu di hadapku.

"Arief yang mana nih, Bang?" serunya.

"Emangnya ada berapa Arief di sini, Cil?" balasku dengan apa yang baru dikatakannya.

"Ya, abang di sini banyak yang namanya Arief. Ada yang namanya Arief jangkung, Arief botak, Arief ceking, dan Arief tukang palang, Bang," katanya sambil menyebutkan nama-nama Arief lainnya. Aku yang mendengar ucapanya jadi ikut bingung mengenai begitu banyak nama Arief yang ia sebutkan.

"O, gitu ya? Abang mau cari Arief item. Apa lu ngeliat dia?" kataku agak berat menyebutkan embel-embel anak itu.

"Saya nggak tau persis, Bang. Tapi biasanya sih Arief udah lebih dulu datang ke mari. Emangnya abang ada perlu apa sih sama si Arief?" tanyanya lagi sambil menawarkan jasanya kepada orang-orang yang sedang berlalu-lalang di sekitar tempat itu.

"Mmm… nggak ada apa-apa kok, Cil," jawabku mencari alasan.

"Makasih banyak, Cil. Sori abang nggak nyemir dulu," kataku lagi.

"Oya, nama lu siapa?" tanyaku sebelum ia pergi meninggalkan aku untuk menawari jasanya kepada yang lain.

"Panggil aja saya Bule, Bang," ujarnya. Akhirnya anak seusia Arief itu langsung berlalu meninggalkan aku sendiri.

Lama sudah aku menunggu kedatangan makhluk kecil itu. Hingga tak terasa jam yang aku kenakan telah menunjukan pukul setengah satu siang. Ya, sudah setengah jam aku menunggu kehadirannya hingga urat keputusasaanku tiba. Namun sebelum itu terjadi untuk meninggalkan tempat itu, tiba-tiba dari arah belakang makhluk kecil yang aku tunggu-tunggu sudah ada di hadapanku sambil terengah-egah mengatur nafas.

"Maaf, Bang Jun, Arief terlambat datangnya," ucapnya ketika ia baru tiba samabil menaruh kotak semirnya di sampingnya.

"Nggak apa-apa kok, Rief? Emangnya lu kenapa kaya dikejar kamtib gitu?" tanyaku penasaran.

"Gini, Bang Jun, tadi Emak ribut sama Bapak. Karena gara-gara Bapak Arief sering main togel tiap malam," lanjutnya sambil mengeluarkan senjata mautnya. Sikat, obat semir, dan handuk kecil kumal yang sudah kotor.

"Abang sekarang mau nyemir nggak?" tanyanya mengalihkan ucapanku lagi saat aku sedang melihat guratan yang tampak di raut wajahnya. Ya, usia dan pikirannya tidak sesuai dengan apa yang dilakukannya saat ini. Tidak seperi anak-anak seusianya pada umumnya. Menikmati masa-masa kecilnya.

"Kok abang melamun aja sih? Jadi nggak nih nyemirnya?" ucapnya lagi membuyarkan lamunanku sambil reflek.

"Nggak, abang cuma mau ketemu lu aja. Bolehkan? Lu udah makan belum?" tawarku lagi mengalihkan lamunanku.

"Belum, Bang. Emangnya abang dari tadi belum makan siang ya?" sedidiknya.

"Belum! Makanya abang nunggu lu biar makan bareng ," kataku mencari alasan yang masuk akal agar anak kecil yang ada di hadapanku tidak merasa curiga.

"Boleh deh, Bang. Tapi makannya di sana aja. Makanannya murah-murah kok," usulnya sambil menuntun aku menuju tempat makan yang dimaksudkannya. Aku pun hanya mengikuti langkahnya dari arah belakang.

"Rief, abang mau tanya lagi nih sama lu. Lu sekarang tinggal sama siapa aja?" kataku setelah istirahat sejenak selepas makan siang bersamanya. Sedangkan ia sedang asyik menyeruput es teh yang dipesannya.

"Apaan, Bang?" seru Arief tersedak oleh es teh yang ia minum.

"Maksud abang, lu tinggal sama siapa di rumah?" ulangku lagi memberitahukannya.

"Arief tinggal di rumah hanya bertiga, Bang! Ada Emak, Bapak, sama Arief sendiri," jawabnya lugas hingga tak terasa es teh yang ia minum berkurang.

"Terus lu kenapa semir sepatu segala. Apa lu nggak sekolah emang?"

Arief terdiam sejenak ketika aku menanyakan hal yang menurutnya privacy. "Aneh, kok anak sekecil Arief itu tahu privacy," gumamnku heran.

"Heh, Rief kok bengong sih lu? Cerita dong biar abang tahu tentang masalah lu yang sebenarnya. Kali aja abang bisa bantu," bujukku meyakinkan dirinya.

Lama aku menunggu jawaban dari anak kecil yang yang ada di hadapanku. Akhirnya ia mau juga buka suara untuk menceritakan masalah yang sebenarnya terjadi.

"Sebenarnya Arief pernah sekolah, Bang. Tapi karena Bapak saya nggak kerja lagi jadi kuli panggul terminal, terpaksa Arief berhenti sekolah sampai kelas lima," jelasnya lirih tanpa tak terasa gumpalan bening berbentuk kristal itu membasahi pipinya yang gembul.

"Nah, itu kan baru enak didengar daripada abang jadi penasaran. Pokoknyan lu nggak usah malu-malu deh sama abang. Anggap aja abang sebagai abang lu sendiri."

"Tapi, Bang," potongnya ketika aku belum selesai melanjutkan kata-kataku lagi.

"Tapi kenapa, Rief?" ucapku terkejut ketika ia mengatakan seperti itu.

"Sebenarnya Arief takut kalo abang nanti nggak mau ketemu dan berteman saya lagi. Hanya gara-gara Arief cerita pada abang yang sebenarnya terjadi," Arief terdiam kembali saat ia memberi alasannya kepadaku.

Tak terasa jam istirahat kerjaku telah usai. Terpaksa aku akhiri obrolanku dengan makhluk kecil itu, dan seperti biasa berpesan lebih dulu padanya," Rief, besok lu ke mari lagi ya. Pokoknya ada sesuatu yang abang kasih ke lu. Tapi janji ya, lu mau ke mari. Asal jangan telat seperti tadi," pesanku lagi padanya agar ia mau menemuiku di tempat itu seperti biasa

***

Esoknya…

Seperti biasa aku menunggu di tempat yang sama seperti kemarin dengan membawa bingkisan yang telah aku janjikan pada Arief. Bingkisan ini memang aku janjikan untuknya karena aku merasa iba dan empati terhadap kisahnya. Arief, anak kecil yang mirip sekali dengan almarhum adikku, Umar, yang telah lama meninggal akibat penyakit kronis yang dideritanya. Aku ingat ketika ia merengek kepadaku untuk dibelikan sepatu baru. Ya, hanya sepatu baru yang ia harapkan dariku yang tak bisa aku kabulkan saat itu.

"Bang, belikan Umar sepatu baru dong. Sepatu Umar yang lama sudah rusak," pintanya saat ia pulang sekolah.

"Emang untuk apa sih, Mar?" jawabku yang tak aku pahami dari permintaan terakhirnya.

"Ya untuk Umar ke sekolah, Bang! Kan malu pake sepatu rusak," alasannya memberitahukan maksudnya kepadaku.

"Iya, nanti abang belikan. Tapi nggak sekarang-sekarang ini. Nanti kalo abang udah gajian," hiburku saat itu menyakinkan agar ia tak perlu mengkhawatirkan lagi tentang sepatunya yang rusak.

Hari terus berlalu. Hingga sampai Umar dirawat di rumah sakit. Sudah berjalan sebulan lebih ia dirawat. Tapi hingga di bulan pertama aku menerima gaji di tempatku bekerja, Umar belum juga ada kemajuan yang pasti. Apalagi untuk melihatku sedetikpun, untuk menggerakkan tangannya saja ia tak kuasa sama sekali. Tapi entah karena apa, tiba-tiba ada yang menggerakanku untuk membisikan sesuatu ke telinga Umar saat itu. Dan tiba-tiba keajaiban itu datang. Aku melihat tangan Umar bergerak. Akupun sontak terkejut lalu pergi memanggil dokter yang merawatnya.

"Maaf, Pak, adik Bapak tidak bisa tertolong lagi. Itu hanya reflek biasa untuk pasien yang akan meninggal dunia. Sekali lagi saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya," kata dokter yang memeriksa Umar memberitahukan aku bahwa Umar sudah tiada. Sungguh saat itu langit tempat aku bernaung mencari rezeki untuk Umar seakan-akan runtuh seketika saat aku mendengar jawaban dari dokter itu.

"Mar… Umar bangun! Bangun! Ini abang sudah bawa sepatu baru untuk Umar. Bangun, Mar… Bangun…"

***

"Bangun… Bangun, Bang! Bangun… Abang mimpi ya?" tegur anak kecil yang kemarin aku temui.

"Oh, ternyata aku bermimpi!" gumamku menutupi malu.

"Abang lagi nunggu Arief ya?" ujarnya membuyarkan lamunanku.

"I-iya, emangnya ada apa Le sama Arief?" jawabku menyebut nama anak kecil itu.

"Begini, Bang, kemarin sewaktu Arief makan bareng sama abang. Nah, ketika Arief mau nyebrang jalan, tiba-tiba ada mobil yang nabrak Arief dari arah belakang. Lalu Arief…"

Anak kecil itu berhenti sejenak seakan-akan ia enggan meneruskan kata-katanya lagi.

"Iya, ada apa sama Arief? Abang ingin tau!" tukasku hingga kata-kata yang tak mestinya keluar dari mulutku akhirnya terjadi.

"Arief… Arief meningal dunia, Bang!"

"Meninggal dunia? Lu ya kalo ngomong yang benar dong!" kataku semakin penasaran hingga tak mempedulikan orang yang ada di terminal ketika melihat keanehanku. Aku pun terkulai lemas ketika makhluk kecil itu benar-benar mengatakan yang sesunguhnya terjadi pada Arief. Dan pada saat itu, bingkisan yang aku siapkan untuk Arief luput dari genggamanku. Terlepas bersama janjiku yang belum aku tepati. Janji kepada seorang Arief yang sudah aku anggap sebagai pengganti Umar, adikku yang telah tiada.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Widia | guru
Semailah hikmah dengan berpikir, tumbuhkan hikmah dengan menulis, dan petiklah hikmah dengan membaca. Semuanya bisa dilakukan di KotaSantri.com. Tampilannya keren, biru menyejukkan. I like it! Tulisannya sederhana, indah, dan sarat makna. Bisa nulis dan bisa baca juga. Semoga selalu memberikan manfaat bagi pengunjungnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1328 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels