|
QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
"
|
|
|
http://ridhakemuning.blogspot.com |
|
|
ridhakemuning |





Ahad, 16 Oktober 2011 pukul 12:30 WIB
Penulis : Nurfaridah
"Blaaaarrrrrrrr..."
Suara guntur membahana memenuhi setiap ruang pendengaran. Kilatannya yang merah menyala menghiasi langit, membuat nyali orang-orang menjadi ciut untuk menonjolkan batang hidungnya barang secuil saja. Keadaan di luar sangat mencekam. Kilat masih saja terlihat menyambar-nyambar mencari mangsa di dalam hebatnya hujan sore ini.
"Bllaaaaaaaaaarrrrrr..."
"Bapaaaaaaaaaaaaak!!!"
Afif berteriak memangil bapak. Dalam ketakutan itu adikku sembunyi di balik pintu. Menangis sejadi-jadinya sambil menyebut-nyebut bapak. Aku berlari mendatanginya, kupeluk dia dengan segenap kasih sayang, mencoba memberikan rasa aman padanya.
"Tenang dek ya?!" bujukku pada bocah lima tahunan ini.
"Afif... Afif... Afif kangen bapak!" air matanya mengalir begitu derasnya.
"Bapak ke mana ya, mbak?"
Pertanyaan ini lagi. Hatiku benar-benar tertohok. Hatiku terasa terkoyak jika disuguhi pertanyaan tentang bapak. Sebenarnya aku juga rindu sama bapak, sama sosoknya yang penyabar dan penuh canda-tawa. "Bapaaaaaaaaaaaaak, di mana bapak sekarang? kami rindu sama bapak?" jeritku dalam hati. Jerit yang hampir dua tahun ini tak terjawab oleh siapapun, juga dari ibu.
***
Pagi ini begitu cerahnya secerah wajah adik bungsuku yang masih bayi. Wajahnya ceria, berbinar bahagia dalam gendonganku. Ibu sedang menyapu dapur yang berlantaikan tanah, sedang bapak pagi ini sudah tampak rapi, mempersiapkan semua bekal-bekal yang akan dibawa ke hutan pinggir kali. Tidak seperti pagi-pagi biasanya, kalau tidak duduk mendengarkan radio sambil minum kopi, paling-paling bapak masih menenggelamkan diri dalam sarungnya dan bergelut dengan mimpi-mimpi. Itulah kurasakan pagi ini sedikit berbeda.
Bapak mendekati meja dapur yang berisikan masakan ibu untuk sarapan seisi rumah, termasuk aku dan adik-adikku. Bapak menikmati sarapan dengan bolak-balik menatap ibu berlama-lama, aku dan adik-adik, kemudian menyuap dan sejurus menatap lagi.
"Pak! Kenapa? Apa ngga jadi berangkat?" akhirnya ibu nyeletuk juga setelah merasa aneh dengan sikap bapak pagi ini.
"Jadi kok, mak."
"Bapak mbalok berapa hari?"
"Weleh, paling tiga hari sudah selesai, mak!"
"Berapa orang, pak, yang pergi?" akupun ingin tahu siapa saja yang ikut mbalok. Bukan apa-apa, aku hanya khawatir saja sama bapak, karena pekerjaan ini adalah pekerjaan sulit yang penuh resiko.
"Cuma wong telu, ada pak Marni, Dakir, dan bapak sendiri," jelas bapak.
"Hamid jaga adik-adik, bantu ibumu biar ndak capek betul!"
"Lho sebenarnya bapak mau ke mana? Lha kok tumben pake pesan segala sama anak-anak?!" sahut ibu sambil mebersihkan meja dapur.
"Masak kasih nasehat baik kok ga boleh tho!"
Hening bapak telah hilang dari pandangan, ibupun turun ke sawah untuk membantu keuangan keluarga. Mbalok dan ke sawah adalah pekerjaan yang sama-sama menguras tenaga. Namun bapak dan ibu tak pernah mengeluh sedikitpun demi urusan makan dan uang sekolah anak-anaknya.
***
Tiga hari berlalu, tapi bapak belum pulang juga. "Ah... paling besok juga pulang," gumamku menenangkan hatiku yang mulai diliputi kegalauan.
"Bu, bapak kok belum pulang ya, bu?" tanyaku penuh kegundahan.
"Paling-paling besok, mid," jawab ibu dengan tenangnya sambil mengorak-arik kedelai hasil mbawon di ladang tetangga. Sebenarnya wajah tenang ibu juga mulai digelayuti rasa cemas. Hanya saja ibu tak ingin memperlihatkan pada kami, anak-anaknya.
Seminggu, dua minggu, dan sebulan berlalu, bapak masih belum pulang juga. Aku sudah demikian khawatir, mengapa bapak belum pulang. Lebih-lebih ibu, beliau nampak begitu cemas. Pernah di minggu pertama setelah kepergian bapak, ibu menanyakan kabar bapak ke pak Marni, teman mbalok bapak. Katanya; mereka pulang sama-sama. Kemudian di persimpangan bapak pamit ada urusan sebentar, beliau menyarankan agar pak Marni dan Dakir pulang lebih dulu.
Setengah tahun sejak kepergian bapak, rasanya kedamaian dan kebahagian mulai terkikis. Saat aku tahu bahwa orang-orang yang datang ke rumah adalah orang-orang yang meminta uang mereka kembali. Dan itu adalah hutang bapak. Rasanya tak tega melihat ibu berjuang sendiri dalam menghidupi empat orang anaknya bersama himpitan hutang yang tidak sedikit. Tapi, lagi-lagi aku tak dapat berbuat apa-apa selain menjaga adikku yang masih kecil, sedang ibu gigih bekerja. Selain menggarap sawah sendiri, beliau bersedia menjadi buruh perusahaan kelapa sawit yang gajinya sangat rendah. Karenanya, pukul 03.00 dini hari ibu sudah selesai memasak dan bersiap pergi ke perempatan jalan untuk menunggu mobil truk yang akan mengangkut para buruh yang mayoritasnya adalah kaum perempuan itu.
***
Biasanya pukul 18.00 ibu sudah sampai di rumah. Kadang saja di sela-sela istirahatnya, ibu masih sempat merajut benang wol untuk dijadikan taplak meja ataupun bunga-bunga, sesuai dengan pesanan orang-orang sekitar. Entahlah... tak terbayangkan bagaimana lelahnya ibu, aku hanya mendesah nafas membayangkan semuanya.
Hari hampir hilang. Mega menguning emas di ufuk barat, menandakan waktu maghrib sebentar akan tiba. Tapi tak ada tanda-tanda ibu pulang, karena belum terdengar suara truk meraung-raung di jalan becek berlumpur di jalan desa. Aku mulai resah.
"Mbak!?"
"Kenapa, Fif?" ternyata adik-adikku mulai resah juga.
"Ibu kok belum pulang ya, mbak? Jangan-jangan ibu juga pergi ninggalin kita, kayak bapak?"
Ya Allah, seketika sudut mataku basah. Secepat kilat kuhapus agar tak meninggalkan kesan sedih di mata adik-adikku yang lucu dan lugu.
"Ngga, Fif, ibu pasti pulang kok. Mungkin ibu masih di jalan, sayang," hiburku.
Kuusap-usap rambutnya dengan mengajaknya bicara tentang berbagai hal yang indah. Harapanku; agar ia tak terlalu memikirkan kepulangan ibu, biarlah aku yang memikirkannya. Rasanya tak ingin gadis kecil yang lucu ini jadi murung karena masalah kehidupan yang rumit.
Jam di dinding telah menunjuk angka sembilan malam. Kekhawatiranku semakin menjadi-jadi. Sedang ketiga adikku telah terlelap dalam mimpinya masing-masing, Dunia mimpi yang penuh keindahan dan spontanitas kemudahan. Ahh... seandainya saja waktu dapat diputar ulang, maka tak akan aku izinkan bapak pergi mbalok. Pikiranku makin tidak karuan. Entahlah... aku pasrah saja. Dalam kerancuan fikir itu, kudengar derap langkah di sekitar rumah hingga berhenti didepan pintu.
"Assalamu'alaikum..."
"Ibuuuuuuuuu!!!!!!!"
Aku terus menghambur menuju pintu depan saat kukenali bahwa itu adalah suara ibu. Aku bahagia, penantianku selesai sudah. Sayang adik-adik sudah tidur, pasti mereka akan terlihat begitu riang jika mengetahui kedatangan ibu. Cukuplah kami kehilangan bapak, dengan ibu kami masih tegar menjalani hari.
####
Mbalok : Menepikan kayu balok saat air sungai besar/banjir.
Wong Telu: Tiga orang.
Mbawon : Buruh memanen hasil tanian dengan upah yang disepakati.
http://ridhakemuning.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nurfaridah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.