Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
Alamat Akun
http://nurul_adhim.kotasantri.com
Bergabung
8 Maret 2009 pukul 20:42 WIB
Domisili
Blora - Jawa Tengah
Pekerjaan
Mahasiswi
i just want to be a good people for everyone...special for my family. Thats all..
http://Newrule-ForMyFuture.blogspot.com
calm_think@yahoo.co.id
calm_think@yahoo.co.id
Tulisan Nurul_Adhim Lainnya
Skenario Cinta
17 Januari 2010 pukul 18:44 WIB
Hanya Ingin Memberi
11 Oktober 2009 pukul 17:00 WIB
Satu Pagi di Hari Raya Terakhir
20 September 2009 pukul 17:00 WIB
Bening Matanya Memendam Luka Perih yang Dirasa
12 September 2009 pukul 15:30 WIB
Realitas Hati
3 September 2009 pukul 18:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 7 Maret 2010 pukul 17:45 WIB

Cahaya Itu Masih Ada (1)

Penulis : Nurul_Adhim

Pemuda itu masih saja terdiam seribu bahasa, sambil menyeka airmata yang sesekali terjatuh dari kedua mata elang yang dimilikinya. Matanya masih terlihat memerah, seolah begitu banyak beban yang ingin dia bendung. Namun segalanya kemudian menjadi sia-sia saat kedua matanya meneteskan buliran bening yang bernama airmata.

Pemuda yang dulunya begitu terlihat tegar dalam segala hal, yang dulunya masih sesekali bertingkah konyol dan manja, kini harus rela menghancurkan sisi keegoisan dan maskulinitas yang tergerus oleh konsekuensi atas tindakannya. Dia harus menjadi sosok dewasa, sekarang dan saat ini juga. Sebuah harga mati yang harus dia bayarkan setelah dia merenggut hak jiwanya yang seharusnya terus diisi dengan kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sang pemilik segala jiwa yang kelak akan dipertanggungjawabkan kepadaNya.

Pemuda itu masih terdiam, dan terus terdiam. Meski sejak beberapa menit yang lalu Arini memaksanya untuk mengatakan apa yang kini telah membebani fikirnya. Entah apa yang ada dalam benaknya kini, Arini masih tak mengerti.

“Bicaralah, dek. Mba tidak akan tahu apa yang ada di hati dan fikiran kamu kalau kamu masih terus saja diam. Sebenarnya masalah apa yang sedang kamu hadapi?”

Namun pertanyaan Arini kembali dijawab dengan diam.

“Dek, bagaimana mbak bisa bantu kamu kalo mbak sendiri tidak tahu apa masalah kamu? Ngomong to, dek.” Arini masih berusaha membujuk pemuda itu.

Lagi-lagi pemuda itu hanya menunduk terdiam.

***

“Mbak, Adi bener-bener butuh mbak sekarang. Adi mohon, mbak. Mbak ada waktu kan?”

Ada yang agak ganjil dari bahasa pesan singkat yang baru saja diterima Arini. Meski tidak jarang pemuda yang baru saja menggenapi usianya yang keduapuluh tahun itu menemuinya, untuk sekedar sharing atau meminta pendapat Arini jika ada permasalahan yang dia hadapi. Tapi Arini punya firasat, ada hal yang sangat berat sedang dihadapi pemuda itu.

Arini jadi serba salah kini. Ada agenda lain yang juga tak kalah penting yang harus dikerjakannya. Tapi naluri keibuannya tak tega membiarkan orang yang telah menganggap dirinya sebagai kakak sejak perkenalan mereka lima tahun yang lalu itu, sendiri menghadapi masalahnya.

***

Adi memang dilahirkan dari keluarga berada. Sejak kecil, segala kebutuhan akan materi jelas terpenuhi. Dia selalu dimanjakan oleh keluarga besar yang dimilikinya. Hingga umurnya memasuki sebelas tahun, dia masih mengira bahwa dirinya adalah anak terakhir dari keluarga yang sudah begitu lama mengasuhnya. Sampai pada suatu hari, datanglah pasangan suami istri yang dulunya dipanggilnya dengan sebutan mas dan mbak yang ternyata adalah kedua orangtua kandungnya yang saat itu berniat untuk menjemput Adi untuk kembali ke pelukan mereka. Maka berubahlah posisi si anak ragil menjadi si sulung yang ternyata sudah memiliki seorang adik perempuan yang duduk di bangku kelas empat SD.

Tentunya tidak mudah bagi Adi untuk menerima semua kenyataan itu, ditambah lagi mau tidak mau, dia dituntut untuk menjadi seorang kakak bagi adik yang baru saja dikenalnya. Namun seiring berjalannya waktu, akhirnya sedikit demi sedikit Adi dapat menjalani semuanya dengan penuh kesadaran akan tanggung jawab yang dimilikinya.

Tahun demi tahun berganti sejak kembalinya Adi kepada kedua orangtua kandungnya. Memang selama menjalani hidupnya sebagai seorang kakak, dia lebih banyak mengalah kepada adiknya. Akan tetapi, satu hal yang masih saja belum dia rasakan adalah komunikasi yang belum terjalin antara dirinya dan kedua orangtuanya. Mungkin itu karena terlalu lamanya mereka dipisahkan, sehingga secara psikologis kedekatan antara mereka pun kurang. Hal itu pulalah yang membuat Adi lebih dekat dengan Arini yang dianggapnya sebagai kakak. Tak jarang, justru Adi ke tempat Arini jika dirinya dirundung masalah, terutama jika masalah yang dihadapinya adalah menyangkut masalah keluarganya.

Dan seperti biasanya, sore ini Arini tahu ada masalah yang mungkin sedang dihadapi oleh pemuda itu. Oleh sebab itulah Arini segera menjawab pesan singkat yang dikirimnya barusan.

“Ya sudah, kalo gitu tunggu mbak di parkiran atas kampus mbak ya, dek. Jam setengah empat sore. Soalnya ini mbak masih banyak agenda.”

Segera setelah Arini mengirimkan pesan singkat itu, didapatkannya balasan.

“Maafin Adi ya, mbak, kalo Adi sering ngerepotin mbak.”

***

Sudah hampir setengah jam yang lalu Arini menunggu Adi untuk bicara kepadanya, namun pemuda itu masih saja terdiam.

“Mbak, maafin Adi ya. Adi takut mbak marah sama Adi. Adi bingung gimana Adi ngomong ma mbak.”

“Adi, kalau kamu tetap diam, justru mbak bisa marah sama kamu. Tapi kan ini mbak juga belum tahu apa masalah yang kamu hadapi? Lalu apa hak mbak untuk marah sama kamu? Sudahlah, sekarang tenangkan dulu fikiranmu, baru setelah itu katakan semuanya pada mbak.”

Akhirnya Adi mulai berbicara. Dengan bahasa isyarat, dia mulai mengatakan sesuatu. Arini masih agak bingung dan belum dapat memahami apa yang sedang dibicarakan oleh pemuda itu. Sampai akhirnya Arini menyuruhnya untuk menuliskan yang ingin dikatakannya melalui ponsel. Tak lama kemudian, dia sodorkan ponsel miliknya kepada Arini. Dan di ponsel itu tertulis “Pernikahan Dini”.

Arini mulai menangkap maksud perkataannya. Lalu Arini bertanya, siapa yang dimaksud oleh Adi atas pernikahan dini itu. Lalu pemuda itu menyebutkan nama seorang gadis yang diketahui Arini sudah sekitar satu tahun ini menjalin hubungan dengan Adi.

Tadinya Arini masih berfikir, mungkin gadis itu dijodohkan oleh orangtuanya, dan itulah yang membuat Adi sedih. Tapi justru Arini benar-benar dibuat kaget saat ditanya dengan siapa gadis itu akan menikah, Adi menjawab gadis itu akan menikah dengan dirinya. Masih setengah bingung, Arini bertanya kepada Adi kenapa dia malah sedih, bukankah seharusnya dia senang dengan adanya pernikahan itu.

Namun Arini benar-benar tak sanggup berkata apa-apa saat Adi mengatakan dia harus menikahi gadis yang bernama Tina itu karena Tina sudah hamil. Dan Adi-lah ayah dari anak yang kini dikandung oleh Tina.

Astaghfirullahal ’Adzim...

Laksana petir di siang bolong, Arini tak sanggup menerima itu semua dengan akal sehatnya. Semua benar-benar membuat hati Arini hancur. Pemuda yang selama ini dikenalnya pendiam dan manja itu benar-benar telah membuatnya kecewa.

Arini hanya diam. Ganti sekarang Arini yang menangis. Tak tahu harus berbuat atau berkata apa, karena Arini tahu kebingungan juga pasti telah melanda fikiran Adi saat ini. Arini mencoba meredam amarah yang bergejolak di dadanya, beristighfar sebanyak-banyaknya, dan mencoba untuk menenangkan fikirnya agar dia dapat lebih tenang menghadapi ini semua. Namun Arini hanyalah seorang wanita biasa, hamba yang lemah yang tentunya lebih mudah rapuh.

“Sekarang pulanglah ke rumahmu, dek. Saat ini mbak tak tahu apa yang harus mbak perbuat. Sejujurnya mbak sangat kecewa padamu. Namun apa yang bisa mbak lakukan? Mbak juga bukanlah siapa-siapa bagimu. Rasanya mbak marah pun percuma. Sekarang pulanglah, pulang ke rumah.”

“Mbak, maafkan Adi. Maafkan adi sudah mengecewakan mbak. Adi mohon, mbak, jangan tinggalin Adi sendiri. Adi benar-benar bingung, mbak. Hari sabtu besok, Tina meminta Adi untuk menemui keluarganya dan mengikutsertakan orangtua Adi. Mbak, Adi mohon, mbak bantu Adi.”

Arini pun tak tahu apa yang harus dia lakukankan saat itu. Namun satu hal yang pasti, Arini butuh waktu. Ditambah saat itu teman-teman di organisasi pun masih membutuhkan kehadirannya.

“Temui mbak besok pagi. Sekarang kamu pulang saja ke rumah.”

Adi diam. Dia kembali menitikkan airmata yang saat itu dianggapnya sangat percuma kalaupun seumpama airmata itu tumpah laksana lautan. Arini pun tak ingin kehilangan kendali. Ditunggunya pemuda itu pergi. Namun tak sesenti pun ia beranjak dari tempat duduknya.

“Dek, mbak mohon, sekali ini saja kamu turuti nasehat mbak. Pulanglah ke rumahmu, dek. Pulanglah.”

Arini mulai mengusir pemuda itu untuk pergi. Dan akhirnya, meski dengan berat hati, dia pun pergi.

***

Sepanjang perjalanan pulang ke kost, Arini hanya terdiam dalam istighfar dan lamunan yang tak kunjung berujung. Sesampainya di kost, airmata Arini sudah tak kuasa lagi dibendung. Arini menangis. Airmata kecewa dan kepedihan yang mencampur menjadi satu. Kecewa pada Adi dan kecewa pada dirinya sendiri yang tak sanggup mengenalkan Adi kepada Allah.

Teringat Arini pada kisah Umar Bin Khaththab yang dulu merajam anak lelakinya yang berzina hingga si anak meninggal. Begitu besarnya dosa seorang pezina. Ya Allah Ya Rabbi, lalu apa yang harus Arini lakukan kini. Arini hanya dapat terdiam tak berdaya. Pemuda yang selama ini dikenalnya sebagai seorang yang baik budinya, ternyata dia pun dapat tergelincir ke lubang yang akan mengantarkannya ke neraka.

Semakin Arini tenggelam pada tangisnya. Tangis kecewa yang kini berganti menjadi tangis atas ketakutannya kepada dunia yang begitu fana ini. Arini yang kini menjadi seorang musyafirah, pencari ilmuNya yang masih sendiri menghadapi pengembaraan yang membawa Arini mengalir bersama takdir dan perjalanan yang begitu panjang.

“Astaghfirullahal ’Adzim. Sebegitu gelapnyakah dunia ini, ya Allah?” lirih Arini dalam sujudnya.

***

Bersambung ...

http://Newrule-ForMyFuture.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nurul_Adhim sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Agoes | TKI
Di sini tempat kumpul-kumpul, atau hanya sekedar ingin menambah ilmu tentang agama, atau hanya ingin baca-baca artikel-artikel bagus dari temen-temen di KotaSantri.com.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1338 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels