Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
Alamat Akun
http://nurul_adhim.kotasantri.com
Bergabung
8 Maret 2009 pukul 20:42 WIB
Domisili
Blora - Jawa Tengah
Pekerjaan
Mahasiswi
i just want to be a good people for everyone...special for my family. Thats all..
http://Newrule-ForMyFuture.blogspot.com
calm_think@yahoo.co.id
calm_think@yahoo.co.id
Tulisan Nurul_Adhim Lainnya
Satu Pagi di Hari Raya Terakhir
20 September 2009 pukul 17:00 WIB
Bening Matanya Memendam Luka Perih yang Dirasa
12 September 2009 pukul 15:30 WIB
Realitas Hati
3 September 2009 pukul 18:00 WIB
Ketika Aku Takut Jatuh Cinta
2 Juli 2009 pukul 18:00 WIB
Relatifitas Hari Esok
14 Juni 2009 pukul 18:11 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 11 Oktober 2009 pukul 17:00 WIB

Hanya Ingin Memberi

Penulis : Nurul_Adhim

Arini masih terisak dalam sujud panjangnya malam ini. Ada setitik asa yang coba tetap ia pertahankan dalam harapnya. Mencoba mengimani bahwa ada saat dimana ia kan menjadi seorang bidadari syurga. Mendampingi hati yang telah dipilih Allah untuk berjuang di jalanNya.

Dahulu Arini hanyalah seorang gadis biasa. Seringkali dia lebih nampak ceria dibandingkan teman-teman sebayanya, namun tiada yang pernah tahu bagaimana hatinya menutup rapat dan membebat luka yang dia rasakan dalam perjalanan panjangnya sejak dia memasuki usia remaja. Ada haru yang menyeruak pilu saat dia harus berpisah dengan keluarganya demi menggapai cita-cita di luar kota. Ada sembilu yang merajam dada saat dia harus merajut hari di ruang tunggu rumah sakit demi kesembuhan ibundanya tercinta. Ada perih terasa saat adik bungsunya hanya dapat meminum teh manis di usianya yang masih balita. Ada palung jiwa yang letih menggelora saat tak dijumpainya sorot kebahagiaan di mata ayahnya yang terlihat begitu rapuh. Ada keputusasaan untuk menggapai cita di luar kota, menghentikan langkahnya demi keinginan untuk selalu ada di dekat ibunya. Dan dia pun lunglai, saat tak dapat lagi dijumpainya senyum sang bunda yang telah sekian lama menjadi penopang dalam perjalanan hidupnya.

Dan segenggam tabah masih ia peluk erat, menjadikan hatinya setegar karang. Bahkan saat dia harus menerima kehadiran seorang wanita mengisi kehidupan baru ayahnya dengan lapang dada, tepat seratus hari kepergian sang ibu kepada Sang Mahacinta. Semua dia lakukan dengan senyuman, meski hatinya nyaris benanah menahan lara. Mencoba untuk tetap ikhlas, demi mengembalikan cahaya indah di sorot mata ayahandanya. Demi membahagiakan adik bungsunya yang belum genap dalam usia ketiganya. Demi keluarga kecil yang harus kembali ia tinggalkan untuk menggapai cita yang telah tertunda. Semua karena cinta.

Sembilan tahun masa hidupnya dihabiskan untuk membebat luka, menggapai asa dan cita, menjadi bijak dengan konflik keluarga dalam perjuangan membangun komunikasi dalam keluarga kecilnya, semakin jauh dan panjang menjalani cerita indah dalam perjuangannya. Hingga tanpa sadar, kini Arini telah tumbuh menjadi sosok seorang wanita yang telah menempuh seperlima abad semenjak kehadiran pertamanya ke dunia. Dan dia masih saja tenggelam dalam sisi kekanakannya yang tak henti menebar ceria kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya. Hingga suatu saat ia sadar, Arini bukan lagi seorang gadis kecil yang senantiasa bermanja-manja.

Gadis itu menjadi sedikit ringkih kini. Bukan karena kesehatannya yang menurun, namun terlebih karena rasa sakit dan perih yang ia rasakan dalam hatinya saat seseorang yang tanpa dia sadari hadir dalam hidupnya, membawanya menapaki jalinan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Menenggelamkan kalbunya dalam lautan kerinduan kepada cinta hakiki, tanpa adanya nafsu dan hanya kerana Illahi.

Perkenalannya dengan seseorang di dunia maya membuatnya sadar akan makna kehidupan ini. Hingga ia sadar, banyak waktu yang telah dibuangnya sia-sia dalam kesenangan semu sebagai pelarian atas segala hal yang telah ia hadapi. Saat hidupnya nampak sempurna dengan keluarga kecilnya yang begitu harmonis dalam kesederhanaan, batinnya mulai merajuk manja. Sepanjang hidupnya, dia mempertahankan hatinya untuk tetap teguh tanpa kehadiran seorang adam yang kata orang dapat sedikit meringankan beban hidupnya.

Tidak, sekali lagi batinnya berteriak kerana ada tuntutan rasa bersalah. Semua yang telah ia hadapi selama sembilan tahun ini bukanlah sesuatu yang bisa dilupakan begitu saja. Dalam hati kecilnya, Arini senantiasa mencoba untuk menjaga hatinya, tak mungkin ia serahkan hati itu kepada yang lain sekarang. Karena hati itu sama sekali belum memberi arti pada keluarganya, serta amanah ibundanya lewat kedua adiknya. Hati itu harus tetap tabah, menuntun kedua adiknya untuk mengenalNya. Cukup sudah cinta itu yang mengisi rongga dadanya.

Namun pertahanan itu mulai retak, saat dilihatnya seseorang yang begitu nampak sempurna. Datang berwujud sebagai seorang pangeran yang membawa berjuta kisah dalam keteguhan mengenal RabbNya. Yang begitu tegar, menjalankan amanah untuk keluarganya, dan demi masa depannya.

Semua berjalan begitu saja dan terlihat begitu nyata. Padahal sesungguhnya semuanya hanya wujud warna dalam dunia ilusi, yang membawa hatinya membumbung tinggi. Saat sosok pangeran itu menjelma sebagai anak kecil dengan kerapuhan raganya, yang kelelahan dan ingin dimanja. Mengusik nalurinya sebagai seorang kakak yang ingin membahagiakan adiknya. Meski batinnya tak henti berkata, kumohon janganlah engkau kembali, wahai pangeranku, karena hati ini juga rapuh dengan kedatanganmu. Turut menangis kalbunya melihat penderitaan sang pangeran. Hingga berbagai hal coba ia lakukan demi membuat sang pangeran kembali menjadi tegar, setegar batu karang. Dan rasa syukur yang tak terkira kembali membuncah dalam dadanya. Melihat pangerannya pergi, dengan rona wajah yang cerah dan kebahagiaan yang menjelma, meninggalkan kembali Arini dalam kesendirian.

Dan keikhlasan, begitu terasa dalam kepergian sang pangeran, Arini sadar bahwa semua yang dhadapinya tak lebih dari sebuah anugerah Allah yang telah dipersiapkan untuknya. Namun tak dapat ia pungkiri, bahwa sang pangeran telah meninggalkan luka yang kembali ia bebat. Menjadikannya kembali menginteropeksi diri akan kelemahan hatinya. Tak hanya sekali, namun sudah beberapa kali terjadi dan Arini masih tetap menegarkan dan menguatkan hatinya untuk menjadi adik yang baik, menerima kakak yang datang dengan sayap terluka. Dan mengikhlaskannya terbang kembali, membumbung tinggi, mengepakkan sayap, dan mengelilingi dunianya. Kini dunia Arini kembali sepi, ditemani alunan lagu merindu yang ia tumpahkan dalam sujud panjangnya di tahajjud cintaNya.

http://Newrule-ForMyFuture.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nurul_Adhim sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Fay Ahmed | Blogger
Senang sekali baca-baca di KotaSantri.com. Nambah pengalaman religius.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1544 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels