|
HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
|
|
|
http://Newrule-ForMyFuture.blogspot.com |
|
calm_think@yahoo.co.id |
|
calm_think@yahoo.co.id |





Ahad, 14 Juni 2009 pukul 18:11 WIB
Penulis : Nurul_Adhim
Memasuki terminal Bawen kota Salatiga, diiringi musik dangdut “Malam Terakhir” yang disenandungkan oleh pengamen terminal yang bersuara merdu, bergaya ala Bang Roma. Aku masih terdiam memasuki alam fikirku yang tak kunjung menemukan ujungnya.
Aku masih saja mengharapkannya, seseorang yang aku tak tahu siapa dan bagaimanakah dirinya. Yang kuharap saat ini, aku ingin fikirku pergi jauh darinya. Hingga aku memutuskan untuk berangkat ke kota Solo siang ini.
Dalam keadaan basah kuyup, kumasuki bus antarkota jurusan Semarang - Solo yang kuharap akan membawaku ke jalur baru dalam hidupku. Aku memilih tempat duduk favoritku, tepat di pinggir jendela, itupun agar aku dapat menikmati sepanjang perjalanan yang kulalui.
Ingin menangis rasanya bila teringat kejadian yang baru saja menimpaku. Ketika aku harus menahan malu dan sakit saat aku terpeleset jatuh di depan halte yang kujadikan tempat menunggu bus yang saat ini kutumpangi. Saat itu, aku tidak hanya jatuh secara fisik, tetapi juga secara mental, karena akhir-akhir ini begitu banyak masalah menimpaku. Dan aku harus menjalaninya dengan ditemani kesendirianku. Hampir saja tangisku meledak jika saja aku tidak teringat bahwa umurku kini telah menginjak duapuluh tahun.
Langit masih segan menghentikan curahan airnya. Seolah langit ingin terus menangis karena menahan kesedihan melihat bumi ini yang semakin dikotori oleh berjuta tingkah polah manusia yang sering tak bertanggung jawab. Meski jika ditinjau secara ilmu pengetahuan alam, hujan dapat dijelaskan secara nalar. Hanya saja bagiku, akhir-akhir ini langit seolah enggan menghentikan tangis jika di dunia ini semakin sulit ditemui manusia-manusia yang mau mendekatkan diri kepada Rabbnya.
Sepanjang perjalanan, aku hanya terdiam. Karena bagiku, saat seperti ini adalah momen berharga dimana aku dapat tenggelam dalam impian dan harapan yang menyemai dalam fikirku. Bahkan tak jarang aku jatuh terlelap dalam bayang buaian mimpi yang ingin terus kurajut.
Sejenak aku teringat dengan berbagai hal terberat yang pernah kualami. Ketika aku harus mengikhlaskan orang yang begitu kusayangi dan penopang hidupku untuk pergi menghadapNya. Meski berat, aku tetap tabah. Tak tega rasanya ketika hari-hariku harus kuisi dengan melihat penderitaannya yang menahan sakit yang mendera. Karena kuharap, Ibu kan lebih bahagia jika berada di dekatNya. Meskipun dia tak lagi di sisiku, aku bisa tetap bersamanya di hatiku. Dari hal itu aku belajar, bahwa apa yang kualami hari ini adalah sesuatu yang dapat menjadikanku kuat di masa yang akan datang.
Ingatanku kembali pada seseorang yang beberapa bulan ini mengisi memoriku secara tak langsung. Sebenarnya, mungkin ini bukan kali pertama aku merasakan perasaan yang sama, akan tetapi aku merasa ada yang berbeda. Aku belum pernah mengenalnya di dunia nyata. Bahkan aku tak tahu bagaimana rupa dan kehidupannya. Yang aku yakini dalam hatiku hanyalah, bahwa dia adalah sosok pemuda yang baik, ramah, sopan, dan bertanggung jawab. Akan tetapi, terkadang hati kecilku berkata bahwa aku terlalu naif jika aku berani melabuhkan hatiku kepadanya. Aku belum cukup mengenalnya, dan begitu pula sebaliknya.
Tapi entah mengapa, aku begitu yakin bahwa dia adalah orang yang baik. Orang yang selalu menjaga hati dan cintaNya kepada Rabbnya. Karena dalam hati, aku selalu mencoba untuk yakin janji Allah kepada hambaNya, mencoba untuk berprasangka baik pada Allah, karena aku yakin bahwa Allah akan mengabulkan prasangka dalam hatiku. Minimal dengan berprasangka baik, membuat aku lebih optimis dalam menjalani hidup.
Seperti hari ini. Sesampainya di kota Solo, aku segera tersadar bahwa Allah SWT telah menguji prasangka baik dalam hatiku. Kalau aku mau, bisa saja aku menunda kepergianku ke kota Budaya ini. Mengingat kondisi keuangan dan hujan deras yang sama sekali tidak mendukungku. Ditambah lagi aku masih punya setumpuk tugas kuliah yang belum sempat kukerjakan, sehingga harus kubawa serta kertas dan buku kuliahku melancong ke kota Solo.
Tapi aku yakin, Allah akan membantuku untuk menyelesaikan ini semua. Masalah yang kini kuhadapi, harus kuselesaikan satu demi satu. Pertama, aku harus melanjutkan perjalananku ke Sukoharjo, menuju rumah salah seorang rekan kerjaku yang terletak tidak jauh dari terminal. Menjadi anak pertama dalam keluargaku, mau tidak mau membuatku harus memulai mencari penghasilan sendiri di sela-sela tugas wajibku sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di kota Semarang. Aku tidak akan mempedulikan apa yang dikatakan orang, karena bagiku, yang terpenting adalah aku mengerjakan pekerjaan yang jujur dan halal.
Sesampainya di rumah rekan kerja yang juga sahabatku, seorang wanita yang sangat bijaksana, aku dipersilahkan keluarganya untuk mandi dan beristirahat. Waktu luang ini harus aku gunakan sebaik mungkin, aku membuka lembar demi lembar buku dan tugas kulaih yang telah aku siapkan di map khusus.
Pukul 19.00 WIB, aku bersiap untuk melanjutkan agendaku hari ini. Aku akan menghadiri seminar yang diadakan oleh perusahaan tempatku bekerja. Hingga pukul 21.00 seminar selesai. Aku sangat terkejut, karena salah seorang atasanku memberikan ide untuk aku realisasikan dalam skripsiku, padahal tadinya aku sama sekali belum memikirkannya.
Sekembalinya ke rumah sahabatku, aku bersiap untuk istirahat, tak lupa aku bersujud kepadaNya, Sang Pemilik alam semesta. Tak henti-hentinya aku bersyukur atas semua karuniaNya di hari ini dan hari-hari sebelumnya. Meski segalanya tak berjalan semulus yang ada di angan, aku tersadar, aku mulai dapat menenangkan hatiku yang semula sempat tergelitik rasa cinta yang seharusnya hanya kujaga untukNya. Aku sadar, bahwa hidupku terlalu singkat jika harus kuhabiskan untuk melakukan hal-hal yang tiada berguna. Untuk apa aku mengkhawatirkan hari depanku. Toh aku sendiri tak tahu sampai kapan aku hidup.
Aku teringat kembali surah An-Nahl dalam Al-Qur’anul Kariim ayat 1 yang menyebutkan, “Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan."
Untuk itulah, aku harus melakukan yang terbaik hari ini, karena hari esok belum tentu datangnya. Aku tahu, aku hanyalah hamba yang jauh dari kata sempurna. Akan tetapi, menjadi seorang hamba, anak, calon istri, dan calon ibu yang baik untuk keluarga dan agamaku saja kurasa sudah cukup bagiku. Dan yang terpenting, aku harus dapat bermanfaat untuk orang-orang di sekitarku.
http://Newrule-ForMyFuture.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nurul_Adhim sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.