|
Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
|
|
|
http://kotasantri.com |





Selasa, 18 Juni 2013 pukul 22:00 WIB
Penulis : Redaksi KSC
"Jikalau permulaannya menggembirakan, maka kesudahannya (biasanya) menjemukan. Bila yang lahir mempengaruhimu, maka yang batin akan mencegahmu."
Sesuatu yang nampak mulanya menyenangkan, belum tentu akhirnya menyenangkan. Sebab sesuatu sifatnya lahiriah, pasti bercampur dengan barang batil, jelas ataupun samar. Kalau ia samar, pasti tidak nampak dengan sepenuhnya. Kalau ia jelas, tentu bercampur dan tidak memiliki warna, lalu tidak dapat dibedakan. Sebab gambaran yang seperti di atas bisa jadi ujungnya dan buntutnya pahit. Atau sesuatu yang secara lahiriah mampu mempengaruhimu dan engkau mengikutinya, akan tetapi boleh jadi batinmu menolak, karena bertentangan dengan hati kecilmu.
Janganlah terlambat pada pandangan pertama, lihatlah bagaimana kesudahannya. Tidak semua yang lezat pada awalnya, lezat juga kesudahannya. Banyak sekali sesuatu yang diawali dengan kepahitan, pada akhirnya menjadi manis dan lezat.
Pekerjaanpun perlu diikhtiarkan sesuai dengan pilihan dan ukuran. Jangan terkesima karena cerita orang yang enak dan menyenangkan, sebelum mengetahui benar apa yang akan dikerjakan, siapa yang memberi pekerjaan, mampukah saya mengerjakannya.
Sangat penting diseleksi dan disaring, karena pekerjaan apapun, akan menjelma menjadi darah dan daging kita. Kita salah memilih, maka kesudahannya akan menyakitkan. Bekerjalah dan berhati-hatilah, jangan sampai bertentangan dengan batin kita sendiri.
Pekerjaan itupun akan menunjukkan kepada manusia, siapa kita sebenarnya. Bekerja artinya menunjukkan sikap hidup dan keyakinan kita. Bekerja bukan hanya penampilan, bukan hanya kebutuhan hidup. Sesungguhnya bekerja itu menunjukkan apa dan siapa kita sebenarnya.
Penampilan itupun terikat dengan batin kita. Lahirnya biasanya menunjukan bathiniah. Pakaian yang dikenakan oleh seseorang menampakkan sikap dirinya. Sikap diri menunjukkan batin kita.
Hamba Allah yang shaleh hendaknya menyakinkan diri, ketika ia bekerja. Ia harus meletakkan pekerjaannya itu sebagai orang yang berada di satu ruang dengan dua belah arah. Lantai tempat pijakannya dan langit-langit tempat ia memandang. Dua arah itu sama pentingnya. Ia tidak bisa meninggalkan yang satu untuk mendapatkan yang lain. Atau memilih lantai dan meninggalkan langit-langit, atau sebaliknya.
Muslim yang shaleh dan amanah itu bekerja untuk dua kepentingan seperti gambaran di atas. Dunia dan akhirat itulah wilayah yang sedang dan akan ditempuh oleh hamba Allah yang shaleh. Perhatikanlah ungkapan ini, "Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati esok."
Itulah hidup yang sebenarnya. Itu pula perjalanan awal yang baik dan akhir yang berbahagia.
Referensi : Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam - Syekh Ahmad Athaillah
Abu Luthfi Ar-Rasyid # Dimuat Ulang dari Arsip KSC # 20-02-2008
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.