Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
Alamat Akun
http://redaksi.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Cyber Mujahid
KotaSantri.com merupakan singkatan dari Komunitas Santri Virtual yang terdiri dari gabungan 3 elemen kata, yakni Kota, Santri, dan .com. Kota merupakan singkatan dari KOmuniTAs, yang artinya tempat, sarana, atau wadah untuk berkumpul. Santri merupakan sebutan bagi netter yang ingin berbagi dan menuntut ilmu melalui dunia maya (internet). Sedangkan .com adalah …
http://kotasantri.com
Tulisan Redaksi Lainnya
Kesulitan sebagai Penebus Dosa
31 Mei 2013 pukul 22:00 WIB
Wudhu Batin
28 Mei 2013 pukul 22:22 WIB
Belimbing Bersujud
26 Mei 2013 pukul 10:00 WIB
Muslimah Harus Tegar dalam Berdakwah
23 Mei 2013 pukul 21:00 WIB
Joel Underwood : Mengagumi Al-Qur'an
16 Mei 2013 pukul 16:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 1 Juni 2013 pukul 18:00 WIB

Kenapa Islam Mundur?

Penulis : Redaksi KSC

Peradaban Sains dan Teknologi Islam pernah menduduki rangking pertama The Golden Age di dunia Sains sejak abad pertengahan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, sang revolusi dunia besar kita (632 M), antara abad ke 12–17 dan berakhir pada abad ke 20. Terbukti, dengan lahirnya para cendikiawan muslim terkemuka seperti Al-Farabi dengan ilmu fisika, metafisika, dan Ibnu Zina dengan ilmu kedokteranya.

Al-Hasan membagi evolusi masa keemasan sains dan teknologi Islam dalam tiga tahap, sebagaimana dikutip oleh Cak Nour dalam Khazanah Intelektual. Pertama, periode transisi dan asimilasi yang membawa pada kelahiran sains Islam. Kedua, dicirikan oleh banyaknya inovasi di bidang sains. Dan ketiga, ditandai oleh inovasi di bidang teknologi dan sains sekaligus.

Evolusi tersebut berjalan dengan mulus diakibatkan beberapa faktor, yaitu para cendikiawan muslim pada saat itu sungguh-sungguh mengimani dan mengimplementasikan ajaran-ajaran Islam sebagaimana tersurat dalam Al-Qur'an. Sekaligus mereka menganggap agama Islam adalah salah satu ilmu berbasis ajaran (transendental) dalam kehidupan, kemudian adanya motivasi (spirit) Agama. Faktor yang lain, kemapanan ekonomi dan dukungan serta perlindungan oleh sang penguasa saat itu.

Kini, malah berbalik, arah masa-masa keemasan tidak lagi diperoleh, namun hanya menjadi memori belaka dalam kancah pemikiran kaum intelektual muslim "romantisme sejarah" di seluruh dunia, lebih-lebih di Indonesia.

***

Kemunduran Islam

Mengembalikan masa keemasan Islam, terutama sains dan teknologi, tidak semudah membalikan tangan kita. Akan tetapi, jalan alternatifnya, kita harus mengetahui kelemahan menyangkut persoalan-persoalan internal dan eksternal kaum Islam sendiri. Tanpa melakukan itu, mustahil akan mengetahui dinamisasi kemunduran Islam yang sesungguhnya.

Saya sedikit dapat mendeskripsikan bahwa di antara salah satu penyebab kemunduran Islam adalah adanya dikotomi keilmuan. Di sini, secara tidak langsung, kaum muslim dituntut untuk memisahkan diri dari sains, mengingat keduanya dianggap mempunyai hubungan yang single enteteis (meminjam bahasanya rektor UIN Sunan Kalijaga, Amin Abdullah).

Dan selanjutnya, orang Islam berada dalam kejumudan (malas berfikir dan malas untuk merenungi kebingungan). Inilah kesalahan terbesar yang dimiliki kita selama ini, kita selalu merasa paling benar dan orang lain salah, padahal orang lain yang berbeda pemikiran belum tentu salah.

Lain dengan Prof. Sabra (Harvard), mengemukakan bahwa kemunduran Islam dikarenakan di masa-masa berikutnya, kegiatan Saintifik lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan praktis persoalan Agama, seperti matematika dibawa pada persoalan Dzikir, Farai, Giometri untuk mengetahui waktu shalat.

Namun, salah satu penyebab fundamental adalah oposisi dikuasai kaum konservatif yang mengaku demokratis, sehingga mengakibatkan krisis ekonomi dan politik profetik. Hal ini berdampak pada sikap kaum Muslimin terhadap sains kontemporer yang menjadi terkotak-kotak diwakili oleh dua golongan. Pertama, golongan anti sains, golongan ini bersifat apriori dan acuh tak acuh. Kedua, golongan pro sains, masing-masing kelompok ada yang menelan bulat-bulat tanpa curiga sedikit pun, sekaligus ada yang menerima dengan penuh kewaspadaan.

Wallahu a'lam.

Abdul Gaffar # Dimuat Ulang dari Arsip KSC # 17-04-2008

http://kotasantri.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Elsye Ivanne | Swasta
Semoga dengann bergabung di KotaSantri.com banyak manfaat yang saya dapatkan n dapat bertukar fikian dengan akhi n ukhti. Mohon bimbingannnya karena dalam waktu dekat saya harus mengakhiri masa lajang dan berdampingan dengann seorang aktivis dakwah.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1437 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels