Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
Alamat Akun
http://rifafarida.kotasantri.com
Bergabung
11 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - Jakarta
Pekerjaan
CEO Nasywa Cafe
I'm Muslimah and Very Happy ^_^
http://rifarida.multiply.com
rifatulfarida@ymail.com
rifatulfarida@ymail.com
rifatulfarida@ymail.com
Tulisan Rifatul Lainnya
Pada Apa Saja
6 Desember 2012 pukul 14:00 WIB
Omelet Sayur
2 Desember 2012 pukul 16:00 WIB
Cerita Mawar
22 November 2012 pukul 12:00 WIB
Lumpia Udang Asam Manis
11 November 2012 pukul 19:00 WIB
Kita Nikmati Saja
8 November 2012 pukul 12:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Jum'at, 7 Desember 2012 pukul 12:00 WIB

Menyoal Rasa

Penulis : Rifatul Farida

Jika sejenak saja kita mau merenungi semua letupan emosi dalam diri, ternyata itu hanya soal rasa. Kecewa, marah, sedih, bahagia, bahkan cinta, itu semua tentang rasa. Ya, hanya soal rasa. Tak lebih, tak juga kurang.

Masalahnya adalah, kadang dalam banyak kejadian kita gagal mengendalikannya dan cenderung mendramatisir. Yang pada akhirnya, ini menjadi sesuatu yang bisa merusak fitrah diri. Terlebih, jika rasa-rasa itu kemudian ditunggangi oleh nafsu, baik di awalannya, di pertengahannya, maupun di akhirannya. Bahkan mungkin nafsu yang memicu sebuah rasa (rasa apa saja) bergejolak dan kita menurutinya tanpa koreksi apalagi protes.

Karena ini soal rasa yang ada dalam diri, maka inipun secara hakikat hanya menjadi masalah kita seorang, bukan masalahnya orang lain, meskipun rasa ini berhubungan dengan orang lain. Itu artinya, bahwa sebenarnya kitalah yang memegang “kartu as” pada perasaan kita sendiri.

Seorang muslim yang baik adalah seorang muslim yang mampu memenej dirinya sendiri. Dan tentu saja, seorang muslim yang mempunyai manajemen bagus terhadap dirinya sendiri adalah seorang muslim yang mampu mengendalikan dirinya sendiri. Mengendalikan diri sendiri, itu artinya juga mencakup mengendalikan semua perasaan yang ada dalam diri. Yang kemudian ini bisa dijadikan tolak ukur keimanan seseorang. Yakinlah, bahwa seseorang yang mempunyai keimanan prima akan lebih terlihat bisa mengusai diri sendiri, baik ketika ia marah, kecewa, sedih, gembira, bahkan jatuh cinta.

Perbedaan jelasnya adalah, ketika ia kecewa, ia yang (segera) mengendalikan kekecewaan itu, bukan ia yang dikendalikan rasa kecewa. Ketika ia marah, ia yang (segera) mengendalikan kemarahan itu, bukan ia yang dikendalikan rasa marah. Pun ketika ia jatuh cinta, ia yang (segera) mengendalikan cinta itu, bukan ia yang dikendalikan rasa cinta.

Sekali lagi, semua ini hanya soal rasa. Yang kemudian berlaku bagi kita; soal mengendalikan atau dikendalikan oleh perasaan.

Wallahu a’lam.

http://rifarida.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Mumtahah Annisa | Ibu Rumah Tangga
Di sini tempatnya kalau ingin berdiskusi sama teman-teman yang asyik banget.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1412 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels