|
Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Kamis, 6 Desember 2012 pukul 14:00 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Hujan. Merekatkan hatiku di indah dunia. Alam. Air. Angin. Dan sunyi yang di sini.
Ada jalan panjang, mungkin. Dan aku tak tahu, sungguh tak tahu.
Sejuta air, sejuta senyuman, sejuta bahagia. Samakah? Tidak, itu tak sama. Karena air adalah air, senyuman tetaplah senyuman dan bahagia, entahlah, harus seperti apakah seharusnya ia ada.
Hujan. Apa makna hujan bagimu? Karena ia hanya air banyak yang tumpah ke bumi, basahi segala. Tak bermakna lebih, mungkin. Namun, bisakah darinya kuurai sebuah kisah? Tentang seorang anak manusia yang gundah jiwanya, melincahkan segala asa di ruang-ruang kesempatan, jatuh. Terbentur. Terluka. Dan, sendiri.
Pada apa saja, kala deras hujan memagut semua rasa. Aku tetap berkisah. Sebanyak yang kumau, sedalam yang kuselami. Maka dengarlah. Dengar-dengarlah kisah itu.
Kata guru ngajiku, aku berhak bahagia. Ia menyuruhku mengambil hak itu. Ia menasehatiku banyak hal sebagai sesama wanita. Tapi, aku tak tahu, dan aku belum jua tahu, karena aku tak pernah memikirkan tentang itu. Bukankah untuk hidupku sendiri saja aku tak berhak? Kenapa guru ngajiku yang pintar ngaji itu jadi manusia awam dalam hal seperti ini? Entahlah… semuanya kini menjadi ambivalen.
Hujan, reda. Ceritaku, mereda. Senyumku, mereda. Semua, mereda.
Selesai untuk hari ini.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.