|
HR. Ahmad : "Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya."
|





Selasa, 22 Mei 2012 pukul 18:00 WIB
Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan
Mengapa harus demikian? Mudah saja. Karena dakwah kampus memang juga belum pernah menang. Maka mengapa harus menunggu untuk menjadi basi dan membusuk? Lebih baik kalah dan menjadi sejarah, tertimbun di sudut peradaban. Untuk selamanya tidak ada lagi dakwah kampus. Katakan selamat tinggal dan lambaikan tangan anda pada dakwah kampus!
Itulah yang seharusnya dikatakan oleh para pejuang dakwah kampus -atau dakwah di manapun- yang berada di lini paling depan, yang ketika menemukan kejumudan pada kerumunan -atau lebih baik jika dikatakan barisan- manusia yang berdakwah itu, ia kecewa dan mencoba berlari dari kenyataan yang sebentar lagi akan menggilasnya -menggilas perjuangannya. Lebih baik meninggalkannya bukan? Perjuangan pahit getir di medan dakwah; di sudut kampus, di kajian mushala, di terik jalanan saat aksi, terlalu banyak hempas ketidakpedulian, terlalu sulit menihilkan apatisme. Maka sudah, sudah. Mengambil laptop dan beringsut ke sudut lab adalah pilihan menarik selanjutnya, bukan?
Namun itu memang tidak pernah terjadi. Dan tidak akan pernah. Nyatanya hari ini dakwah kampus tetap berdenyut, kajian tetap berjalan, aksi tetap berlangsung, dan proses penyadaran manusia masih saja ada. Mengapa bisa demikian? Mengapa masih saja ada orang yang tilawah di kantin atau halaman kampus tanpa malu-malu? Mengapa ada yang rela turun ke jalan bersuara tentang Palestina meski tanpa bayaran atau sekedar makan siang? Mengapa masih ada orang yang mau-maunya mengirim sms nasehat dan menunggu untuk ‘pengajian’sore hari di masjid, dan meski yang ia tunggu sampai sore tetap tak ada, dengan lapang dada ia pulang membawa senyuman? Mengapa ada orang-orang seperti itu?
Mudah saja. Sejak seribu empat ratusan tahun yang lalu, orang-orang seperti ini memang jua telah ada. Mengisi sejarah, terus menerus, seperti tercetak dengan takaran tertentu dan tumbuh begitu saja tiap generasi. Inilah makhluk dengan idealisme itu. Inilah bukti adanya nash-nash yang telah mengakar, menancap dalam hati yang bersih, lalu membakar otot dan otak untuk bekerja, bekerja demi sesuatu yang mustahil secara materil, aneh secara kewajaran umum, gila secara rasionalisme modern. Namun itulah dakwah kampus dan orang-orangnya. Menggelora. Menggilas materialisme. Utuh secara hakikat. Dan menuju pada sesuatu yang abadi.
Tak perlulah bicara berbusa, kita semua dapat menemuinya. Mungkin di sudut fakultas kehidupan yang kita tangkap tiap hari, orang itu duduk di sebelah kita saat kuliah, atau di depan kita saat bekerja di lab, atau ia makan bersama beberapa orang di sudut kantin dan kita menatapnya. Bisa jadi orang itu sangat dekat. Namun pertanyaannya apakah bisa orang itu adalah ‘kita’? Apakah kita yang tilawah di sudut kantin? Apakah kita yang berdiri tegak di tengah terik aksi Palestina? Apakah kita yang turut mengaji di sudut mushola, atau turut mengrecoki dan membubarkannya?
Ini yang menjadi pertanyaan. Dan apakah kita menjadi bagian dari orang-orang itu, ataukah kita menjadi bagian lain? Yang patah arang. Yang berhenti berjuang tatkala banyak rintangan. Atau malah menjadi orang yang merecokinya, mencibir, atau ikut-ikut menyoraki ‘kebodohannya’ dengan pongah?
Lebih baik tidak. Atau jika memang kita termasuk bagian yang kedua ini maka bicara tentang kekalahan dakwah adalah suatu yang niscaya. Niscaya terjadi dan mungkin benar-benar digilas. Seperti kejayaan Andalusia yang kini menjadi puing-puing di sudut sejarah Spanyol modern. Seperti Taj Mahal dan masjid-masjid di india yang dikelilingi berhala. Jika kita memilih diam, mengalah, maka kita benar-benar akan kalah.
Merujuk pada ayat ini akan sangat cukup mengingatkan kita :
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” (Al Isra : 7)
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ashif Aminulloh Fathnan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.